Catatan Perjalanan Umroh Bersama Alazis (1): Menguji Kesabaran, Keikhlasan, dan Kerelaan Saling Tolong Menolong karena Lillahi Ta’ala

 Catatan Perjalanan Umroh Bersama Alazis (1): Menguji Kesabaran, Keikhlasan, dan Kerelaan Saling Tolong Menolong karena Lillahi Ta’ala

Jamaah umroh Alazis Yogyakarta saat di Masjidil Haram, Kamis (18/1/2024) malam. (Foto: Taufik Ilham)

PESAN seorang pendamping umroh, tentang sabar, ikhlas, dan saling tolong menolong antarjamaah, terus terngiang di benakku saat perjalanan dari rumah menuju Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo, Minggu pagi 14 Januari 2024. Kenapa Haji Sumaryadi terus menerus mengingatkan para jamaah terkait dengan kesabaran, keikhlasan, dan kerelaan saling tolong menolong antarjamaah.

Ternyata belum sampai di Madinah, apalagi di Mekkah tempat menjalankan rukun umroh, ujian kesabaran, keikhlasan, dan kerelaan saling tolong menolong antarjamaah sudah terjadi. Ujian kesabaran terasakan saat antre cek paspor dan antre toilet di Bandara King Abdul Azis Jeddah. Kemudian juga saat menunggu bus yang mengangkut jamaah dari Bandara ke Hotel Artal International Hotel di Madinah, Arab Saudi.

Jamaah umroh yang sebagian besar sudah sepuh, orangtua, tidak segesit anak-anak muda. Tempat pengecekan paspor, jumlahnya terbatas, tetapi penumpang pesawat yang memasuki Arab Saudi melalui Bandara King Abdul Azis jumlahnya ribuan. Maka diperlukan kesabaran untuk antre. Usai pemeriksaan paspor, jamaah umroh yang dikoordinir Alazis berjumlah 51 orang mencari-cari toilet. Setelah ketemu, jumlah toilet juga terbatas dan yang membutuhkan jumlahnya banyak, maka harus antre, perlu kesabaran.

Soal keikhlasan juga diuji, khususnya bagi jamaah perempuan. Karena jamaah umroh perempuan, tidak bisa masuk ke Raudhoh, sesuai jadwal yang direncanakan. Berdasarkan agenda yang tersusun, jamaah perempuan dijadwalkan memasuki Raudhoh pada Rabu (17/1/2024) malam. Namun sesuai waktu yang ditentukan, jamaah perempuan tidak bisa masuk ke tempat yang mustajab.

Terkait dengan kerelaan saling tolong menolong antarjamaah diuji saat berada di pesawat Garuda dari Soekarno-Hatta Jakarta menuju King Abdul Azis Jeddah. Dalam penerbangan ada seorang jamaah asal Jakarta yang sakit, sesak napah, dan perlu pertolongan medis. Dengan kerelaan hati, Ernawati, jamaah umroh asal Kulonprogo, yang berprofesi sebagai perawat, langsung menolongnya. Mengecek suhu badan, sampai memasang infus seorang jamaah yang sakit.

Baca Juga:  Jurnalisme Pangan

Sikap saling tolong menolong antarjamaah dari rombongan umroh Alazis Yogyakarta layak diacungi jempol. Jika ada salah seorang jamaah yang memerlukan pertolongan, pasti ada yang menolongnya. Sewaktu tiba di Madinah, kursi roda Simbah Dirjo, rusak. Padahal kakek berusia 93 tahun ini perlu kursi roda untuk menjalani rukun umroh, mulai dari miqat di Masjid Bir Ali, thawaf mengelilingi ka’bah dan sa’i dari Shafa ke Marwah. Setelah kursi roda tidak bisa diperbaiki, karena perlu ganti onderdil yang rusak, maka diputuskan untuk beli kursi roda yang baru dan jamaah lain siap membelikan kursi roda.

Mbah Dirjo di Masjid Quba’ dengan kursi roda barunya. (Foto: Wiradesa)

Selanjutnya setelah menjalani perjalanan city tour dan proses ibadah di Kota Madinah dan Mekkah, penulis merasa kondisi fisik ngedrop. Tenggorokan terasa gatal, batuk-batuk, dan hidung meler-meler. Selain itu masih ditambah kaki keluar bintik-bintik merah dan terasa gatal. Saat membutuhkan obat, sejumlah jamaah lain langsung memberikan obat yang diperlukan. Bu Sustini menawarkan obat Acetyl, Bu Nurhasanah memberikan obat Acetyl dan Democolin (flu), Bu Tum menawarkan Komik Herbal, dan Bu Ernawati memberikan obat Loratadine. Sikap saling tolong menolong jamaah umroh ini layak diacungi jempol.

Pendamping jamaah umroh dari Sleman Haji Sumaryadi dan pendamping dari Kulonprogo Haji Bayu Rianto, serta muthowif Taufik Ilham dan Ustadz Rahmatullah Abu Ubayd banyak membantu jamaah, baik selama perjalanan dari Indonesia ke Arab Saudi, maupun saat di Kota Madinah maupun Mekkah. Mereka memberi contoh nyata soal sikap sabar, ikhlas, dan tulus menolong.

Selama perjalanan umroh, jamaah umroh Alazis terus diingatkan pentingnya kesabaran, keikhlasan, dan saling tolong menolong antarjamaah. Sikap sabar, ikhlas, dan tolong menolong tersebut, sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sehingga sikap sabar, ikhlas, dan menolong, perlu terus dijalankan oleh jamaah umroh, dalam menjalani kehidupan sehari-hari. (Ono)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: