Destinasi Wisata Desa Diharapkan tak Sekadar Jualan Tiket Tapi Juga Jualan Paket Wisata

 Destinasi Wisata Desa Diharapkan tak Sekadar Jualan Tiket Tapi Juga Jualan Paket Wisata

Lurah Salamrejo Dani Pristiawan, narasumber dari Pusat Studi Pariwisata UGM Destha T Raharjana serta Panewu Anom Sentolo Rujito dan Ketua Komunitas Wisata Hijau Lestari Edy Cahyono foto bareng peserta Workshop Strategi Pemasaran Destinasi Wisata Desa. (Foto: Wiradesa)

KULONPROGO – Esensi dari kegiatan pariwisata di desa tak bisa dipersempit semata persoalan hitung-hitungan ekonomi. Kegiatan wisata ke desa diibaratkan sebagai menjahit silaturahmi sehingga selain rekreasi diharapkan wisatawan mendapat nilai tambah.

Hal itu diungkap Dr Destha T Raharjana MSi saat tampil sebagai narasumber Workshop Strategi Pemasaran Destinasi Wisata Desa yang diselenggarakan Komunitas Wisata Hijau Lestari, di Joglo Kilen Lepen, Karangwetan Salamrejo Sentolo, Kulonprogo, Sabtu 13 Januari 2024.

Peneliti dari Pusat Studi Pariwisata UGM itu mengatakan, empat hal mesti digarisbawahi dalam pengembangan wisata desa. Pertama something to see, apa yang mau ditawarkan. Pengelola wisata desa harus memetakan potensi atau daya tarik yang kemungkinan membuat orang minat untuk datang berkunjung. Kedua, something to do. Ada aktivitas yang ditawarkan. Ketiga, something to buy. Destha menyarankan agar para pengelola wisata desa membuat kegiatan dalam sekian jam kunjungan sehingga wisatawan tak sekadar beli tiket tapi mereka juga membeli paket (wisata). Keempat, something to feel. Yakni apa yang dapat dirasakan para tamu ketika berkunjung ke destinasi wisata desa.

“Ketika di desa ada industri kecil tenun maka para tamu dapat mendengar suara mesin tenun. Di Kalurahan Jatimulyo Girimulyo wisatawan dapat merasakan suara burung di Kopi Sulingan. Aroma dan irama di desa satu dengan yang lain akan beda. Di Pentingsari ada Punokawan, di Jatimulyo ada dawet sambal yang jadi identitas,” kata Destha.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mesti memetakan potensi yang dimiliki untuk direkayasa menjadi suatu aktivitas dalam wisata desa.

Destha juga mengingatkan, pentingnya pengelola wisata desa untuk membuat sebuah kreasi event. Ia mencontohkan event Dieng Culture Festival yang awalnya diinisiasi Pokdarwis di Dieng, Wonosobo. Dari semula hanya upacara ruwat memotong rambut gimbal pada anak kemudian dijadikan paket wisata yang bisa menarik kunjungan wisata dan bahkan menarik para sponsor untuk kontribusi.

Baca Juga:  Indahnya Air Terjun, Sungai, Gunung, dan Jalur Kereta Api Kuno dari Tanah Datar Menuju Padang Panjang

Dalam mengembangkan destinasi wisata desa penting pula untuk menampilkan sesuatu yang ikonik. Dari kegiatan ekowisata di Kalurahan Jatimulyo misalnya, hal unik dan ikonik dapat ditemui pada praktik adopsi burung. Pada aktivitas wisata adopsi burung terdapat sebuah nilai dan itu menjadi pembeda.

“Kalau sekadar jualan spot selfi, itu mudah ditiru. Pengelola bisa tetap bikin outbond tapi upayakan bukan outbond yang alakadarnya. Carilah keunikan. Jangan sekadar jualan tiket tapi jual paket,” imbuhnya.

Dalam pengembangan wisata tiga hal juga mesti menjadi perhatian yakni atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Atraksi yakni adanya suatu kegiatan atau aktivitas bagi para wisatawan. Mereka datang tak sekadar melihat tapi bisa mengagendakan suatu kegiatan. Amenitas adalah fasilitas pendukung seperti tempat kuliner, joglo, termasuk juga papan penunjuk lokasi wisata. Aksesibilitas selain jalan penghubung menuju destinasi juga termasuk sarana listrik, ketersediaan air bersih, sarana transportasi publik.

Destha menuturkan, produk desa wisata atau wisata desa di Indonesia saat ini masih banyak yang artifisial bukan otentik. Ditambah dengan story telling yang minim. Di samping itu pengembangan wisata desa rentan duplikasi. Desa wisata seolah terbatas hanya jualan paket outbond, paket camping. Banyak desa wisata tergesa promosi tapi terjebak pada kegiatan yang sifatnya sesaat dan terjebak pada homogenitas.

“Ketika wisatawan tinggal di homestay si pemilik rumah punya kemampuan story telling kuat tentu itu sangat baik. Misalnya bisa menjelaskan asal usul nama desa, legenda desa. Hal itu akan menjadi sesuatu yang sangat menarik dan diingat para tamu,” jelasnya.

Perihal pemasaran destinasi wisata desa, Destha menerangkan perihal branding agar lebih diarahkan kepada pembentukan identitas yang kuat dan membuat progam yang berelasi dengan itu. Program yang dilaksanakan ada kesesuaian dengan branding. Sedangkan kegiatan promosi misalnya dengan cara membuat brosur memakai rumus lima W satu H. Juga pengelola bisa beraviliasi dengan aplikasi medsos yang concern dengan destinasi wisata desa di mana para tamu bisa beli paket wisata desa melalui aplikasi itu.

Baca Juga:  Seribu Batu Songgo Langit, Hutan Wisata Seperti di Negeri Dongeng

Workshop yang didukung Pupuk Indonesia Holding Company diikuti pegiat Pokdarwis juga para pelaku UMKM pariwisata di Kulonprogo. Ketua Komunitas Wisata Hijau Lestari Edy Cahyono mengatakan, workshop diadakan guna menjawab kebutuhan anggota dan pengurus Pokdarwis di wilayah Kulonprogo agar mereka bisa merumuskan strategi memasarkan destinasi wisata desa khususnya di wilayah kalurahan masing-masing.

Selain Destha, tampil berikutnya dua narasumber yakni Antonius Yusef Suhartanto Corporate Secretary PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, serta General Manager Bandara YIA Ruly Artha. (Sukron)

Sukron Makmun

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: