YOGYAKARTA-Perhatian Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (FKPDAS) DIY bersesuaian dengan program di Keraton Yogyakarta khususnya dawuh Ngarsa Dalem dalam menjaga kelestarian lingkungan DAS yang ada di Yogya. Hal itu diungkap RM Gustilantika Marrel Suryokusumo B.A., M.Sc. selaku Kepala Bebadan Pangreksa Loka Keraton Yogyakarta sekaligus dewan pakar FKPDAS DIY.
Mas Marrel, sapaan akrab RM Gustilantika Marrel Suryokusumo, menuturkan, Ngarsa Dalem meminta agar wilayah sungai di lereng Merapi yang banyak mengalami kerusakan akibat masifnya penambangan ilegal supaya dipulihkan kembali lewat program gunung bali gunung.
“Sesuai dengan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, dalam tata kelola kawasan DAS kami mengutamakan pendekatan dari sisi budaya. Melibatkan komunitas, peran serta masyarakat akademisi dan stakeholder lainnya,” kata Mas Marrel dalam Seminar Nasional bertema: pengelolaan DAS berkelanjutan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta mendukung ketahanan air, pangan dan energi yang diselenggarakan FKPDAS DIY, Kamis 5 November 2026.
Di masa lalu, lanjut Mas Marrel, hutan jadi hutan produksi yang menghasilkan kayu, karet dan lainnya pengelolaan dan pemanfaatan banyak dimonopoli kaum penjajah. Oleh karena itu pihaknya berupaya menelusuri sejarah bagaimana pengelolaan hutan Yogyakarta pada zaman dulu termasuk eksplorasinya.
Keraton bergandengan tangan dengan berbagai pihak termasuk para pegiat lingkungan hidup mendukung berbagai program lingkungan hidup, memanfaatkan hutan produksi sinergi dengan pertanian dan peternakan. Agar wilayah hutan bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat tanpa merusak hutan. Concern pada konsep zero waste, menanam tanaman yang bisa hidup di lahan kering di musim kemarau, hingga mengolah menjadi biomassa atau bioenergi.
Dia mencontohkan, di wilayah Gunungkidul yang permukaan lahannya kering dilaksanakan penanaman indigofera yang bisa tumbuh di musim kemarau dengan luasan mencapai 30 hektar dari rencana ke depan mencapai 100 hektar.
“Dalam hal ini, keraton sebagai pusat budaya tak hanya sebagai pengingat sejarah tapi juga berupaya fokus kepada masa depan. Apalagi tantangan ke depan dalam bidang lingkungan tak seperti dulu. Di barat perubahan iklim sudah nyata. Di Yogya juga mengarah ke situ. Sebagai negara tropis ancaman global tentang iklim sudah menjadi persoalan yang harus kita hadapi bersama. Maka di keraton tema-tema lingkungan hidup kekinian seperti energi hijau, karbon kredit dan karbon value sudah didiskusikan. Namun dalam tata kelola tetap berpegang pada pendekatan kultur dan ajaran leluhur yang kuat,” ucapnya.
Selain Mas Marrel, hadir Ir Dyah Murtiningsih MHum (Dirjen PDASRH Kementerian Kehutanan), tampil sebagai narasumber pakar hidrologi UGM Prof Dr Ing Ir Agus Maryono IPM ASEAN Eng, serta ketua FKPDAS DIY Dr Masrur Alatas ST MEng dan Muslim Afandi SSos MSi (Sekjen Pusur Institut) serta Kepala Balai BP DAS SOP sebagai moderator Ir Rochimah Nugrahini SHut MSi IPU. Hadir pula Kepala DLHK DIY Kusno Wibowo ST MSi.
Dalam ulasannya Prof Agus Maryono menyampaikan pengelolaan daerah aliran sungai dengan berbasis pada gerakan komunitas mulai dari penanaman pohon, mengelola mata air, sungai dan sempadan sungai, talud ramah lingkungan, pengelolaan drainase ramah lingkungan, memanen air hujan dengan TRAP (Tampung, Resapkan, Alirkan dan Pelihara) untuk memenuhi kebutuhan air bersih, menjaga muka air tanah dan mengantisipasi banjir di hilir.
Dalam restorasi sungai dan reformasi DAS, kata Agus, perlu sebuah gerakan yang terus digerakkan hingga banyak pihak atau lintas sektor turut bergerak bersama secara sinergi. Gerakan yang perlu digalakkan di masyarakat misalnya injeksi sumur dengan air hujan sehingga kualitas air tanah naik, tinggi air tanah juga naik. Tiap kalurahan bisa digerakkan agar mempunyai industri air kemasan yang sumber air dipanen dari air hujan dan mata air. Gerakan revitalisasi danau desa juga penting dilakukan sebagai penampung air hujan. Keberadaan danau kecil-kecil di tiap desa lebih bagus daripada membangun bendungan besar. Langkah mengedukasi masyarakat agar punya water culture tak kalah penting. Dulu nenek moyang bikin balong atau embung sekitar ditanami aneka pepohonan. Tradisi bikin balong dan menanam sekitarnya sekarang telah hilang.
Sementara itu Ketua FKPDAS DIY Dr Masrur Alatas ST MEng dalam pengelolaan DAS butuh langkah yang menthes dan mumpuni agar bisa berdampak terhadap DAS dan masyarakat. Dalam tiga tahun ini FKPDAS DIY merangkul banyak pihak, berkolaborasi, sinergi dan saling menguatkan. Pengelolaan DAS berkelanjutan kesadaran pemikirannya tak lepas dari ruh Hamemayu Hayuning Bawana. Melindungi, memelihara keselamatan dunia lahir maupun batin.
Masrur mengajak semua elemen masyarakat khususnya di Yogya wajib memelihara sungai dan DAS karena merupakan sumber hidup, penghidupan dan kehidupan.
“Kita pelihara DAS, sehingga siklus hidrologi air berjalan dengan baik untuk menjaga kelestarian air tanah. Hutan harus lestari, DAS harus sehat, sehingga air meresap dengan baik, maka cadangan air tanah akan terjaga, mata air akan sehat kualitas dan kuantitasnya kebutuhan air tercukupi, sehingga sungai akan sehat, ikan dan ekosistem terjaga, air pada sistem irigasi tercukupi sampai petak tersier, panen sukses ketahanan pangan tercapai, energi terbarukan mikrohidro berjalan dengan baik, air mengalir ke laut dan akan kembali terus berputar pada siklus,” ujar Masrur sembari mengingatlan kerusakan akibat alih fungsi lahan di sekitar DAS akan berakibat air run off yang mengalir terlalu tinggi, erosi dan banjir di hilir. Kerusakan hutan dan daerah aliran sungai (DAS) dapat mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air hujan, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan menurunkan ketersediaan air tanah.
Masrur menambahkan resapan air ke tanah sangatlah penting. Langkah yang bisa dilakukan individu misalnya membuat sumur resapan, biopori. Juga membuat mikrobio jogangan atau mijongan.
“Mijongan adalah solusi pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos, untuk menjaga agar sampah organik tidak mencemari lingkungan dan sungai,” imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut, Masrur menyampaikan sejumlah kegiatan FKPDAS yang terlaksana sepanjang 2026. FKPDAS DIY juga tengah fokus mendorong rampungnya Pergub Insentif dan berupaya membangun konsorsium dengan perguruan tinggi dan sekolah. (Sukron)






