Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓

Sugiyanti Lurah Terpilih Baturetno Menjaga Omongan

Sugiyanti saat menerima kunjungan pendiri Wiradesa Group Sihono HT di rumahnya Pelem Kidul RT 06, Baturetno, Banguntapan, Bantul, Kamis (15/10/2026). (Foto: Wiradesa)

Lurah Terpilih Baturetno, Sugiyanti, terus berusaha istiqomah, menjaga hati, mengasah empati, dan menjaga omongannya. Karena, apa yang dikatakannya, sering menjadi kenyataan.

Makanya, ketika mendengar ada calon lurah lain dan keluarganya mengancam-ngancam dan mengatakan orang yang berkhianat kepadanya akan jatuh sakit, Sugiyanti hanya terdiam, mengelus dada, sambal berucap “Astaghfirullahaladzim”.

Menjadi pemimpin, seperti menjadi lurah itu amanah dari warga dan tentu saja tidak lepas dari skenario Yang Maha Kuasa. Tanggungjawabnya besar dan berat. Apa yang dijalankan, tidak hanya dipertanggung-jawabkan di dunia saja, tetapi juga di akhirat. Sehingga aneh, jika beban berat itu ingin diraih dengan ngancam-ngancam. Apalagi mengintimidasi masyarakat.

Bagi Sugiyanti, kemenangan saat pemilihan lurah Baturetno pada Minggu 4 Oktober 2026 itu sejatinya kemenangan rakyat, kemenangan masyarakat, atau kemenangan warga Baturetno. Maka biarlah warga bersuka ria, mengungkapkan isi hatinya, dan mensyukuri atas kemenangan calon yang didukungnya.

Sepuluh hari lebih, sejak Sugiyanti dinyatakan menang, setiap malam ada ratusan warga yang mendatangi rumahnya di Pelem Kidul RT 06. Mereka datang dari padukuhan-padukuhan yang ada di wilayah Kalurahan Baturetno. Ada yang jalan kaki, mengendarai motor, mobil, bahkan ada yang datang bersama rombongan naik kereta odong-odong.

Baca Juga:  Kades Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi Penggagas Kongres Kebudayaan Desa 2020

Warga yang menyapa lurah itu bukan direkayasa atau direncanakan, tetapi spontan dan berlangsung begitu saja. “Sebenarnya apa yang saya katakan saat menyampaikan visi dan misi di hadapan warga Baturetno itu, program 100 hari kerja saya, salah satunya lurah menyapa warga,” ujar Sugiyanti saat menerima kunjungan wartawan Wiradesa.co ke rumahnya, Kamis 15 Oktober 2026.

Ternyata memang benar, apa yang dikatakan atau omongan Sugiyanti menjadi kenyataan. Bahkan tidak harus menunggu kerja atau pelantikan, programnya sudah berjalan sebelum 100 hari kerja. Cuma yang terjadi sebaliknya, bukan lurah menyapa warga, tetapi warga yang menyapa lurah. Sungguh luar biasa dan menyentuh hati.

Meski lelah dan capai, Sugiyanti tetap sabar menyalami ratusan warga yang datang ke rumahnya, setiap malam. Mantan Dukuh Pelem ini mendengarkan keluhan dan harapan masyarakat. Umumnya warga mengeluh dengan sikap pemimpin yang arogan dan tidak melindungi semua warga. Sedangkan harapannya ingin mendapat pelayanan yang baik dan kehidupan perekonomian membaik.

Harapan warga tersebut sesuai dengan visi dan misinya saat mencalonkan diri sebagai Lurah Baturetno. Untuk pelayanan, dalam program 100 hari kerja, akan dijalankan call center pelayanan. Direncanakan pelayanan berbasis teknologi terkini agar masyarakat mudah dan cepat memperoleh pelayanan.

Baca Juga:  H. Parja, Lurah Bangunjiwo: Maksimalkan Potensi Desa dan UMKM
Sugiyanti. (Foto: Wiradesa)

Sedangkan terkait dengan perekonomian, dalam program 100 hari kerja, Sugiyanti akan menginventarisasi aset-aset desa. Ternyata sekali lagi, apa yang diomongkan Sugiyanti benar-benar terjadi. Belum dilantik saja, seorang pamong kalurahan (carik), sudah mendatangi rumah lurah terpilih untuk ngurus tanah pelungguh dan tanah pengarem-arem.

Tentu saja, Sugiyanti tidak bisa bicara banyak. “Wong dilantik aja belum, kok disuruh ngurus tanah pelungguh,” ujarnya lirih. Sekarang yang menjadi pikirannya, bagaimana mewujudkan apa yang diinginkan masyarakat. Bukan pikiran, kita mendapatkan apa.

Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Baturetno, Sugiyanti ingin Baturetno menjadi destinasi wisata pilihan di wilayah Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mantan Kaur Keuangan Danarta Kalurahan Baturetno ini mengungkapkan di Baturetno ada 20-an pemilik andong (angkutan tradisional), ada pembuat gamelan (alat musik tradisional), ada pembuat sagon (makanan tradisional), dan lainnya.

“Jika potensi wisata tradisional ini dikemas dengan baik dan menarik, maka saya yakin bisa menjadi paket wisata menarik,” tegas Sugiyanti. Impiannya, para wisatawan yang datang ke Baturetno, naik andong berkunjung ke perajin gamelan, perajin kulit sapi, dan perajin lain, serta belanja produk UMKM warga Baturetno.

Baca Juga:  Seniman Gita Gilang: Rintisan Kalurahan Budaya Harus Sadar dan Menggali Ilmu

Selain itu, juga ada padukuhan yang dulu banyak tanaman buah, seperti Padukuhan Pelem dulu banyak tanaman buah Pelem (Mangga) dan Padukuhan Manggisan, dulu banyak tanaman buah Manggis. Jika tanaman Mangga dan Manggis varietas lokal (tradisional) ditanam lagi, maka Padukuhan Pelem dan Padukuhan Manggisan bisa menjadi destinasi wisata petik buah Mangga dan Manggis.

Sebagai warga, kita sudah menentukan pilihan dan pilihannya jatuh pada Sugiyanti, seorang ibu yang lahir di Bantul 5 September 1966. Dia sudah tertempa hidup bermasyarakat, sebagai organisatoris selama 5 tahun di Karang Taruna Desa Baturetno (1981-1986), Dukuh Pelem selama 24 tahun (1986-2010), dan Kaur Keuangan Danarta Kalurahan Baturetno selama 16 tahun (2010-2026).

Pengandiannya kepada masyarakat, tidak perlu diragukan. Empatinya terhadap rakyat kecil sudah terasah. Kini tinggal membersamainya untuk merealisasikan program-program yang telah direncanakan. Jika lupa, ingatkanlah. Jika salah, benarkanlah. Mohon jangan direcoki oleh upaya-upaya untuk kepentingan pribadi. (Ono)

Tinggalkan Komentar