Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓
Kolom  

Menunggu Kabar Baik

Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)

Hendry Ch Bangun

PADA saat ini banyak masyarakat kita yang menunggu kabar baik. Keluarga lima wartawan yang meliput letusan Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda, yang hilang dan memasuki pekan ketiga, masih berharap ada kabar baik meskipun mereka sudah melakukan tabur bunga di Selat Sunda dan ikhlas menerima bahwa yang ditunggu-tunggu mungkin sudah tidak hidup lagi.

Dengan adanya informasi resmi bahwa jenazah salah satu kru Arupadatu 1, Surakhman, ditemukan terseret ombak di Pulau Enggano, Bengkulu, Rabu (23/9) maka ada harapan tujuh lainnya akan menyusul ditemukan pula.

Begitu pula pikiran yang tercetus di kalangan masyarakat pers yang bersama Dewan Pers sebelumnya melakukan doa bersama di Kebon Sirih hari Senin (21/9). Walaupun hanya setipis kulit ari optimisme harus tetap kita pelihara agar akan datang yang terbaik baik bagi keluarga wartawan M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhistiro, Firdaus, Donal. Begitu pula kru kapal Warta dan Heriyanto.

Forum Wartawan Kebangsaan, Kamis kemarin merilis harapan agar Kontingen Indonesia yang berpartisipasi di Asian Games Aichi-Nagoya, Jepang, mendulang medali emas pertama agar tidak kalah dari negara tetangga ASEAN, Myanmar, Thailand, Singapura.

Ternyata doa itu terkabul ketika tim beregu putra bulutangkis mengalahkan RR Cina d final dengan skor 3-2 meskipun sempat tertinggal 0-2. Posisi di klasemen peraih medali langsung membaik.

Kemenangan ini mengulang prestasi dalam Asian Games Bangkok 1998. Pencapaian luar biasa dari olahraga kebanggaan Indonesia yang selalu menjadi andalan kita di olahraga multievent dari SEA Games sampai ke level Olimpiade.

Tadi malam, ada lagi kabar baik. Tim sepakbola Indonesia, di pertandingan pertama ASEAN Cup di Gelora Bung Karno Jakarta, mencatatkan kemenangan pertama atas Singapura dengan skor 2-0 yang meyakinkan. Puluhan ribu orang, termasuk Presiden RI ke-7 Joko Widodo, bergembira ria menyambut keberhasil tim Merah Putih.

Di tengah kondisi ekonomi sulit oleh sebagian besar masyarakat, kabar baik di atas bagaikan setetes air embun yang menyejukkan. Otak kita yang hampir setiap saat menyaksikan secara visual ataupun membaca berita-berita yang bikin sakit kepala, kabar positif membuat otak dan pikiran sedikit menjadi dingin. Ada jeda. Ada kesempatan menarik nafas. Dan mengalihkan diri dari situasi emosional yang merusak dan membuat overthinking.

Baca Juga:  Harapan dari Hari Pers Nasional

Bagi media dulu ada adagium bad news is good news. Kabar buruk justru bagus bagi media karena dia tidak perlu susah-susah, nggak perlu repot mencari topik untuk diberitakan. Apakah itu gunung meletus, gempa bumi, kebakaran, kapal tenggelam, kecelakaan beruntun, longsor, dst, media langsung punya bahan untuk dijual ke khalayak.

Tentu informasi harus dilengkapi, dicarikan konfirmasi, ditambahi pendapat pakar, diupayakan membuat cerita eksklusif tentang korban, atau ilustrasi untuk menambah daya tariknya. Tetapi setidaknya ada bahan.

Saat pelaksanaan uji kompetensi wartawan kelompok Utama di Universitas Muhammadyah Jakarta pekan lalu, salah satu mata uji adalah melakukan rapat perencanaan Utama dengan kelompok Madya.

Dalam interaksi antara Redaktur dan Pimpinan Redaksi, mereka tidak kesulitaan mencari topik aktual yang sedang trend dan menjadi perhatian publik. Topik ini teorinya nanti akan diteruskan ke reporter lapangan untuk digarap dan disajikan sebagai berita.

Ada banyak yang muncul. Ada tentang kapal Virgo yang tenggelam saat berlayar dari Surabaya ke Banjarmasin dengan banyak korban belum diketemukan. Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang Dirjen di Kementerian ATR/BPN yang merembet ke Kepala Kantor BPN kabupaten, mantan Bupati di Jawa Tengah, dan Dirut sebuah perusahaan pengembang.

Ada pula kontroversi masyarakat penerima Bantuan Sosial karena dimasukkan dalam Desil yang tidak cocok. Ada juga menyambut kedatangan Kapal Induk Garibaldi yang akan dinamai KRI Sriwijaya. Ada kebakaran Hutan dan Lahan yang belum juga bisa diatasi baik itu di Sumatera maupun Kalimantan.

Dan tentu saja hilangnya wartawan peliput erupsi Gunung Anak Kratatau serta Asian Games di Jepang yang sudah mulai berlangsung.

Itu wacana besar, berita tingkat nasional, yang relatif menarik dan penting. Tetapi ada juga berita soal rencana demo buruh di Jakarta, soal rencana pemberlakuan UU Reforma Agraria, adanya pengaduan soal ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming ke Mahkamah Konstitusi, dugaan adanya pemberian uang di Muktamar Nahdlatul Ulama di Jombang, dst. OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara.

Baca Juga:  Kliping Naskah, Harta Karun Seorang Penulis

Dalam UKW, mana yang dipilih tentu sesuai dengan vivi misi serta kebijakan redaksi, dan positioning media tersebut di masyarakat. Apakah dia media nasional, media lokal, media ekonomi, media hiburan, dst.

Poinnya di sini adalah begitu banyak informasi yang berseliweran di udara sehingga tidak sulit untuk mendapatkannya. Yang sulit adalah topik apa yang sesuai dengan keinginan pembaca, dan garapan seperti apa yang sesuai minat audiensnya. Lebih lanjut lagi, apakah bad news masih disukai?

Di tengah himpitan kehidupan, akankah kabar baik sekarang lebih diperhatikan? Perusahaan pers sebaiknya melakukan survei audiensnya secara berkala untuk dapat menangkap kemauan mereka., agar berita dari media sesuai ekspektasi audiensnya.


Kabar baik, atau kabar buruk, yang jatuh dari langit tentu tidak dapat kita perkirakan. Blessing in disguise. Rezeki nomplok tidak selalu datang. Itulah perlunya perencanaan, membuat kalkulasi, mencari tahu dari para pakar di perguruan tinggi maupun lembaga, dan berbicara dengan masyarakat dari berbagai lapisan dan wilayah.

Tetapi yang sudah bisa ditunggu sesuai jadwal misalnya event Asian Games di Jepang, turnamen sepakbola ASEAN Cup di Jakarta. Dinyanyikannya Indonesia Raya di arena olahraga Aichi-Nagoya akan menjadi tanda bahwa ada medali emas bagi kontingen Indonesia. Akan meledak luapan kebahagiaan Menpora Erick Thohir, atau Wakil Menpora Taufik Hidayat, yang mengawal para atlet bertanding di berbagai stadion.

Kemenangan Ole Romeny dkk yang terus menerus sampai ke partai puncak, sedikit banyak akan memberikan efek positif, tidak hanya bagi mereka yang nonton langsung di Senayan, tetapi juga bagi jutaan penggemar sepakbola di seluruh pelosok Indonesia.

Apa kabar baik yang lain?
Bagi masyarakat umum, daftarnya akan amat sangat panjang. Bagi para supir truk, cukupnya stok solar di setiap SPBU sehingga mereka mudah mengisi tangki, akan membuat perjalanan mereka tidak perlu tertunda 12-24 jam karena antre. Bagi rumah tangga dan para petani yang kekeringan karena El Nino, turunnya hujan entah karena modifikasi cuaca atau kemurahan alam, akan mengurangi penderitaan.

Baca Juga:  Pesona Tahun Baru

Bagi ibu rumah tangga, harga produk makanan pabrik dan hasil pertanian yang terus naik, apabila harganya turun atau stabil, akan meringankan dompet belanja.

Bagi korban PHK akibat perusahaan bangkrut dan sarjana pencari kerja, lowongan yang semakin banyak, tentu akan memperbesar peluang mereka untuk bekerja dan tidak lagi menjadi pengangguran. Bagi pedagang keliling, warung-warung di perumahan, kafe di pusat kuliner, banyaknya yang bekerja akan menciptakan daya beli dan geliat ekonomi meningkat membuat masyarakat mau belanja sehingga usaha mereka pun bisa berputar.

Pengelola media dan pekerja media sendiri, kabar baik itu tampaknya masih amat jauh. Semakin sering terdengar terjadinya rasionalilisasi, pensiun dini, pengurangan staf, karena biaya operasional cenderung meningkat sementara pendapatan cenderung menurun.

Penyebabnya adalah pengeluaran Kementerian, lembaga, Perusahaan swasta, BUMN, untuk pencitraan dan promosi masih ada. Tetapi 80 persen sudah diambil platform global dan media sosial, yang tidak mengeluarkan duit untuk memproduksi berita sebagaimana media massa.

Dengan kondisi ini tentu saja pekerja media menjadi korban pertama. Pilihannya berhenti, atau gaji dikurangi, sementara kebanyakan wartawan tidak memiliki kompetensi memadai selain mencari dan memproduksi berita. Secara mental, tidak mudah mendadak menjadi konten creator atau poadcaster yang handal, apalagi persaingan kian sengit.

Maka sebagai wartawan atau warga negara Indonesia yang sedang dilanda berbagai keruwetan menonton sepakbola ASEAN Cup atau menyaksikan siaran langsung pertandingan multi evet atlet kita di Asian Games Aichi Nagoya, barangkali menjadi satu-satunya penghibur, sekaligus sambil berharap ujungnya berupa kabar baik.

Ya harus tetap optimistis agar tidak merusak mental dan membuat jantung berdegup lebih kencang dan malah kena stroke. Wallahu a’lam bhisawab. ***

Ciputat, 25 September 2026.

Tinggalkan Komentar