Cinderamata Kopi Amungme dan Batu Tembagapura dari Mimika

 Cinderamata Kopi Amungme dan Batu Tembagapura dari Mimika

Kopi Nemangkawi dan batu tambang Tembagapura. (Foto: Wiradesa)

Ada dua cinderamata yang diterima wartawan Wiradesa Group saat berkunjung ke Mimika, Papua Tengah, 12-16 Desember 2023. Dua barang berharga ini, kopi Amungme dari pegunungan Nemangkawi dan bongkahan batu mengandung mineral permata dari Grasberg, Tembagapura, Mimika.

Usai mendarat di Bandara Mozes Kilangin Mimika, Selasa (12/12/2023) pukul 08.30 WIT, kami dijemput sejumlah wartawan Mimika, antara lain Sianturi, Selvi, Indri, Tommy, Santi, Jerry, Alqadri, dan langsung menuju Kuala Kencana, kawasan kota di tengah hutan yang dibangun Freeport Indonesia.

Perjalanan dari Kota Timika menuju Kuala Kencana sungguh menarik untuk dipaparkan. Ada perbedaan yang kontras saat melewati jalanan kota Timika dan masuk kawasan Kuala Kencana, kota yang dibangun Freeport. Setelah panas dan semrawut, lantas sejuk dan tertata rapi. Selengkapnya baca pada tulisan “Menghirup Oksigen Kuala Kencana Freeport Indonesia”.

Sesampai di kawasan kota tengah hutan yang dibangun Freeport, kami diterima Karel Luntungan, Media Relasi Freeport Indonesia Papua. Sambil minum kopi di bawah rerimbunan hutan tropis, Karel menjelaskan Kuala Kencana, sebuah kota ramah lingkungan, yang diresmikan pada 5 Desember 1995.

Setelah ngobrol tentang tambang Grasberg, jalan di medan tersulit di dunia, dan tambang bawah tanah terbesar di dunia, Karel memberikan dua bungkus kopi Amungme Gold kepada para wartawan yang berkunjung ke Kuala Kencana. Satu bungkus, kopi yang sudah dihaluskan dan satu bungkus, biji kopi atau belum dihaluskan.

Kopi Amungme berasal dari tanaman kopi yang ditanam di wilayah pegunungan Nemangkawi. Kopi ini varietas Arabika yang telah dikembangkan di dataran tinggi Papua selama kurang lebih 20 tahun.

Benih kopi diperkenalkan kepada masyarakat Suku Amungme pada tahun 1998. Ditanam secara total dan diproses secara organik. Tanaman kopi ini, tumbuh di tiga dataran tinggi lembah Amungme Papua.

Baca Juga:  Mahasiswa PKL Unsoed Uji Kesuburan Tanah dengan PUTS

Pohon kopi dipupuk menggunakan pohon pengikat nitrogen dan bahan hutan sebagai mulsa alami dan kompos. Tidak ada pupuk impor dan pestisida yang digunakan dalam penanaman dan pengolahan kopi Amungme Gold.

Ruang publik, semacam alun-alun Kuala Kencana berada di tengah hutan. (Foto: Istimewa)

Setelah berkunjung ke Kuala Kencana, kami bertemu dengan para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Bupati Mimika, Dr Eltinus Omaleng SE MH, memberikan bingkisan atau kenang-kenangan berupa bongkahan batu mengandung mineral kekayaan alam Papua.

Bongkahan batu tambang Papua Tengah, sangat bermakna bagi wartawan dari luar daerah yang berkunjung ke Mimika. Namun untuk membawanya ke luar kota Timika cukup sulit. Wartawan Wiradesa, hampir gagal membawa pulang kenang-kenangan dari Pemkab Mimika ke Yogyakarta, karena diminta mengeluarkan bongkahan batu tambang dari koper oleh petugas Bandara Mozes Kilangin.

Untung Selvi, salah satu wartawan yang bertugas di Mimika, memiliki jaringan yang bagus dengan pejabat tinggi di Bandara Mozes Kilangin. Setelah sekitar 30 menit tertahan dan terus dilakukan negosiasi, akhirnya barang berharga itu diperbolehkan dibawa untuk kenang-kenangan wartawan yang telah berkunjung ke Mimika, Papua Tengah.

Akhirnya ada dua barang berharga oleh-oleh dari Mimika, yakni kopi Amongme dan batu bongkahan dari Grasberg Tembagapura. Kopi dan batu permata, dua barang hasil tanah Papua yang sangat bermakna bagi kesejahteraan bangsa Indonesia yang tinggal di tanah Papua. (Ono)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: