KOTA Jogja, sejak dulu dikenal sebagai kota seni dan budaya dan bahkan dikenal sebagai ibukota nya seni Indonesia. Karenanya, hampir setiap hari ada pameran karya seni dengan pengunjung ribuan.
Sebagai misal yang masih berlangsung di Jogja Galeri Alun Alun Utara ada pameran seni komunitas Liquid Color, di Benteng Vredeburg Jl Malioboro hari ini (Selasa) ada 1000 anak dan seniman menggambar dan flashmop menggambar, di Studio Kalahan Jl Sidoarum ada pameran tunggal Laksmi Sitaresmi, di galeri Ruang Dalam Art House Rabu (24/5/2023) mulai ada pameran Matayani, di Hotel Grand Rohan Jogja ada pameran tunggal Deni Junaedi (seniman yang dosen ISI Yogyakarta) dan ada juga pameran seni kandungan Al Quran dengan Seniman asal Wonosobo Sugeng Pribadi. Semua pameran untuk umum dan free.
Semalam barusan saja berakhir pameran khusus mengenang 111 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono IX oleh Dini Art Manajemen di Sonobudoyo Yogyakarta.
Drs H Taufik Ridwan selalu direktur Dini Art Manajemen menyampaikan kalau Jogja harus dipertahankan sebagai kota pameran seni. Bahkan sedari usia TK, sekolah harus mau menampilkan karya karya yang mengandung unsur seni dalam sebuah pameran yang tidak harus besar.
Misalnya pameran karya seni TK di sebuah mall. “Pasti apresiasi terhadap anak anak akan memberikan dampak yang luas untuk mental dan kepribadian anak anak di masa depan,” kata Taufik.
Kebiasaan memamerkan karya anak sekolah harus diprogram oleh sekolah dan mendapat dukungan pemerintah. “Karya seni era kekinian pastinya tidak hanya lukisan atau patung manual, tetapi sangat mungkin hasil karya digital tetapi tetap menjadi karya seni,” ujarnya.
Sementara itu dosen ISI Yogyakarta Deni Junaedi S.Sn.M.A mengaku sangat bangga Jogja menjadi barometer karya seni. Dia bahkan menampilkan karya karya seni melalui online, khususnya di IG dan Youtube sangat berdampak kepada orang orang yang menikmati karya seni dan kemudian tergerak untuk mengoleksi.
“Nah pameran yang offline masih sangat dibutuhkan karena kadang orang menikmati sebuah karya harus dengan langsung dengan indra mata dan rasa,” kata Deni Je yang mengelola Painting Explorer Channel ini.
Deni Je dan pelukis spesial menggunakan cat air Teguh Wi merasakan bahagia berpameran dalam tema Rindu Rajaku di museum Sonobudoyo Yogyakarta dan berakhir semalam.
Disamping pengunjung hampir mencapai 3.867 orang, terdapat 42 orang yang mengapresiasi karya dengan bertanya sungguh sungguh atas karya 21 seniman yang ikut serta.
Pada bagian lainnya, H. Dunadi pematung senior Yogyakarta yang ikut serta dalam pameran yang diinisiasi oleh Dini Art Manajemen, Jogja di setiap jengkal tanah adalah media pameran khususnya untuk patung dan atau karya seni tiga dimensi. Patung bukan tempat sesembahan tetapi menjadi media pembelajaran seni, budaya dan sejarah. Ia diletakkan di setiap tempat sebagai pengingat dan cermin sejarah dan bisa juga untuk masa depan.
Dia berpesan, kalau banyak pengusaha memiliki kepekaan untuk menghadirkan patung di banyak tempat maka lengkaplah Jogja dijuluki kota pameran seni dan berkebudayaan.
Pada bagian lain Taufik Ridwan sangat mengapresiasi para seniman untuk berkarya tanpa melihat situasi yang melemah akibat tekanan ekonomi. Karya memang sebaiknya diapresiasi dari para pemilik uang agar roda kehidupan seniman dan seni di Jogja, khususnya tetap berjalan dan memiliki harapan ke depan “Pameran penting, tetapi karya terjual lebih penting,” kata Taufik. (*)







