Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓
Kolom  

Dengan Olahraga Kita Bersatu

Catatan Hendry Ch Bangun (FWK)

Hendry Ch Bangun

Saya tidak tahu bagaimana perasaan Presiden Prabowo Subianto ketika dia bersama Tim Indonesia mengangkat trofi Piala FIFA ASEAN di depan puluhan ribu hadirin di Stadion Gelora Bung Karno, Senin (5/6) malam. Tetapi di layar televisi semua terlihat terharu dan bangga.

Pastilah dia bangga karena kemenangan via adu penalti 4-2 (2-2) itu menorehkan sejarah, ini untuk pertama kalinya Indonesia menjadi juara sepakbola di Kawasan Asia Tenggara setelah 35 tahun. Jutaan rakyat juga bangga, khususnya yang menonton siaran langsung di berbagai pelosok negeri.

Melalui media massa dan media sosial, kita mengetahui nobar dilakukan dimana-mana, bahkan di Jakarta. Begitu Emil Audero Mulyadi berhasil menepis bola dari pemain Thailand di kesempatan keempat, meledaklah kegembiraan masyarakat yang menonton. Mereka melompat, berteriak, bersalaman, berpelukan. Bukan hanya itu ribuan orang dengan sepeda motor berkeliling kota meluapkan rasa bahagia.

Ya kita sudah terlalu lama menunggu, meskipun Ketua Umum PSSI Erick Thohir sudah mencoba resep berkali-kali, termasuk dengan menggunakan pemain-pemain keturunan Indonesia yang bermain di liga Eropa. Entah sudah berapa banyak pelatih asing didatangkan, dari Eropa ataupun Asia, dan akhirnya John Herdman yang menikmati manisnya piala kemenangan.

Tentu saja dari sisi lain akan ada kritik bahwa kemenangan ini bukanlah hasil pembinaan asli Indonesia, belum mencakup pemain-pemain lokal yang bertalenta bagus, berbiaya mahal karena harus mengongkosi pemain Eropa datang dan main di tim nasional. Okelah. Tapi singkirkan itu dulu, mari kita nikmati kegembiraan ini.

Sebab Piala FIFA ASEAN itu membuat hati puluhan juta warga Indonesia berbunga-bunga. Mereka mimpi indah. Mereka bekerja Selasa pagi dengan penuh semangat walaupun mungkin terkantuk-kantuk. Dan khususnya bagi mereka yang keluar uang dengan menonton langsung di Stadion Gelora Bung Karno, unggahan status di media sosial dengan berseragam Merah Timnas, berlatar suasana stadion, membanggakan tiada tara.

Baca Juga:  Selamat Jalan Rekan Wina Armada

Inilah salah satu hasil positif olahraga. Ada harga diri yang naik, ada perasaan senang yang sulit dibandingkan dengan materi atau uang. Khususnya ketika ada berbagai persoalan sehari-hari yang membuat pikiran buntu dan kepala mau pecah.


Stadion Gelanggang Olahraga Bung Karno dan kompleks olahraga Senayan berikut hotel, yang dibangun pada tahun 1962 untuk menyambut Asian Games IV sejatinya petunjuk sejarah paling nyata bagaimana Presiden Soekarno berusaha menjadikan olahraga sebagai kebanggaan bangsa. Indonesia yang nonblok, yang tidak ingin terpengaruh terikut Blok Barat Amerika Serikat-Inggris, atau Blok Timur dengan Uni Soviet, mau mandiri dan unjuk gigi.

Mendatangkan pelatih dari Eropa, memberi pelatihan internasional, Indonesia sukses menduduki peringkat kedua di bawah Jepang. Medali emas 11 keping dihasilkan Mohamad Sarengat, yang juara di lari 100 meter dan 100 meter gawang. Indonesia juga mendapat medali emas di balap sepeda dengan Hendrick Brooks dan 2 emas beregu (Aming Priyatna, Wahyu Wahdini dan Hasyim Rusli), loncat indah dengan Lanny Gumulya. Lalu 5 emas bulutangkis melalui Tan Joe Hok, Minarni, Minarni/Retno Kustijah, plus beregu putra (bersama Ferry Sonneville, Tutang dll) dan putri (plus Happy Herawati, Corry Kawilarang dll).

Indonesia tidak hanya menjadi pemimpin disegani di dunia politik dengan Bung Karno sebagai tokoh Gerakan Non Blok bersama Chou En Lai, Gamar Abdul Naser, Joseph Broz Tito, Nehru. Tetapi juga Berjaya di olahraga. Bahkan melangsungkan Games of New Emerging Forces (Ganefo), setelah Indonesia absen di Olimpiade Tokyo, walau event itu akhirnya hanya terselenggara dua kali karena berbagai masalah.

Di level yang berbeda, Indonesia yang bergabung di pesta olahraga multi event Asia Tenggara SEA Games pada tahun 1977 (dari sebelumnya South East Asia Peninsula Games, SEAP Games) juga langsung menjadi juara umum, sampai terhenti pada tahun 1985 di Bangkok. Program Presiden Soeharto “Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat” terbukti berhasil menciptakan hasil pembinaan olaraga berjenjang di seluruh Indonesia.

Baca Juga:  Wartawan dan Moralitas

Ada puluhan pemusatan latihan daerah di provinsi, ada kejuataan mulai dari tingkat sekolah (Popsi) , perguruan tinggi (POM), banyak kejuaraan Yunior, dan ada sekolah olahraga Ragunan, sehingga atlet muda tidak ragu hijrah ke Jakarta. Berlatih pagi dan sore, serta sekolah umum sebagai pelajar untuk bekal menjadi mahasiswa dan kuliah.

Pada masa itu pemerintah menjadikan olahraga menjadi bagian penting untuk membangun semangat dan karakter bangsa. Ada yang mengatakan, itu sengaja dilakukan Orde Baru, agar rakyat sibuk dan tidak terbawa masuk ke dunia politik. Tidak salah. Tetapi di sisi lain, pada masa inilah pula bangsa Indonesia bangga karena berkali-kali menjadi juara Piala Thomas dan Piala Uber, menjadi negara nomor satu di Asia Tenggara. Indonesia untuk pertama kali merebut medali emas di Olimpiade Barcelona 1992, setelah medali perak di Olimpiade Seoul 1988.


Keberhasilan mendapatkan 5 medali emas di Asian Games Aichi Nagoya melalui cabang angkat besi, panahan, panjat tebing, dan ganda putra serta beregu putra bulutangkis, menunjukkan bahwa pembinaan olahraga Indonesia berada di jalur yang tepat. Yaitu berhasil juara di cabang olimpik, yang dipertandingkan di event olimpiade.

Termasuk tentu saja medali perak dan perunggu di cabang olimpik menembak, dayung, voli pantai, panahan, bulutangkis, balap sepeda. Atlet atletik, renang, belum berhasil membawa pulang medali, tetapi peringkat mereka di Asian Games 2026 menjanjikan. Apabila ditangani dengan tepat maka empat tahun mendatang peluang mereka sangat besar. Menjadi terbaik itu membutuhkan waktu panjang, baik melalui latihan intensif maupun tampil dalam kejuaraan di tingkat internasional.

Baca Juga:  Pancing, Dahan Salak, Cangkul, dan 15 Tahun Menjadi Anak Sungai

Evaluasi dari kontingen Indonesia di Asian Games 2026 harus membuat Kementerian Pemuda dan Olahraga membuat rekomendasi pembinaan berkelanjutan kepada induk-induk organisasi olahraga. Dibuat peta jalan, disiapkan anggaran, dan pelatnas multi years.
Kalau dulu ada cabang olahraga prioritas, sudah saatnya KONI sebagai kordinator membuat garis batas tegas, mana yang sangat penting, penting, dan kurang penting. Mana yang dibiayai penuh, mana subsidi, mana pembiayaan mandiri. Kondisi keuangan negara yang belum bisa memberikan anggaran maksimal, membuat kita harus berani membuat pilihan.

Di sinilah juga peran pers, agar terus mengawal pembinaan olahraga supaya berada di jalur yang benar. Bukan soal like dan dislike. Bukan soal pembinanya orang penting atau berpengaruh atau sekadar pengusaha. Walaupun saat ini pengaruh media massa berkurang karena makin masifnya informasi dari media sosial, kebenaran harus tetap diungkapkan sebagai bentuk kontrol agar olahraga tidak berjalan seperti lagu, serong ke kanan sering ke kiri, tergantung selera.

Sukses Tim Indonesia merebut PIALA FIFA ASEAN dan keberhasilan melampaui target perolehan media emas di Asian Games Nagoya Aichi, menunjukkan kita bangsa juara. Kita bisa menang dan berhasil kalau pelaku olahraga bekerja sungguh-sungguh sampai titik darah penghabisan. Masyarakat memberikan dorongan semangat dan kontribusi agar atlet dan pelatih termotivasi untuk memberi pencapaian terbaik. Dan pemerintah sebagai pengayom memberikan dukungan anggaran (bisa dibantu swasta) sesuai kebutuhan.

Kesuksesan di bidang olahraga juga kesuksesan bangsa dan negara. Mari bahu membahu untuk kejayaan Indonesia. Merdeka. (*)

Ciputat, 6 Oktober 2026

Tinggalkan Komentar