Jurnalisme Pangan

 Jurnalisme Pangan

Foto Sihono HT menunjukkan belimbing Bangkok merah.

Oleh: Sihono HT (Founder Wiradesa dan Penggagas Jurnalisme Pangan)


WIRADESA telah berhasil merumuskan jurnalisme pangan. Paham jurnalistik ini segera disosialisasikan dan diterapkan pada portal Mandiripangan.com (Wiradesa Group). Diharapkan dengan penerapan aliran jurnalistik ini, selain bisa memecahkan persoalan kesejahteraan wartawan, juga bisa menginspirasi masyarakat untuk mengupayakan pangannya sendiri dan mampu berwirausaha di bidang pertanian dan pangan.

Apa itu jurnalisme pangan? Apa saja obyek liputan dan narasumber kompeten? Apa saja karya jurnalistik peduli pangan? Bagaimana cara membuatnya? Pertanyaan-pertanyaan ini yang akan dijawab pada pendidikan dan latihan (diklat) jurnalisme pangan yang diselenggarakan Tim Wiradesa.

Secara singkat, jurnalisme pangan adalah sebuah aliran atau paham jurnalistik yang fokus liputannya pada hal-hal yang terkait dengan bidang pertanian dan pangan. Baik tema, topik, latarbelakang, sudut pandang (angle), narasumber, pertanyaan, dan apa yang disajikan mencerminkan kepedulian terhadap pangan.

Obyek liputannya meliputi informasi pangan (kabar). Misalnya info terkini (aktual) mengenai harga kebutuhan pangan, ketersediaan pangan, kebijakan terkait pangan, dan lainnya. Kemudian usaha di bidang pertanian (sawah), perkebunan (kebun), peternakan (kandang), petani atau peternak yang sukses (teladan), dan akademisi, ahli pangan (pakar).

Narasumber peduli pangan, meliputi: pelaku (petani, peternak), birokrat atau aparat pemerintah (Menteri Pertanian, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan), dewan (legislatif) khususnya komisi yang membidangi bidang pertanian dan pangan. Kemudian akademisi (pakar, ahli pangan) dan aktivis (LSM peduli pangan).

Karya jurnalistik peduli pangan, yang dirumuskan Tim Wiradesa meliputi: tulisan, foto, video, dan grafis. Tulisan bersifat informatif, teknis, analisis usaha, inspiratif. Foto menggambarkan visualisasi kegiatan budidaya di bidang pertanian dan pangan. Video memadukan unsur visual, suara, dan teks soal pangan. Grafis menyajikan data dengan teknik infografis.

Baca Juga:  Mandirikan Desa

Elemen masyarakat yang diharapkan mengikuti pendidikan dan latihan jurnalisme pangan, selanjutnya melaksanakan, dan mengembangkannya, antara lain para jurnalis atau wartawan yang berkarya secara rutin di 34 provinsi di Indonesia. Kepala/Staf Humas Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan di tingkat kabupaten dan provinsi se Indonesia.

Juga mahasiswa pertanian dan program studi yang terkait dengan pangan (pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan) perguruan tinggi. Para aktivis/anggota LSM yang peduli dengan pertanian dan tanaman pangan. Kemudian juga masyarakat umum yang peduli bidang pertanian dan tanaman pangan.

Diharapkan peserta diklat jurnalisme pangan mengetahui: apa itu jurnalisme pangan. Mengerti obyek liputan dan narasumber kompeten. Paham macam atau jenis karya jurnalistik peduli pangan. Mengetahui teknik dan cara pembuatan karya jurnalistik peduli pangan.

Setelah mengikuti diklat jurnalisme pangan, diharapkan peserta mampu membuat karya jurnalistik peduli pangan, dalam bentuk: Tulisan (bersifat informatif, teknis, analisis, dan inspiratif). Foto (visualisasi pesan, ada aktivitas manusia = pangan/sumber pangan + manusia/sumberdaya manusia + produk/hasil pangan (PMP). Video (memadukan unsur visual, teks, suara). Grafis (infografis data).

Karya para peserta dipersilahkan diunggah di media masing-masing atau di media yang telah disediakan Wiradesa Group, yakni Mandiripangan.com. Media siber dengan tagline “Wong Nandur Bakal Ngunduh (Orang Menanam Akan Menuai Hasilnya)” ini menyajikan delapan menu rubrikasi: Kabar, Sawah, Kandang, Kebun, Kolam, Teladan, dan Pakar.

Hasil karya peserta diklat jurnalisme pangan diharapkan akan diakses atau dikonsumsi masyarakat luas. Selanjutnya masyarakat terinspirasi untuk bertani, berternak, berkebun, berbudidaya ikan, dan berwirausaha di bidang pertanian dan pangan.

Dengan melaksanakan dan mengembangkan jurnalisme pangan, semoga masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (makanan) sendiri. Menanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam. Memanfaatkan lahan, mengoptimalkan pendapatan. Sasarannya, masyarakat mandiri pangan. Berdaulat di bidang pangan. Syukur mampu berbisnis di bidang pertanian dan pangan. Jayalah Indonesiaku. Sejahteralah bangsaku. (*)

Baca Juga:  Buruh Ngarit, Pahlawan Pangan Lokal

(Bagi yang berminat menyelenggarakan Diklat Jurnalisme Pangan, silahkan mengajukan permohonan melalui surat ke email onojogjaofficial@gmail.com).

Redaksi

Mandirikan Desa Sejahterakan Rakyat

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: