Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓

Kualitas Bibit Tentukan Keberhasilan Produksi Pembesaran Ikan Lele

Puluhan kolam terpal bulat yang dikelola Pokdakan “Alam Tirto” di Padukuhan Duwet 2, Banjarharjo, Kalibawang, Selasa (6/10/2026). (Foto: Wiradesa)

KULONPROGO – Setidaknya ada tiga faktor yang menentukan keberhasilan produksi budidaya ikan, khususnya usaha pembesaran ikan lele. Ketiga faktor penentu itu, meliputi kualitas bibit, pakan, dan air. Tentu saja, juga dengan kualitas pembudidaya (sumberdaya manusia).

Dari ketiga faktor tersebut, kualitas bibit sangat menentukan keberhasilan produksi ikan lele. “Jika dipersentase, 50 sampai 60 persen keberhasilan pembesaran lele ditentukan oleh kualitas bibit,” ujar Mokhamad Karir, pembudidaya ikan lele di Padukuhan Duwet 2, Banjarharjo, Kalibawang, Sabtu 3 Oktober 2026.

Mokhamad Karir yang sejak tahun 2019 atau sudah 7 tahun menekuni budidaya lele, kini fokus untuk pembesaran. Pernah juga usaha pembibitan, tetapi hasilnya tidak maksimal, karena tidak fokus. “Sekarang fokus dulu ke pembesaran, karena lebih menguntungkan untuk saat ini,” ujarnya, Senin 5 Oktober 2026.

Untuk pengadaan bibit, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) “Alam Tirto” ini membeli dari pembudidaya bibit di sekitar Magelang. Mokhamad Karir bersama tujuh petani yang tergabung dalam satu kelompok pembudidaya ikan mengaku belum menguasai tentang pembibitan dan perawatan induk.

Baca Juga:  Rektor 32 Perguruan Tinggi Serukan Pemilu Berkualitas

Terkait indukan ini, pembudidaya bibit lele, Ganang Aditya, menegaskan bibit yang bagus pasti berasal dari indukan yang unggul. Indukan yang berkualitas bagus umumnya teregistrasi, memiliki sertifikat dari instansi atau lembaga terkait.

“Jadi kalau mau beli bibit lele, sebaiknya tahu dulu dari mana indukannya. Jika asal usul indukannya tidak jelas, maka hasilnya juga susah untuk diprediksi,” ujar Ganang Aditya, pembudidaya bibit lele dari Dukun, Muntilan, Magelang.

Setiap hari, anggota Pokdakan “Alam Tirto” Duwet 2, Banjarharjo, Kalibawang, memanen lele untuk memenuhi kebutuhan pedagang yang mengambil lele langsung ke kolam. (Foto: Wiradesa)

Hampir setiap hari, petani yang tergabung dalam Pokdakan “Alam Tirto” memanen ikan lele, untuk memenuhi permintaan pedagang yang datang langsung ke kolam. Bahkan kalau hari Sabtu, biasanya ada tiga pedagang ikan lele dari Sleman, Wates, dan Magelang yang mengambil lele di Sentra Budidaya Lele Terpadu Padukuhan Duwet 2.

Pada Sabtu (3/10/2026) pagi, salah seorang pedagang dari Seyegan Sleman mengambil 709 kilogram lele. Kemudian siangnya, pedagang dari Pleret Bantul mengambil 391 kg, dan sorenya pedagang dari Muntilan Magelang mengambil 443 kg. Jadi pada Sabtu lalu, dalam satu hari memanen 1.543 kg.

Baca Juga:  Relawan Seroja, Banser, dan ICK Korwil Delanggu Bantu Pemudik

Harga lele untuk pedagang Rp 21.000 per kg. Sedangkan untuk eceran Rp 23.000 per kg. Jika satu hari bisa memanen 1.543 kg, maka omzet atau pendapatan Pokdakan “Alam Tirto” dalam satu hari mencapai Rp 32.403.000.

Namun Mokhamad Karir, Ketua Pokdakan “Alam Tirto” mengungkapkan produksi lele di kelompoknya rata-rata 569 kg per hari. “Pada bulan September 2026 ini produksinya rata-rata 568 kilogram per hari,” ungkapnya. Jika harga untuk pedagang Rp 21.000 per kg, maka omzetnya satu hari sekitar Rp 11.928.000.

Usaha budidaya ikan lele di perdesaan ternyata cukup menjanjikan untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Contohnya 8 petani yang tergabung dalam Pokdakan “Alam Tirto” di Padukuhan Duwet 2, Banjarharjo, Kalibawang, mampu menghasilkan omzet sekitar Rp 300 juta per bulan. Sehingga budidaya ikan lele, layak menjadi alternatif usaha di perdesaan. (Ono)

Tinggalkan Komentar