Budiono, 58 Tahun Jadi Portir Stasiun Tugu

Pak Budi saat membawakan koper milik penumpang kereta api di Stasiun Tugu Yogyakarta. (Foto: Wiradesa.co)

YOGYAKARTA – Budiono (76 tahun) sudah 58 tahun menjadi portir di Stasiun Tugu Yogyakarta. Sampai sekarang dia masih merasa nyaman tinggal di Kampung Badran, Kalurahan Bumijo, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

“Kampung saya dulu itu terkenal dengan kampung preman,” ujar Budiono saat berbincang dengan Wiradesa.co di peron Stasiun Tugu, Kamis 7 Juli 2022.

Meski di kampungnya dulu dikenal dengan ‘sarangnya’ preman, namun Budiono mengaku tidak pernah memalak. Pak Budi, selalu berusaha mencari rejeki yang halal.

Seperti menjadi portir selama 58 tahun, Pak Budi tidak pernah memasang tarif. Diberi berapapun diterimanya dengan senang hati. “Rejeki udah ada yang ngatur mas,” tegasnya.

Mendapat berapapun dari hasil membawakan koper atau barang milik penumpang kereta api, Pak Budi syukuri. “Alhamdulillah beberapa hari ini ramai,” ungkapnya.

Saat ramai seperti hari-hari terakhir ini, Pak Budi setiap hari bisa mendapatkan penghasilan Rp 150 ribu per hari. Namun kalau hari sepi, untuk memperoleh Rp 20 ribu aja susah.

Baca Juga:  KDEI Taipei Berkomitmen Lindungi Pekerja Migran Indonesia di Taiwan

“Saat masa pandemi kemarin, penumpang sepi banget. Cari uang susah banget,” kata Pak Budi. Meski kondisinya sulit, warga Badran ini tetap pergi ke stasiun untuk mengais rejeki.

Sekarang Pak Budi merasa kondisinya sudah mulai membaik. Penumpang kereta api sudah mulai banyak dan ini berpengaruh positif pada pendapatannya.

Tepat pukul 09.15 kereta api Argo Lawu jurusan Stasiun Gambir Jakarta sudah memasuki. Jalur 5 Stasiun Tugu. Pak Budi bergegas memanggul tas ransel dan koper milik penumpang. Meski wajahnya sudah keriput, tubuhnya tidak sekuat dulu, tetapi warga Badran ini tetap semangat meraih rejeki. (*)

Tinggalkan Komentar