KULONPROGO-Industri pengolahan tahu rumahan relatif tak tergerus zaman di tengah makin beragamnya produk makanan kekinian. Di pasar tradisional, tahu bahkan termasuk produk pangan yang dicari pembeli.
Sutarmin, produsen tahu asal Padukuhan Dhisil Salamrejo, Sentolo Kulonprogo mengakui, tahu olahannya selalu habis terserap pasar. Sutarmin mulai bikin tahu dan menjualnya di Pasar Ngangkruk dan Pasar Sentolo sejak 1993.
“Dulu ikut paman. Tamat SD umur 12 tahun sudah mengamati dan membantu paman mengolah tahu dan kemudian diminta melanjutkan usaha tahu sampai sekarang,” kata Sutarmin, Senin 20 Juli 2026.
Zaman dulu pengantaran tahu menuju pasar masih mengandalkan sepeda kayuh. Kemasan tahu masih memakai daun jati. Tahu zaman dulu, lanjut Sutarmin, memakai kedelai lokal.
“Bedanya lagi dengan sekarang, saat menggiling kedelai, dulu memakai tenaga manusia. Setidaknya butuh tenaga tiga orang. Kalau sekarang urusan menggiling rebusan kedelai mudah karena terbantu mesin giling,” tambahnya.
Meski peminat tahu tak pernah surut, Sutarmin tak menambah volume produksi tahu di rumahnya. Jumlah kedelai yang dimasak sehari terbilang ajek di kisaran 20 kg. Pembuatan tahu dalam seminggu hanya tiga atau empat hari saja. Yakni pada pon, kliwon dan legi. Penjualan sehari berikutnya sesuai hari pasaran.
Pengolahan tahu dimulai sejak dinihari. Diawali perendaman kedelai selama lima jam. Setelah dibersihkan, rendaman kedelai digiling lalu direbus hingga mendidih. Proses berikutnya penyaringan dan diambil patinya.
“Penyaringan diambil patinya. Ampasnya diambil buat pakan ternak sapi. Bisa pula diolah jadi gembus. Sisa beningan pati diambil lalu dicetak. Setelah jadi lalu digoreng. Dan siap jual,” ujarnya.
Sutarmin menjual tahu produksinya dengan harga perpotong. Ukuran terkecil Rp 1000 dapat empat potong. Yang sedang dijual Rp 500 sedangkan ukuran besar dihargai Rp 1000 perpotong. Dengan harga bahan baku kedelai Rp 530 ribu per 50 kg, saban jualan Sutarmin mengantongi laba kotor Rp 200 ribuan.
“Kayu bakar, minyak goreng belum dihitung. Tenaga juga tak dihitung sebab pembuatan tahu hanya dikerjakan berdua bareng istri,” ucapnya.
Selain produksi, urusan pemasaran juga dilakukan berdua. Sutarmin bertugas mengantar tahu sementara istrinya menunggui dagangan tahu di pasar sampai habis terjual di hari pasaran.
“Produksi tahu tak dilakukan setiap hari. Sudah tua jadi tak ngoyo. Kalau lelah istirahat. Sisa waktu untuk ngopeni satu ternak sapi,” pungkasnya. (Sukron)







