YOGYAKARTA – Penyelenggaraan babak penyisihan Grup G Liga 4 Piala Presiden 2026 di Stadion Sultan Agung, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi sorotan publik. Tiga manajer protes keras terhadap wasit yang diduga berpihak ke tim tertentu.
Sorotan publik itu bukan karena keindahan taktik di lapangan, melainkan karena serangkaian keputusan kontroversial korps baju hitam yang diduga berat sebelah. Tiga tim di Grup G melayangkan protes keras atas kejanggalan dalam laga melawan tim tuan rumah klub Unaaha FC.
Binjai City SC memutuskan Walk Out demi keadilan laga antara Binjai City SC melawan Unaaha yang berjalan sangat panas. Binjai City SC binaan SMSI tampil dominan sejak peluit pertama dibunyikan. Namun, performa apik mereka kandas oleh rentetan keputusan kontroversial wasit yang terus menyudutkan tim.
Ketegangan mencuat saat wasit menunjuk titik putih untuk Unaha. Menilai penalti tersebut tidak sah, skuad Binjai City sempat mengancam akan melakukan Walk Out (WO). Namun demi menghormati pertandingan dan berharap wasit memperbaiki kinerjanya, mereka memilih bertahan.
Meski sempat tertinggal 1-0, semangat juang Binjai City tidak padam. Mereka sukses menyamakan kedudukan lewat gol balasan yang sangat indah.
Sayangnya, pada babak kedua, wasit kembali berulah. Pelanggaran jelas terhadap pemain Binjai City di kotak penalti lawan diabaikan. Sebaliknya, wasit justru memberikan penalti gaib kedua untuk Unaaha FC.
Merasa mental para pemainnya dihancurkan oleh ketidakadilan yang berulang, Binjai City akhirnya bulat memutuskan mundur dari pertandingan. “Kami memutuskan keluar dari pertandingan karena ini sangat tidak adil,” tegas Manajer Binjai City, Ferdy Yupa dengan nada kecewa.
Kericuhan tak hanya dirasakan oleh Binjai SC, ketidak berimbangan wasit juga mewarnai laga antara Persimaju Mamuju vs Unaaha menimpa Persimaju. Menurut keterangan Manajer Persimanju saat bertanding dengan Unaaha FC di lapangan, keberpihakan pengadil lapangan terlihat sangat vulgar ketika wasit mengusir pemain Persimaju dengan kartu merah tanpa alasan yang kuat.
Akibat rentetan keputusan yang dinilai merugikan tersebut, tensi di dalam lapangan meninggi. Kericuhan hebat antar-pemain akhirnya pecah sesaat sebelum turun minum babak pertama.
“Pertandingan di Grup G Piala Presiden 2026, kami menegaskan bahwa setiap laga dalam kompetisi seharusnya mengedepankan prinsip keadilan dan sportivitas sebagai fondasi utama penyelenggaraan turnamen. Persoalan yang kami soroti bukan semata-mata terkait hasil pertandingan yang diperoleh tim. Kami menilai terdapat dugaan praktik-praktik yang berpotensi mencederai nilai sportivitas dalam kompetisi,” paparnya.
Padahal, sepak bola seharusnya menjadi ajang yang menjunjung tinggi keadilan, profesionalisme, dan persaingan yang sehat. “Kami tidak dirugikan karena berhasil lolos pada fase ini. Namun, moralitas pertandingan harus tetap dijaga. Jangan sampai sepak bola terus dicoreng oleh ketidakadilan yang muncul karena kepentingan pihak-pihak tertentu yang mencari keuntungan dalam setiap kompetisi,”sebutnya.
Manajer Persimaju menegaskan bahwa seluruh peserta telah mengorbankan biaya, waktu, dan tenaga untuk mengikuti turnamen. Karena itu, berharap penyelenggaraan kompetisi dapat memberikan perlakuan yang adil dan setara kepada seluruh tim peserta.
“Kami juga mengajak seluruh pihak yang terlibat dalam kompetisi untuk bersama-sama menjaga integritas sepak bola agar tetap menjadi sarana pembinaan prestasi dan sportivitas. Menurut kami, komitmen terhadap keadilan dan transparansi merupakan kunci untuk menjaga kepercayaan peserta maupun masyarakat terhadap jalannya kompetisi,” papar Suprianto Paisal, S.IP Manajer Persimaju Mamuju Sulawesi Barat, kepada awak media, Sabtu (6/6/2026).
Protes waktu dan pinalti pertandingan dari Persipegaf dugaan “anak emas” di Grup G makin menguat setelah Persipegaf merasakan kejanggalan yang sama. Pihak manajemen Persipegaf merasa sangat dirugikan oleh kepemimpinan wasit saat bentrok dengan Unaaha FC.
Salah satu sorotan utama adalah pemotongan waktu pertandingan yang tidak masuk akal. Pihak Persipegaf saat memberikan keterangan kepada awak media, ketika pertandingan awal Persipegaf VS Unaaha sangat kecewa dengan perangkat pertandingan. Ada beberapa hal yang menjadi catatan yakni:
- Daifing yang bukan menjadi pelanggaran wasit tiup peluit.
-
Waktu yang seharusnya ditambahkan 7 menit babak pertama dikasih 4 menit.
-
Babak kedua hal yang sama.
-
Orang dapat kartu kuning di luar dugaan yang tidak pantas dilakukan oleh wasit.
-
Babak pertama belum berakhir pihak keamanan sudah bergerak ke depan untuk mengamankan wasit hal ini menjadi sesuatu yang tidak pantas.
“Kami ingin sepak bola yang benar di Indonesia. Ijin kalau bisa ada pertemuan untuk kami yang dirugikan biar ada tanggapan serius untuk Panitia dan pihak PSSI bisa memperhatikan,”sebut Manajer Persipegaf.
Rentetan skandal di Grup G ini, menjadi tamparan keras dan pertanyaan besar bagi integritas serta masa depan penegakan hukum dalam sepak bola Indonesia. Publik kini menunggu tindakan nyata dari komite wasit dan PSSI untuk mengusut tuntas dugaan keberpihakan ini.
Pihak Wasit, melalui Penanggungjawab Pertandingan PSSI Piala Presiden 2026 Indryanto, saat dikonfirmasi perihal dugaan keberpihakan wasit kepada tim tuan rumah tentang kekecewaan Persipegaf, Binjai City SC dan Persimaju belum memberikan klarifikasi. “Mohon maaf saya lagi mendampingi anak saya wisuda,”sebut Indryanto Via WA pribadinya, Sabtu (6/6/2026). (*)







