DAUN kering yang berguguran di sekitar rumah dan sampah-sampah kering bisa dimanfaatkan untuk pakan kambing. Untuk mengolah sampah tersebut menjadi pakan ternak, tidak perlu teknologi tinggi. Caranya mudah dan sederhana. Para peternak di perdesaan bisa membuat sendiri.
Salah seorang peternak kambing di daerah perbukitan yang kering, perbatasan Kabupaten Sleman dan Gunungkidul, Susmono, mengaku sudah lama memanfaatkan daun dan sampah kering di sekitar rumahnya untuk pakan kambing. Di rumahnya berjejer drum-drum berisi pakan alternatif.
“Kami berternak kambing sudah sejak lima tahun lalu. Karena di daerah kami, tandus, kering, maka harus berupaya untuk membuat pakan alternatif,” ujar Susmono, warga Padukuhan Watukangsi, Wukirharjo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa 5 Agustus 2025.
Awalnya Susmono hanya memelihara beberapa kambing, sekarang sudah ada 150 kambing di kandang dekat rumahnya. Untuk makani ratusan kambing tersebut, peternak ini memiliki bank pakan. Pakan alternatif dalam drum-drum itu merupakan hasil karyanya.
Susmono kalau pagi nyaponi mengumpulkan daun-daun yang rontok di sekitar rumahnya. Ngopeni sampah pertanian. Sampah-sampah kering tersebut dikumpulkan dan difermentasi menjadi pakan alternatif. Ramah lingkungan dan organik.
Para peternak, sering dihadapkan pada persoalan pakan. Mirisnya, saat peternak dalam kesulitan, mereka justru dijadikan objek untuk mendapatkan keuntungan. Para peternak dijadikan pasar bagi pabrik-pabrik pakan. Harganya mahal dan peternak dibuat bergantung pada pakan ternak produksi pabrik.
Agar mandiri dan tidak bergantung pada pabrik, maka peternak dituntut untuk bisa membuat pakan alternatif sendiri, berbiaya murah dan disukai hewan ternak. Bahannya cukup sederhana, ada di sekitar tempat tinggal peternak dan murah.
Bahan yang diperlukan dan proporsi ukurannya, daun kering 1 kuintal, bekatul 10 kilogram, garam 1 kg, gula pasir ½ kg, air 30 liter, dan mikroba 5 tutup botol kemasan SOC (Suplemen Organik Cair).
Manfaat microba SOC untuk peternakan: meningkatkan kesehatan ternak dan mengurangi angka kematian, mengurangi biaya produksi dan perawatan, meningkatkan nafsu makan dan mempercepat pertumbuhan ternak, meningkatkan kesuburan dan produksi daging, mengurangi stress dan menekan penyakit pada ternak, meningkatkan antibodi pada ternak, dan membantu proses fermentasi pakan ternak.
Cara membuatnya, daun kering diletakkan di alas terpal, diberi bekatul, lalu diratakan. Kemudian bahan-bahan, meliputi garam, gula pasir, mikroba, dan air diaduk dimasukkan dalam alat semprot dan cairannya disemprotkan merata di daun kering yang sudah dicampur bekatul. “Alat semprotnya bebas, tapi kami memakai alat semprot yang biasa untuk menyemprot hama di sawah,” jelas Susmono.
Pengadukan sebaiknya langsung menggunakan tangan, agar berbagai bahan pakan itu bisa bercampur merata. Setelah 30 menit dan tercampur dengan baik, lalu dimasukkan ke dalam drum atau tempat yang kedap udara.
Setelah satu hari atau 24 jam, pakan alternatif itu sudah bisa dimakankan kepada hewan ternak. Berdasarkan pengalamannya, 20 drum pakan alternatif cukup untuk memenuhi pakan 45 domba selama 3 hari. Jika dikalkulasi, satu hari biaya yang dikeluarkan untuk pakan Rp 850.
Biaya tersebut relatif murah dan mengurangi ongkos pakan ternak. Peternak itu suka yang murah dan berkualitas. Dengan pakan yang tercukupi, maka desa tempat tinggal peternak bisa menjadi lumbung daging dan tempat pertumbuhan kambing-kambing berkualitas. Sehingga, swasembada daging hewan ternak di Indonesia terealisasikan, tidak lagi bergantung dengan negara lain. Hentikan impor daging sapi dan kambing. (Ono)







