Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓

Menara Kembar Limasan Macan Angob, Bangunan Unik di Bejiharjo Gunungkidul

Mbah Gito dan bangunan rancangannya menara kembar limasan Macan Angob. (Foto: Wiradesa)

GUNUNGKIDUL-Menara kembar bangunan berdinding bata ekspos tampak gagah menjulang. Dengan dinding berwarna kemerahan, jika dilihat dari kejauhan sepintas bangunan di Kompleks Joglo Tri Yaksa itu mirip Menara Kudus. Bertinggi sekitar 15 meter, bangunan menara kembar tersebut dinamai limasan Macan Angob.

Pemilik sekaligus perancang bangunan menara kembar limasan Macan Angob Sugito menuturkan, proses pengerjaan sudah hampir satu tahun dan saat ini memasuki tahap rapi-rapi untuk finishing. Sebagai perancang bangunan, sosok yang akrab disapa Mbah Gito bukan kali pertama bikin bangunan dengan arsitektur unik yang boleh dikata nyleneh alias tak lazim. Di Joglo Tri Yaksa area dengan luas lahan 10 ribu meter persegi sebelumnya dibangun tiga unit joglo superbesar yang dapat menampung lebih dari seribu orang.

“Namanya bangunan joglo ndeso. Bangunannya model limasan, lintring dan gandok,” kata Mbah Gito ditemui di kawasan Joglo Tri Yaksa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Sabtu 16 Agustus 2026.

Dikatakan Mbah Gito, menara kembar limasan Macan Angob berukuran lebar 7 meter dan panjang 8 meter itu berpondasi batu Merapi.

Baca Juga:  Luncurkan GNPIP, Sultan HB X: Kalurahan Garda Terdepan Ketahanan Pangan

“Rencana ke depannya mau dijadikan sebagai homestay,” ucap Mbah Gito.

Mbah Gito menuturkan kecintaannya pada budaya Jawa melatari dirinya membangun kawasan Joglo Tri Yaksa. Ia menyebut joglo sebagai salah satu bangunan impian sekaligus klangenan. “Sebagai manusia Jawa, bangunan rumah joglo bagi saya seperti perkutut, sebagai sesuatu yang nilainya bukan lagi sekadar fungsi. Tapi sudah menjadi klangenan,” imbuhnya.

Mbah Gito pun melengkapi fasilitas Joglo Tri Yaksa dengan beragam pernak-pernik bernuansa Jawa. Diantaranya perangkat wayang kulit lengkap dengan pakeliran dan seperangkat gamelan. Ia juga mendirikan sanggar tari, karawitan, gejok lesung, kenthongan. Agenda rutin kesenian diantaranya tiap Sabtu kegiatan seni tari anak-anak dan malam Kamis seni karawitan beranggotakan warga sekitar joglo.

Dengan ciri khas bangunan yang unik, bertiang kayu-kayu besar dan utuh dengan jumlah tiang penyangga saling terhubung dengan pilar-pilar kokoh, kawasan joglo milik Mbah Gito mulai dilirik dan disewa berbagai pihak guna menyelenggarakan beragam kegiatan. Dari hajatan mantenan, sebagai lokasi titik kumpul wisata jip susur sungai, meeting perusahaan, kegiatan rapat kerja instansi, kegiatan wisata anak sekolah.

Baca Juga:  Persaudaraan Bu Ngatirah Mantan Guru SDN Ngablak 5 dengan Warga Bandongan Kulon: Paseduluran Sampai Akhir Zaman

Selain melihat suasana bangunan joglo dan menara kembar limasan Macan Angob, para tamu bisa main musik kenthongan dan menikmati seni karawitan juga menikmati sajian kuliner ndeso macam aneka sayur lodeh. “Belum lama ada yang ngejip bareng sebanyak 900 orang. Rute dari sini kemudian berangkat susur Sungai Oya,” kata Mbah Gito. (Sukron)

Tinggalkan Komentar