Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓

Tiga KWT Condongcatur Wakili Sleman Perkuat Urban Farming

Foto: Istimewa

TERBATASNYA lahan di kawasan perkotaan tak menyurutkan semangat kelompok wanita tani di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, untuk terus mengembangkan pertanian. Mereka beradaptasi melalui urban farming, hidroponik, hingga pemanfaatan teknologi smart farming.

Semangat tersebut dibawa tiga Kelompok Wanita Tani (KWT) dari Condongcatur yang mewakili Kabupaten Sleman dalam pelatihan agribisnis pertanian berbasis teknologi hidroponik, 31 Agustus–4 September 2026.

Ketiganya KWT Teratai Mekar Dabag, KWT Arum Melati Soropadan, dan KWT Lestari Gempol.

Pelatihan diselenggarakan di UPTD Balai Pemberdayaan Pertanian dan Agribisnis (Balai PPA), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Jaranan, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Balai yang sebelumnya bernama UPTD Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPSDMP).

Kegiatan diikuti 15 peserta dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain Sleman yang diwakili peserta dari Condongcatur, peserta berasal antara lain dari Pajangan, Pandak dan Palbapang di Bantul; Nanggulan dan Wates di Kulon Progo; serta Rejowinangun dan Ngampilan di Kota Yogyakarta.

Selama lima hari, seluruh peserta antusias mengikuti pembelajaran yang memadukan teori, praktik, kunjungan lapangan hingga penyusunan rencana tindak lanjut.

Pelatihan membekali peserta dengan pengetahuan agribisnis hidroponik dari aspek budidaya hingga pengembangan usaha. Materi meliputi jenis-jenis sistem hidroponik, kebijakan pengembangan pertanian berbasis teknologi, pemasaran hasil panen, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pengelolaan greenhouse, serta pengembangan usaha hidroponik secara mandiri.

Peserta juga mendapatkan kesempatan praktik, mulai dari pembuatan instalasi hidroponik, pengenalan smart farming, penyiapan media tanam, pembibitan, peracikan nutrisi hingga pemupukan tanaman hidroponik.

Pola pembelajaran menggabungkan teori dan praktik membuat interaksi peserta dengan narasumber berlangsung aktif. Pertemuan 15 peserta dari berbagai daerah sekaligus menjadi ruang bertukar pengalaman, berbagi praktik baik, serta membangun jejaring antarpelaku pertanian.

Pada Rabu (2/9/2026), peserta mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) ke Jogja Agro Park (JAP) di Nanggulan, Kulon Progo.

Baca Juga:  FPKP Gandeng Lintas Komunitas ‘Bedah Rumah’ Suraji dan Wayem

Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta melihat secara langsung pengembangan kawasan pertanian terpadu, mulai dari teknologi pertanian, smart farming, peternakan, perikanan, hortikultura hingga pengelolaan pascapanen.

Jogja Agro Park dikembangkan sebagai kawasan edukasi pertanian, agribisnis dan agrowisata sekaligus ruang pembelajaran berbagai pendekatan pertanian modern dan berkelanjutan.

Salah satu narasumber yang memberikan kesan kuat kepada peserta adalah TO Suprapto, tokoh penggerak pertanian dan pembina Joglo Tani. Ia mengajak peserta membangun kemandirian pangan mulai dari keluarga.

Pesan sederhana yang membekas bagi peserta: nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur.

Pesan tersebut menekankan pentingnya menanam bahan pangan yang dibutuhkan dan memanfaatkan apa yang mampu dihasilkan dari lingkungan sendiri. Semangat itu juga diperkuat melalui prinsip bersama, bersepakat, berbuat.

Selain aspek teknis, peserta memperoleh wawasan kebijakan dari Sofyan Setyo Darmawan, S.T., M.Eng. Materi yang disampaikan antara lain menyangkut regulasi pertanian, tata ruang dan RTRW DIY, dukungan pengembangan agribisnis, perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), serta arah pengembangan sektor pertanian.

Keikutsertaan tiga KWT tersebut tidak berdiri sendiri. Condongcatur memiliki 18 padukuhan dan seluruhnya telah memiliki KWT, sehingga menjadi modal sosial penting bagi pengembangan pertanian perkotaan. Data Kapanewon Depok sebelumnya juga mencatat 18 KWT berada di Condongcatur.

Sejumlah KWT di Condongcatur telah memiliki rekam jejak dalam pengembangan urban farming.

KWT Lestari Gempol, misalnya, telah memanfaatkan lahan terbatas untuk membudidayakan cabai, sawi, kangkung dan berbagai jenis sayuran. Anggota kelompok juga didorong memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan tanaman obat keluarga. Hasil panennya telah dipasarkan melalui berbagai kegiatan masyarakat.

Sementara KWT Arum Melati Soropadan pernah mendapat perhatian Komisi B DPRD DIY dalam upaya penguatan pertanian perkotaan. Pertanian perkotaan dinilai memiliki posisi strategis untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat di tengah keterbatasan lahan.

Baca Juga:  Survei Baksos HPN 2024: Masyarakat Baduy Hadapi Banyak Ular Tanah

Prestasi juga ditorehkan KWT Teratai Mekar Dabag. Pada 2024, kelompok tersebut meraih Juara I Lomba Tanam Timun Baby Kabupaten Sleman setelah mengungguli 152 KWT lainnya dari 17 kapanewon.

Penilaian kompetisi tidak hanya melihat performa dan produktivitas tanaman, tetapi juga komitmen kelompok, estetika serta tertib administrasi.

Rekam jejak tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tidak selalu menjadi penghalang. Melalui inovasi dan penguatan kelembagaan, pertanian tetap dapat tumbuh sekaligus memberikan nilai ekonomi.

Pemerintah Kalurahan Condongcatur mendukung agar kesempatan mengikuti pelatihan dan kegiatan peningkatan kapasitas dapat dimanfaatkan secara luas oleh seluruh KWT.

Ulu-Ulu Condongcatur Murgiyanta selaku pengampu kegiatan bidang pertanian dan peternakan, mengatakan pelatihan tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan, tetapi juga memperluas jejaring.

“Pemerintah Kalurahan Condongcatur sangat mendukung agar seluruh KWT yang ada di Condongcatur aktif mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan peningkatan kapasitas. Selain menambah pengetahuan dan keterampilan yang dapat dipraktikkan di kelompok masing-masing, kegiatan seperti ini juga penting untuk memperluas jejaring, baik antarkelompok wanita tani maupun dengan dinas dan pemangku kepentingan terkait,” ujar Murgiyanta.

Murgiyanta berharap pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti pada individu yang mengikuti pelatihan, tetapi dapat ditularkan kepada anggota kelompok dan diterapkan sesuai potensi lingkungan masing-masing.

Komitmen tersebut langsung diterjemahkan dalam Rencana Tindak Lanjut (RTL) berupa penerapan hidroponik sederhana menggunakan sistem wick.

RTL dirancang berlangsung selama lima minggu. Pada minggu pertama dilakukan pembuatan instalasi menggunakan styrofoam atau baki dan net pot, bersamaan dengan penyemaian benih sayuran menggunakan media rockwool.

Memasuki minggu kedua, peserta menyiapkan nutrisi AB Mix sesuai kebutuhan PPM tanaman dan memindahkan bibit ke instalasi hidroponik. Monitoring dilakukan pada minggu kedua hingga keempat untuk mengamati perkembangan tanaman dan kebutuhan nutrisinya.

Baca Juga:  724 Karya Bersaing Raih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2022

Pada minggu kelima, tanaman ditargetkan memasuki masa panen sekaligus dilakukan evaluasi terhadap proses budidaya.

Pemilihan sistem wick diharapkan memudahkan anggota KWT maupun masyarakat untuk mereplikasi hidroponik dengan instalasi sederhana, terutama pada lingkungan permukiman yang memiliki keterbatasan ruang budidaya.

Salah satu peserta, Heni Purwanti dari KWT Teratai Mekar Dabag, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti pelatihan.

“Pelatihan ini menambah wawasan baru tentang hidroponik. Proses belajarnya menyenangkan karena kami tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung praktik membuat instalasi sederhana dan meracik nutrisi tanaman. Penjelasan narasumber jelas, mudah dipahami dan interaktif, sehingga bagi pemula seperti saya tidak merasa kesulitan,” tutur Heni.

Heni berharap pelatihan serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dengan materi yang semakin mendalam.

“Semoga pelatihan seperti ini dapat dilaksanakan kembali dengan materi dan praktik lanjutan. Saya berharap ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat dan diterapkan di lingkungan sekitar untuk mendukung urban farming,” tambahnya.

Setelah berlangsung selama lima hari, Pelatihan Agribisnis Pertanian Berbasis Teknologi Hidroponik ditutup pada Jumat (4/9/2026). Seluruh 15 peserta memperoleh sertifikat setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan.

Namun bagi tiga KWT Condongcatur, sertifikat bukan garis akhir. Tantangan berikutnya justru dimulai setelah kembali ke kelompok masing-masing: mempraktikkan ilmu, berbagi pengetahuan dan mengembangkan teknologi pertanian yang sesuai dengan karakter wilayah.

Dari hidroponik sistem wick yang sederhana hingga pengenalan smart farming, teknologi membuka peluang agar aktivitas pertanian tetap produktif di tengah keterbatasan lahan perkotaan.

Bagi perempuan tani Condongcatur, pelatihan tersebut membawa pesan yang lebih luas: pertanian tidak harus menghilang ketika sebuah wilayah semakin urban. Cara bertanilah yang perlu terus beradaptasi—dari lahan terbatas, melalui inovasi, menuju ketahanan pangan keluarga dan peluang ekonomi masyarakat. (*)

Tinggalkan Komentar