Di Lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, sekitar 160 ekor sapi perah menghasilkan hampir 1.500 liter susu setiap harinya. Namun di balik potensi besar itu, tersimpan ironi yang selama ini luput dari perhatian: banyak peternak justru menanggung kerugian setiap bulan, sementara ribuan kilogram limbah kotoran ternak yang dihasilkan setiap hari belum dikelola secara optimal.
Kondisi inilah yang mendorong Universitas Islam Indonesia (UII) melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Tim SINERA menghadirkan sebuah terobosan: platform digital berbasis website yang menjadi jantung dari program Sistem Inovasi Peternakan Rakyat Integrasi Operasional Terpadu (SI PATRIOT).
Platform ini bukan sekadar aplikasi pencatatan biasa. Ia dirancang sebagai pusat data tunggal yang merangkum seluruh denyut usaha peternak, mulai dari arus kas harian, produksi susu, pengolahan limbah menjadi pupuk organik, pemberian mineral blok, hingga operasional biodigester penghasil biogas. Program yang menyasar peternak dari tiga dusun, yaitu Dusun Kemiri, Turgo, dan Ngepring menjadi wujud nyata dari konsep Circular Smart Farming, sebuah pendekatan yang memandang setiap siklus usaha ternak, energi, pakan, dan keuangan sebagai satu kesatuan yang saling menopang, bukan lagi berjalan sendiri-sendiri seperti pola konvensional selama ini.
Ketua Tim Pelaksana PPK Ormawa SINERA UII, Roisul Umdy Annajih, menjelaskan bahwa filosofi di balik platform ini adalah menyederhanakan sesuatu yang selama ini terasa rumit bagi peternak.
“Sistem keuangan ini berjalan dengan sederhana. Diawali dari pencatatan setiap pengeluaran, pendapatan, serta hasil produksi susu sapi per harinya oleh peternak. Hasil pencatatan ini kemudian menjadi sumber data yang terintegrasi dengan website peternakan Desa Purwobinangun,” ungkap Roisul. Dengan basis data yang terpusat, peternak maupun tim pendamping dapat memantau perkembangan usaha secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi untung-rugi, tetapi juga dari sisi pemanfaatan limbah dan efisiensi pakan, dua hal yang selama ini jarang dilihat sebagai satu kesatuan.
Pada sisi keuangan, sistem yang dikembangkan berbasis web dan dapat diakses melalui ponsel, sehingga peternak dapat mencatat pemasukan dan pengeluaran usaha secara rutin tanpa proses yang rumit. Data yang masuk akan terekap otomatis dan menampilkan besaran keuntungan setiap bulannya, termasuk pos pengeluaran terbesar seperti biaya konsentrat, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama beban operasional peternak. Roisul Umdy Annajih menegaskan pentingnya kebiasaan mencatat ini bagi keberlangsungan usaha peternak.
“Dalam manajemen usaha peternakan, khususnya sapi perah, pencatatan keuangan atau tracking keuangan itu hal yang penting. Karena dengan itu, peternak bisa mengetahui setiap pengeluaran dan pendapatan untuk melangsungkan usaha peternakannya, sekaligus bisa mengendalikan potensi kerugian,” ujarnya.
Manfaat pencatatan digital ini dirasakan langsung oleh Bu Denok, salah satu peternak sapi perah di Purwobinangun. Selama ini ia dan suaminya belum pernah mencatat pemasukan usaha secara rinci. “Enggak Pak, sama sekali enggak. Paling mencatatnya itu hasil susunya berapa, terus habis makan konsentratnya berapa. Kalau pemasukan uangnya enggak,” ujar Bu Denok.
Ketiadaan catatan itu membuatnya sulit mengetahui untung atau rugi dari usaha yang dijalankan setiap bulan, terutama saat musim produksi sedang baik. “Selama ini kalau pas musim bagus itu banyak untungnya, tapi belum tercatat. Enggak tahu keuntungannya seberapa besar,” tambahnya.
Meski begitu, ia menyambut baik rencana penerapan sistem pencatatan digital yang ditawarkan Tim SINERA. “Insha Allah, soalnya kalau hapenya memungkinkan, ya kami mau coba,” katanya, sembari berharap sistem tersebut dapat membantunya mengetahui pengeluaran terbesar dalam usahanya.
Cerita Bu Denok hanyalah satu sisi dari persoalan yang lebih besar. Sisi lain dari usaha peternakan sapi perah di Purwobinangun adalah limbah kotoran ternak yang jumlahnya tidak sedikit, dan selama ini kerap hanya menumpuk tanpa diolah.
Menjawab persoalan ini, platform digital SI PATRIOT juga dirancang untuk merekam data dari sisi pengelolaan limbah, sejalan dengan pelatihan pengolahan pupuk organik yang telah dijalankan Tim SINERA sebagai bagian dari penerapan Circular Smart Farming. Melalui pelatihan ini, kotoran sapi dan sisa rumput yang sebelumnya hanya digunakan sekali pakai diolah kembali menjadi pupuk yang lebih awet dan bernilai guna lebih tinggi.
Bu Jaimin, salah satu peternak yang mengikuti pelatihan tersebut, mengaku terbantu dengan adanya kegiatan ini. “Biasanya pupuknya itu sudah enggak beli, cuma hasil dari tenaga sendiri saja. Harapannya, dari hasil pelatihan ini, saya bisa mempraktikkan lagi supaya pupuknya bisa diolah kembali dan dimanfaatkan lebih baik,” ujar Bu Jaimin. Ia menambahkan bahwa proses pengolahan pupuk tersebut sebenarnya tidak sulit dilakukan.
“Menurut saya gampang, soalnya bahannya kan sebenarnya dari pupuk kita sendiri. Dari kotoran sapi pasti ada, sisa rumput juga ada, jadi bahan-bahan yang lainnya gampang dicarinya,” tambahnya.
Selaras dengan pengolahan limbah menjadi pupuk, Tim SINERA juga membekali peternak dengan pelatihan pembuatan mineral blok sebagai suplemen tambahan untuk menunjang kesehatan dan produktivitas ternak, mulai dari pertumbuhan, kesehatan tulang, fungsi reproduksi, hingga produksi susu. Data konsumsi mineral maupun kondisi ternak yang diperoleh dari kegiatan ini nantinya turut menjadi bagian dari catatan yang terhubung ke platform digital, sehingga peternak maupun tim pendamping dapat memantau kebutuhan mineral ternak berdampingan dengan data keuangan dan produksi susu yang sudah tercatat lebih dulu. Dengan begitu, setiap pos pengeluaran, sekecil apa pun, termasuk untuk pemenuhan kebutuhan mineral, dapat dilihat secara utuh dalam satu sistem yang sama, bukan lagi tersebar di catatan-catatan terpisah yang mudah terlupakan.
Komponen paling ambisius dari ekosistem digital ini adalah instalasi biodigester, teknologi yang mengubah limbah kotoran ternak menjadi biogas dan pupuk organik melalui proses anaerobik. Biogas yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti LPG untuk kebutuhan memasak sehari-hari, sementara slurry sisa pengolahannya diarahkan menjadi pupuk organik padat maupun cair yang siap digunakan untuk menyuburkan lahan pakan ternak. Data produksi dan pemanfaatan biogas, sebagaimana halnya pencatatan keuangan dan pupuk, direncanakan turut terekam dalam platform SI PATRIOT, sehingga peternak dapat melihat secara nyata sejauh mana pemanfaatan limbah tersebut membantu menekan biaya operasional rumah tangga maupun usaha ternaknya, sesuatu yang dulu hanya bisa dirasakan tanpa bisa diukur.
Dengan menyatukan seluruh data ini dalam satu platform, Tim SINERA berharap peternak Desa Purwobinangun tidak lagi mengelola usahanya secara terpisah-pisah, melainkan dapat melihat gambaran utuh antara biaya, pendapatan, pemanfaatan limbah, dan kebutuhan pakan dalam satu sistem yang sama, sebuah lompatan besar dari cara-cara konvensional yang selama ini mengandalkan ingatan dan catatan seadanya. Program ini dirancang untuk memberikan dampak yang bertahan lama bagi peternak setelah masa pengabdian mahasiswa berakhir, dengan dukungan pendampingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Karang Taruna setempat agar sistem ini dapat terus digunakan secara mandiri.
“Besar harapan kami, program ini dapat berkelanjutan serta dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, khususnya peternak Kalurahan Purwobinangun. Di samping itu, kami juga berharap program SI PATRIOT ini dapat menjadi model usaha peternak yang produktif dan berbasis circular smart farming,” harap Roisul Umdy Annajih.
Jika selama ini peternak sapi perah di Purwobinangun berjalan dengan intuisi dan catatan seadanya, kehadiran platform digital SI PATRIOT membuka jalan baru: usaha ternak yang terukur, limbah yang bernilai, dan masa depan yang dapat direncanakan, bukan sekadar diharapkan. (*)






