Baru 24 Desa Wisata di Kabupaten Purbalingga yang Memiliki SK Bupati

Acara Rembug Desa Wisata dan Pokdarwis di Aula Kraca Bungur TWP Purbasari Pancuranmas. (Foto: Wiradesa)

PURBALINGGA – Kabupaten Purbalingga akhirnya memiliki Forum Komunikasi Desa Wisata (Deswita) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Forum tersebut menjadi wadah kerjasama untuk pengembangan wisata di Purbalingga.

“Saya minta pengurus yang baru terlantik untuk memetakan potensi wisata di desanya dan mengembangkannya sesuai dengan kekhasan masing-masing,” ujar Asisten Ekonomi dan Pembangunan Agus Winarno di acara Rembug Desa Wisata dan Pokdarwis di Aula Kraca Bungur TWP Purbasari Pancuranmas, kemarin.

Dia menambahkan desa wisata diharapkan tidak latah dalam mengembangkan wisatanya. “Tidak semua desa wisata bisa seperti DLAS Serang, tidak kemudian latah meniru, tetapi angkat keunikan masing-masing,” tambahnya.

Rembug Desa Wisata dan Pokdarwis sendiri dilaksanakan oleh Dinporapar Kabupaten Purbalingga bekerjasama dengan stakeholder pariwisata seperti Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Asosiasi Biro Wisata Purbalingga (Asbiling), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) serta Tourism Information Center (TIC).

Kabid Pariwisata Dinporapar Gunanto Eko Saputro menjelaskan, di Kabupaten Purbalingga ada 24 Desa Wisata yang sudah memiliki Surat Keputusan Bupati. Selain itu, ada desa yang belum menjadi Desa Wisata tetapi sudah mengembangkan wisata dan memiliki Pokdarwis.

Baca Juga:  Beli Obat Terlarang Lewat Online Shop, Warga Purbalingga Ditangkap Polisi

“Kalau bicara daya tarik wisat kita memiliki 89 destinasi, baik yang dikelola BUMD, BUMDes, Pokdarwis, maupun swasta,” katanya.

Sementara itu, dalam acara terbentuk kepengurusan FK Deswita dan Pokdarwis dengan ketua terpilih Pulung Purwoko dari Desa Wisata Sedang. Dia menyebutkan akan segera menjalin kerjasama dengan stakholder pariwisata terkait. Forum yang diketuainya diharapkan bisa memberikan sumbangsih pengembangan wisata di Purbalingga.

“Visi dan Misi kami untuk menghidupi wisata dan pelaku seyogyanya bisa hidup dari wisata,” ujarnya. (Prima Intan DI)

Tinggalkan Komentar