Sanggar Peni, milik Kemiskidi (64), di Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah salah satu sanggar kerajinan batik kayu yang masih bertahan di tengah gempuran krisis ekonomi hingga saat ini. Meski usianya tak lagi muda, Kemiskidi dikenal sebagai salah satu perajin batik kayu “kawakan” yang terus gigih berkarya dengan karya-karya terbaiknya di Desa Wisata Krebet.
“Inilah seni bertahan. Ya kondisinya seperti ini, kita harus bagaimana lagi. Mengeluh dan menyerah. Ya, tidak mungkin. Kita pasrah saja, karena rezeki dari Allah, yang penting saya tetap berkarya yang terbaik untuk Desa Wisata Krebet dan bangsa,” kata Kemiskidi, kepada Wiradesa.co, Kamis 2 Oktober 20025, di kediaman yang dijadikan workshop Sanggar Peni yang terkenal dengan sebutan Omah Batik Kayu.
Di masa krisis ekonomi dan situasi global yang tidak menentu seperti saat ini, pesanan lebih banyak dilakukan secara online dan virtual dari media sosial. Merasa tak mampu menangani pembelian secara online, Kemiskidi menyerahkan proses jual beli produk kerajinan Sanggar Peni ini, kepada anak sulungnya yang lebih paham perkembangan informasi digital.
Sedangkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, Kemiskidi banyak berhubungan dan dibantu oleh Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Rakyat Indonesia (APIKRI) dan PT Out of Asia (OOA), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan dan ekspor kerajinan tangan dan produk ekonomi kreatif dari Indonesia ke pasar internasional. Perusahaan ini bekerja sama dengan ribuan perajin, menyediakan pelatihan, material, serta membantu pemasaran dan ekspor produk kerajinan yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti pelepah pisang, eceng gondok, rotan, dan bambu.
Bagi Kemiskidi, tidak ada trik-trik khusus untuk bertahan, karena semua perajin tidak hanya di Dusun Krebet saja namun di tanah air mengalami kondisi yang sama. “Pasrah saja, Mas. Ada pesanan kita syukuri dan dikerjakan dengan baik,” ucap ayah lima putra yang masih menjabat sebagai Kepala Dusun Krebet ini dengan nada logowo.
Menurutnya, di Dusun Krebet sedikitnya ada sekitar 300 perajin yang tersebar di 30 sanggar. Mereka diwadahi dalam sebuah koperasi yakni Koperasi Sidokaton yang dibina oleh Disperindagkop Bantul, agar produk batik kayu dan keunikannya dapat dimaksimalkan kepada masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri.
Ia mengakui, dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bantul, berupa pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) para pekerjanya diharapkan sentra industri batik kayu Krebet bisa berkembang lebih pesat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat perajin batik kayu Krebet.

Dengan pengelolaan dan pengembangan Dusun Krebet yang baik, dimungkinkan dapat menyerap tenaga kerja secara maksimal dan pembinaan generasi perajin batik kayu Krebet. Hasil kerajinan batik kayu para perajin di Dusun Krebet termasuk di Sanggar Peni umumnya sama, yakni berupa souvenir seperti gantungan kunci, alat kebutuhan rumah tangga seperti sendok garpu kayu, dekorasi rumah seperti topeng batik kayu, patung, dan bingkai cermin.
Berkat kegigihan dan konsistensi para perajin batik kayu di Dusun Krebet ini dalam berkarya, tak salah jika dusun tersebut dinobatkan sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik di Indonesia pada 2024, oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) yang kala itu dijabat Sandiaga Uno. Kunjungan tersebut dijadikan momentum bagi para perajin mengembangkan potensi pariwisata mereka secara inovatif dan berkelanjutan.
“Kita berterimakasih kepada Pak Sandiaga Uno yang memberikan Anugerah Desa Wisata Indonesia pada 2024 lalu, kepada Dusun Krebet, sebagai salah satu desa wisata unggulan di Indonesia. Karena, penghargaan itu semakin mengukuhkan posisi Dusun Krebet sebagai destinasi wisata berbasis seni dan budaya yang berkelanjutan,” kata Kemiskidi yang mengaku memiliki 12 karyawan ini.
“Pada akhirnya, prestasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat melalui sektor pariwisata. Kami berharap, Dusun Krebet menjadi contoh nyata bagi desa-desa lain di Bantul maupun di Indonesia, atas keberhasilannya dalam pengelolaan desa wisata di tingkat nasional,” jelas lulusan SMA ini.
Kemiskidi mengaku, ia belajar keterampilan membatik kayu sejak 1975, lulus Sekolah Dasar. Sebagai anak dusun yang kurang mampu, ia bertekad membantu kedua orang tuanya dan belajar membuat topeng kayu di seniman topeng kayu yakni Pono Wiguno yang rumahnya di Dusun Diro, Pendowoharjo, Sewon, Bantul.
“Pak Pono sudah sejak lama dikenal sebagai pembuat topeng tari gaya Yogyakarta yang disegani tidak hanya di Bantul, dan DIY saja. Sementara Pak Pono juga diwarisi keahlian membuat topeng dengan karakter Panji ini dari kakeknya yakni Ki Warso Waskito. Jadi di usia 13 tahun itu, saya sudah nyantrik (belajar) di Sanggar Pak Pono,” kenang Kemiskidi.
Ternyata yang nyantrik di rumah Pak Pono Wiguno bukan hanya Kemiskidi saja, namun banyak siswa lainnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri seperti Malaysia, Hongkong, Singapura, Australia, Spanyol, dan Perancis. Rumah Pak Pono tak hanya berfungsi sebagai studio saja, tetapi juga workshop, tempat belajar membuat topeng.
Ia nyantrik di Sanggar Pak Pono hanya bertahan selama 3 tahun saja, terhitung 1985 hingga 1988, karena ia melanjutkan sekolah lagi ke jenjang SMP. Agar kerja dan sekolah bisa jalan beriringan, Kemiskidi membawa pulang kayu dan bahan-bahan untuk membuat topeng yang dikerjakan di rumah pada pagi harinya dan sorenya dia gunakan untuk sekolah.
Sejak 1988 itulah, Kemiskidi mengklaim Sanggar Peni mulai dirintis untuk didirikan. Modal pendirian Sanggar Peni, menurutnya hanya “modal dengkul” karena bahan-bahan material untuk membuat topeng Panji dan batik kayu lainnya hanya meminjam dari orang lain dan dikembalikan lagi modalnya setelah produk itu laku.
Kemiskidi juga menceritakan jika saran untuk belajar membuat topeng ke Pak Pono ini atas saran Pak Gunjiar yang merupakan perajin batik kayu senior di Dusun Krebet. Pak Gunjiar pun juga pernah nyantrik di Pak Warso Waskito.
“Jadi, awalnya saya hanya belajar membuat topeng Panji di Pak Pono, lalu oleh Pak Pono saya ditantang untuk membuat bentuk-bentuk lain seperti wayang kulit dan wayang golek. Alhamdulillah saya bisa lalu saya terus kembangkan ke bentuk-bentuk lain hingga saat ini. Saat ini yang paling banyak disukai yakni souvenir, alat-alat rumah tangga, dan dekorasi rumah,” ujarnya.
“Selain topeng Panji, kamu bisa bikin motif wayang golek. Kalau bisa, coba kamu bikin sendiri. Saya lalu bikin dan hasilnya saya setor ke Pak Pono dan sebagian lagi saya jual ke Prawirotaman, Yogyakarta. Kala itu harganya masih murah sekitar Rp 350 kalau sekarang sekitar Rp 50 ribu,“ ujarnya.
Kini Sanggar Peni makin berkembang, workshopnya mampu menampung sekitar 300 orang. Para pengunjungnya terdiri dari pelajar SMP, SMA, SMK, turis domestik, dan turis mancanegara. Jika mereka ingin belajar membuat batik kayu, topeng Panji, souvenir, dan dekorasi rumah dapat belajar di Sanggar Peni dengan biaya pelatihan antara Rp 30 ribu hingga Rp 75 ribu tergantung besar kecilnya souvenir.
“Setelah mereka belajar membuat souvenir, hasilnya juga bisa mereka bawa pulang untuk kenang-kenangan,” ujar Kemiskidi. (Budi)







