YOGYAKARTA – Penyempurnaan aplikasi Monitoring Evaluasi Kesehatan ODHIV (MONTOV) menjadi langkah penting dalam mendorong deteksi dini HIV di kalangan remaja dan dewasa muda. Fitur baru yang dikenalkan hari ini menawarkan dukungan lebih inklusif, aman, dan berbasis komunitas.
Inovasi ini diluncurkan bersamaan dengan penyelenggaraan diskusi ilmiah bertema “Dari Gejala Kulit ke Diagnosis HIV: Peran Tenaga Medis dan Komunitas dalam Pencegahan”, yang digelar di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Kamis 11 Desember 2025.
Kegiatan ini sekaligus menandai babak baru dalam upaya penanggulangan dan edukasi HIV/AIDS di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui kolaborasi antara Pita Merah Jogja (PMJ) dan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW).
Acara yang berlangsung di UKDW ini, dimulai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan foto bersama, yang berfungsi untuk mempertemukan pemangku kepentingan, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, komunitas, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga media. Kolaborasi ini bertujuan merancang strategi pencegahan yang selaras dengan kebutuhan anak muda.
DIY menghadapi tantangan signifikan terkait isu ini, dengan data epidemiologi menunjukkan bahwa angka kasus HIV terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Hingga Desember 2024, total kumulatif kasus HIV di DIY tercatat sebanyak 8.627 kasus, disertai 2.391 kasus AIDS.
Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa kelompok usia 15-19 tahun dan 20-29 tahun menjadi yang paling rentan dan paling terdampak, dan salah satu hambatan terbesar dalam upaya deteksi dini adalah tingginya tingkat stigma di masyarakat. Kondisi inilah yang mendorong PMJ untuk memperkuat sistem dukungan melalui inovasi digital.
PMJ meluncurkan fitur Ruang Pengaduan dalam aplikasi MONTOV, sebuah kanal aman, rahasia, dan berbasis dukungan komunitas, yang dirancang untuk memfasilitasi anak muda dalam menyampaikan pengalaman diskriminasi atau hambatan akses layanan. Aplikasi MONTOV sendiri sebelumnya sudah berfungsi untuk general cek kesehatan harian dan sharing interaksi antar pengguna.
Dukungan dari pihak akademisi, khususnya UKDW yang menjadi tuan rumah dan mitra, ditekankan sebagai kunci untuk menciptakan ekosistem layanan yang inklusif.
Dekan Fakultas Kedokteran UKDW, Dr. The Maria Meiwati Widagdo, Ph.D., mengapresiasi inovasi tersebut. “Aplikasi dan fitur ini terus berkembang dan membawa solusi bagi masyarakat. Kami melihat banyak sekali kasus HIV, dan sayangnya individu yang terdampak justru menutup diri karena takut dengan stigma yang ada,” ujarnya.
Isu stigma tersebut juga menjadi sorotan utama dalam sesi diskusi panel yang menghadirkan Dr. dr. Arum Krismi, M.Sc, Sp.DVE, FINSDV, FAADV dan Alvo sebagai narasumber. Dr. Arum Krismi menekankan perlunya memisahkan penyakit dari perilaku.
“Intinya untuk kita semua, kita harus memisahkan dan membedakan antara penyakit dan perilaku. Kita menjauhi perilakunya, tapi ketika ada yang terkena penyakit, kita harus membantu,” tegasnya.
Acara kolaboratif ini menarik partisipasi luas dari berbagai sektor di DIY. Kalangan yang hadir mencakup lembaga pemerintah seperti Dinas Kesehatan DIY, fasilitas kesehatan seperti RSUP dr. Sardjito, RS Bethesda, dan Puskesmas Mantrijeron.
Selain itu, jejaring komunitas aktif seperti Warga Peduli Aids Kota Yogyakarta, Yayasan Victory Plus, dan Jaringan Indonesia Positif DIY, serta wakil dari akademisi UGM dan Universitas Kristen Duta Wacana, turut berpartisipasi, menunjukkan penguatan ekosistem dukungan berbasis komunitas dan komitmen bersama menuju layanan HIV yang berkeadilan. (Avicenna)








