Kawulo Ngayogyakarta Gelar Kirab Budaya Tolak Kekerasan

Foto: Istimewa

SLEMAN-Kawulo Ngayogyakarta yang di dalamnya terdiri dari para tokoh masyarakat dan budaya Jogja serta tergabung dalam Sekretariat (Sekber) Keistimewaan DIY menggelar aksi damai di Mapolda DIY. Aksi damai tersebut dilaksanakan dengan kirab budaya dari Terminal Condongcatur menuju halaman Mapolda DIY, Kamis 26 Februari 2026.

Aksi budaya dengan kirab diikuti 3 pasukan bregada yaitu Bregada Rakyat Widya Permana, Bregada Rakyat Jaladwara dan pasukan bregada Rakyat Wirotomo diikuti masyarakat adat budaya dikawal oleh Payuyuban Keamanan Kraton (Paksi Katon) dan aparat keamanan serta Jaga Warga. Menyusuri jalur lambat ringroad utara menuju halaman Mapolda DIY.

Peserta aksi damai “Pratelan Budhaya Tolak Kekerasan Utamakna Katentreman” setiba di halaman Mapolda DIY diterima Wakapolda DIY Brigjen Pol Eddy Djunaedi SIK beserta jajaran.

Tokoh masyarakat dan budaya Jogja menggelar aksi damai menyampaikan bahwa dalam alam demokrasi Indonesia saat ini terlebih sejak bergulirnya semangat reformasi penyampaian aspirasi masyarakat dan sikap kritis terhadap jalannya pemerintahan adalah sebuah keniscayaan. Demokrasi memberi ruang bagi rakyat untuk menyampaikan pendapat secara bebas dan bertanggungjawab.

Baca Juga:  Kunjungi Rupbasan Purbalingga, Sesditjen Pemasyarakatan Apresiasi Kinerja dan Kebersihan

Namun demikian, kebebasan tersebut bukan tanpa batas. Penyampaian aspirasi harus tetap berada dalam koridor hukum, menjunjung tata tertib serta menghindari cara kekerasan. Anarkisme maupun perusakan fasilitas umum terlebih apabila hal tersebut terjadi di Yogyakarta dinilai sangat tidak tepat karena Yogya dikenal sebagai pusat budaya Jawa yang warganya menjunjung tinggi nilai kesantunan, tepo salira dan kerukunan.

Kawula Ngayogyakarta mengajak agar seluruh elemen warga turut menjaga kedamaian, ketenteraman dan persatuan. Jangan sampai semangat menyampaikan pendapat justru menimbulkan perpecahan dan kerusakan.

“Hormati hak-hak masyarakat lainnya dan jagalah fasilitas umum sebagai milik bersama,” ucap Widihasto Wasana Putra selaku Ketua Sekber Keistimewaan DIY.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan Widihasto, Kawulo Ngayogyakarta menyatakan bahwa setiap penyampaian aspirasi harus berada dalam koridor hukum dan tata tertib yang berlaku. Mereka juga menolak segala bentuk kekerasan, anarkisne, provokasi serta tindakan perusakan fasilitas umum. Kawulo Ngayogyakarta juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa menjaga kerukunan, menghormati hak-hak sesama serta memelihara ketenteraman dan kedamaian bersama.

Pernyataan sikap disampaikan dengan penuh tanggung jawab dan kecintaan kepada bangsa dan negara. “Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa membimbing kita dalam menjalankan demokrasi yang santun, dewasa dan bertanggungjawab,” imbuh Widihasto.

Baca Juga:  Kesulitan Askes Vaksinasi, Lansia Lumpuh di Purbalingga Dijemput di Rumahnya

Wakapolda DIY, Brigjen Pol Eddy Djunaedi, S.I.K menerima dengan baik aksi damai yang dikemas dengan kirab budaya. Wakapolda DIY menyampaikan atas nama pimpinan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh peserta kirab budaya yang hadir dengan penuh ketertiban, mengenakan busana adat Jawa/Nusantara sebagai simbol keluhuran budi dan jati diri budaya,” kata Wakapolda DIY.

Ditambahkan Wakapolda DIY, kegiatan “Pratelan Budhaya Tolak Kekerasan Utamakna Katentreman” adalah pesan moral yang sangat kuat. Budaya Yogyakarta adalah budaya adiluhung yang menjunjung tinggi tata krama, tepa selira, dan harmoni sosial. Pesan ini selaras dengan semangat keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah yang mengedepankan nilai kebudayaan dalam menyelesaikan persoalan.

Wakapolda DIY mengatakan pihaknya memahami bahwa dalam dinamika kehidupan demokrasi, penyampaian aspirasi adalah hak setiap warga negara. Namun, sebagaimana dhawuh Ngarsa Dalem Sri Sultan, yang selalu mengingatkan agar aspirasi disampaikan dengan santun dan tanpa kekerasan, maka pesan damai yang disampaikan hari itu menjadi sangat relevan dan strategis.

“Peristiwa aksi anarkis yang terjadi sebelumnya tentu menjadi preseden yang kurang baik bagi citra Yogyakarta sebagai Kota Budaya dan Kota Pelajar. Oleh karena itu, kehadiran panjenengan semua di halaman Polda DIY dengan membawa pesan damai justru memperkuat resonansi moral bahwa DIY menolak kekerasan dalam bentuk apa pun. Termasuk perusakan fasilitas umum maupun fasilitas negara,” ungkapnya.

Baca Juga:  Deendarlianto Dikukuhkan sebagai Guru Besar

Wakapolda DIY menuturkan pihaknya berkomitmen untuk menjamin kebebasan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi secara damai dan sesuai ketentuan hukum. Polda DIY akan mengedepankan pendekatan humanis, dialogis, dan persuasif dalam setiap pengamanan kegiatan masyarakat. Berikutnya, bersama seluruh elemen masyarakat menjaga katentreman lan karaharjan di Bumi Mataram ini.

“Kami percaya bahwa keamanan bukan hanya tugas kepolisian, tetapi tanggung jawab bersama. Sinergi antara aparat dan masyarakat adat, tokoh budaya, serta seluruh warga DIY adalah benteng utama agar Yogyakarta tetap teduh, aman, dan bermartabat,” tandasnya.

Usai menyampaikan aspirasi dan pernyataan sikap dan diterima dengan baik oleh Wakapolda DIY, peserta aksi damai kembali menuju Terminal Condongcatur dengan kirab bregada sambil memainkan musik khasnya seperti tambur, suling, terompet dan bendhe. (*)

Tinggalkan Komentar