Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓

Mahasiswa Teknik Industri UGM Teliti Pengelolaan dan Pemanfaatan Embung Doho

Mahasiswa TI UGM saat melakukan kunjungan lapangan di Embung Doho, Rabu (21/10/2026). (Foto: Fery)

Oleh: Fery Yelyanto


Embung Doho yang berada di Desa Doho, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, menjadi lokasi penelitian mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Perancangan Terpadu. Penelitian ini berfokus pada pengelolaan Embung Doho dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat sebagai sumber informasi dan data lapangan.

Kunjungan lapangan dilaksanakan pada Rabu, 21 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang direncanakan berlangsung pada 28 September hingga 18 Desember 2026, mengambil konsep proyek penelitian dan riset bersama yang dilakukan secara kelompok, dimana mahasiswa dimungkinkan untuk mengerjakan sebuah topik atau proyek besar secara bersama-sama.

Mengingat cakupan penelitian mengenai pengelolaan dan pengembangan Embung Doho yang cukup luas, diperlukan pembagian tugas dan fokus kajian secara terstruktur dengan pendampingan dosen pembimbing yang mengoordinasi arah penelitian secara keseluruhan.

Penelitian ini didampingi oleh dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu Sekar Sakti, S.T., M.BA., M.Sc., Ph.D. dan Sinta Rahmawidya Sulistyo, S.T., MSIE., Ph.D., IPM. Adapun pelaksana penelitian terdiri atas tiga mahasiswa Program Studi Sarjana Teknik Industri, Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik UGM, yaitu Marco Aland Adinanda, Muhammad Burhanudin Bachtiar, dan Luthfiani Fathonah, yang masing-masing akan mengkaji aspek penelitian sesuai pembagian tugas dan arahan dosen pembimbing guna menghasilkan rekomendasi yang komprehensif bagi pengelolaan dan pengembangan Embung Doho secara berkelanjutan

Baca Juga:  Sidak di Pasar Kranggan, KPPU DIY tak Temukan Adanya Indikasi Pelanggaran

Verifikasi Data dan Isu Pengelolaan Embung

Sebelum melakukan kunjungan lapangan, tim peneliti telah mengumpulkan data awal melalui komunikasi daring, video, dan sambungan telepon dengan berbagai elemen masyarakat Desa Doho. Pihak-pihak yang menjadi sumber informasi meliputi warga desa, petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengunjung dari luar desa, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta Pemerintah Desa Doho.

Pengumpulan data pengelolaan Embung Doho. (Foto: Fery)

Pengumpulan data awal tersebut bertujuan untuk menggali berbagai perspektif mengenai kondisi, pemanfaatan, dan pengelolaan Embung Doho.

Melalui kunjungan lapangan dan wawancara secara langsung, tim peneliti melakukan verifikasi terhadap isu-isu yang sebelumnya telah teridentifikasi. Proses ini penting untuk memastikan kesesuaian informasi awal dengan kondisi nyata di lapangan sekaligus memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kebutuhan dan tantangan pengelolaan Embung Doho.

Luthfiani Fathonah menyampaikan dalam kunjungan ini bertujuan untuk menentukan apa isu paling penting yang perlu dibahas dalam membangun sistem pengelolaan Embung ke depannya, aspek aspek yang diteliti meliputi sumber daya air, kebutuhan masyarakat, keberlanjutan komunitas, dan manfaat ekonomi desa. “Kunjungan penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi isu-isu prioritas yang perlu dibahas dalam membangun sistem pengelolaan Embung Doho saat ini,” ujar Luthfiani Fathonah.

Baca Juga:  Sambut 40 Juta Wisatawan, BOB Kembangkan Ratusan Destinasi Desa Wisata

Keterlibatan berbagai unsur masyarakat diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh, mengingat Embung Doho tidak hanya memiliki fungsi sebagai infrastruktur sumber daya air, tetapi juga berpotensi mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, pertanian, serta pengembangan wisata desa.

Membangun Sinergi Masyarakat, Pemerintah Desa, dan Perguruan Tinggi

Penelitian ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah desa, dan komunitas masyarakat dalam mendukung pengembangan potensi lokal secara berkelanjutan.

Masyarakat memiliki peran penting sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan kawasan embung dan memahami kondisi serta kebutuhan di lapangan. Pemerintah desa berperan dalam mendukung tata kelola dan pengembangan potensi desa, sedangkan perguruan tinggi berkontribusi melalui pendekatan ilmiah, penelitian, serta penyusunan rekomendasi berbasis data.

“Dalam pengelolaan Embung bisa diterapkan pemanfaatan teknologi, seperti Internet of Things (IoT). Tidak harus rumit atau mahal, tetapi harus tepat sasaran, mudah dioperasikan, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Marco Aland Adinanda.

Melalui pendekatan tersebut, penelitian diharapkan tidak hanya menghasilkan kajian akademis, tetapi juga dapat memberikan perspektif baru dalam memahami persoalan dan peluang pengelolaan Embung Doho.

Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan fungsi embung, baik dari aspek lingkungan, sosial, ekonomi, maupun pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Baca Juga:  Petani Desa Slemanan Ikuti Pelatihan Pembuatan pupuk Organik Cair

Embung Doho sebagai Ruang Kolaborasi dan Pembelajaran

Kegiatan ini menegaskan bahwa pengembangan potensi desa membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak dapat dilakukan secara terpisah. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi menjadi salah satu langkah untuk mendorong pengelolaan aset desa yang lebih terarah, partisipatif, dan berkelanjutan.”Kolaborasi diperlukan agar pengelolaan kawasan dapat berjalan secara berkelanjutan, terstruktur, serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa,” ujar Burhanudin Bachtiar.

Embung Doho memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai ruang yang mengintegrasikan kepentingan pertanian, pelestarian lingkungan, aktivitas sosial, pemberdayaan UMKM, dan pariwisata desa.

Melalui penelitian ini, diharapkan terbangun hubungan yang saling menguatkan antara ilmu pengetahuan dan praktik pengelolaan di tingkat desa. Dengan demikian, potensi lokal dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat serta didukung oleh data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Embung Doho bukan sekadar infrastruktur sumber daya air, melainkan juga ruang kolaborasi untuk belajar, berinovasi, dan bertumbuh bersama.

Sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan dunia pendidikan diharapkan menjadi fondasi bagi pengelolaan Embung Doho yang berkelanjutan serta memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Desa Doho. (*)

Tinggalkan Komentar