KULONPROGO – Kasus gigitan ular dapat terjadi di tempat-tempat yang memang menjadi habitatnya seperti sawah dan kebun. Tapi pada beberapa kasus, insiden gigitan justru terjadi saat ular peliharaan buat mainan.
Menanggapi kejadian itu, Advance Trainer Sioux Yayasan Ular Indonesia Slamet Riyadi mengatakan, bila ular tak sebagaimana binatang peliharaan anjing atau kucing. Ular tak kenal dengan majikan.
“Ular tak pernah mengenal majikan, bahkan yang rutin memberi pakan. Beda dengan hewan peliharaan lain seperti kucing dan anjing yang tahu itu majikan atau bukan,” jelas Slamet Riyadi.
Lelaki yang akrab disapa Memet menambahkan, ular sulit ditebak karakternya sehingga bisa saja pas diajak buat mainan tiba-tiba menyerang, menggigit si pemilik sebagaikana sejumlah kasus terjadi. Sehingga para pemelihara ular lebih-lebih yang berbisa harus ekstra waspada saat berinteraksi dengan ular peliharaan.
“Sangat penting mengetahui jenis ular berbisa atau tidak berbisa. Memelihara ular juga harus sangat hati-hati jangan sampai tak mengetahui karakternya,” kata Memet yang mengaku memelihara ular untuk keperluan edukasi masyarakat bukan untuk keperluan atraksi.
Memelihara ular, lanjutnya, harus waspada dan hati-hati saat memberi pakan. Sementara untuk memandikan boleh dibilang tak wajib.
Menyimpan ular peliharaan, kandang harus memenuhi syarat tertentu. Tidak mudah terbuka sehingga ular tak lepas dari kandang. Ular bisa disimpan dalam akuarium khusus ular. Jadi pemilik atau siapa pun yang belajar ular hanya bisa memantau dari luar.
“Saat memberi pakan pelan-pelan jangan sampai ular merasa terganggu. Masukkan makanan dan langsung tutup kembali. Hindari provokasi sebab ular akan menyerang apabila kita provokasi. Bentuk provokasi misalnya mengganggu pakai tongkat atau yang lain ketika dikandangkan,” jelas Memet yang mengaku pernah beberapa kali kena gigitan ular tak berbisa seperti sanca dan ular kopi. (Sukron)








