KULONPROGO – Bisnis rosok, mengepul kertas dan kardus bekas untuk dijual kembali kepada pengepul besar dijalani Suyanto SPd. Memutar omzet usaha sekitar Rp 3 juta perminggu, warga Mentobayan Salamrejo mengakui dirinya harus bisa membuang jauh-jauh pikiran-pikiran negatif. Membuang perasaan kurang percaya diri saat mengambil rosok ke kantor-kantor, ke sekolah hingga rumah sakit.
“Imaji orang terhadap rosok kan kurang sedap. Kesannya kotor, reget, bergelut dengan barang bekas. Di situlah sebagai pelaku usaha pengepul rosok, saya mesti kuat mental saat masuk ke kantor, sekolah atau ke warung dan toko untuk mengambil rosok, kertas atau kardus,” ungkap Suyanto ditemui di rumahnya, Sabtu 4 Maret 2023 malam.
Dalam hati, Suyanto menanamkan kuat-kuat pikiran bahwa dia bukan pemulung tetapi dia pengepul. Dia juga membeli kardus, barang bekas bukan memungut dan mencari kardus, barang bekas. Meski kadang didera perasaan kurang nyaman saat berkeliling membeli rosok ke rumah warga, perkantoran, rumah sakit, di sisi lain, Suyanto juga bangga. Terlebih sehari-hari dia masih bekerja kantoran sebagai tenaga ahli Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) di Kantor Sekretariat DPRD Kulonprogo sejak 2012 sampai sekarang.
“Memang sekarang masih kerja kantoran. Punya penghasilan rutin bulanan. Tapi umur sudah 56 tahun. Jadi ke depan tetap harus menyiapkan usaha bekal hari tua. Keluarga, anak-anak menyarankan buka tempat kuliner. Warung, resto. Tapi buka warung, resto butuh perjuangan lebih berat,” tuturnya.

Ide usaha rosok dia dapat kala di kantor diminta menjual kertas-kertas bekas. Tukang rosok membeli perkilo Rp 1200. Dari informasi yang dia dapat, kertas bekas yang dibeli Rp 1200 dijual kepada pengepul besar ada yang berani membayar Rp 4000 perkilonya. Tergiur untung tipis jualan kertas bekas, Suyanto kemudian mempelajari detail bisnis jualan kertas dan kardus bekas serta barang rosok yang masih bisa didaur ulang. Ia belajar khusus mengamati cara memilih kertas dan kardus yang layak jual serta cara menimbang dan menghitung harga. Setelah kertas selesai dipilah-pilah baru menentukan harga.
“Saya datangi pengepul besar kertas bekas dan kardus bekas di Jombor. Di situ melihat, mengamati cara kerja pengepul rosok. Lihat orang menimbang, memilah baru ketemu harga. Setelah paham lalu praktik di rumah. Pasang status WA siap beli barang bekas,” jelasnya.
Kepada keluarga, terutama anak, Suyanto sempat menanyakan, bila buka usaha mengepul rosok apakah anak-anak akan merasa minder. Ketiga anak rupanya kompak menjawab tidak akan merasa minder dan kecil hati. Anak-anak dan istri justru mendukung langkahnya mulai bisnis rosok.
Sebagai pengepul rosok, kertas dan kardus bekas dengan pelanggan rumah warga, perkantoran, sekolah hingga rumah sakit utamanya di Sentolo dan Wates, tiap bulan Suyanto mesti menyiapkan dana Rp 8-10 juta untuk membayar rosokan, kertas dan kardus bekas.
Pemilik UD Suket Progo ini sehari-hari bekerja sendiri bersama Lasmi istrinya. Sepulang kerja kantor, sore hari keliling mengambil kertas dan kardus bekas serta barang rosokan. Sabtu ia gunakan untuk setor kertas dan kardus ke pengepul besar di atasnya. Begitu pula Minggu, ia jadwalkan buat setor rosok, plastik, besi tua, dan barang lain.
Usaha Suyanto bisnis rosok berkembang. Guna melancarkan pengambilan kertas bekas dan kardus bekas serta rosok dan menyetor lagi ke pengepul besar, ia meminjam modal ke unit simpan pinjam usaha mikro guna membeli Suzuki Carry 1000 keluaran 1990 seharga Rp 35 juta. Ia juga memakai kendaraan sepeda motor roda tiga buat mengangkut rosok. “Saya ambil, angkat dan nyopir sendiri. Cuma dibantu istri yang ikut muter. Ambil rosok yang masih bisa didaur ulang macam plastik, besi, aluminium. Di rumah ditaruh di gudang. Seminggu dua kali setor ke pengepul besar,” tuturnya.
Dari omzet usaha, sebagian besar dana masuk dipakai kembali buat membeli rosok, sisanya buat operasional dan laba sekitar 30 persen dipakai buat keperluan sehari-hari, mengangsur mobil hingga menguliahkan anak. Suyanto sangat bangga. Anak nomor dua Rizki Arif Kurnia berhasil lulus Pascasarjana UGM. Ia berkisah, guna menguliahkan hingga jenjang S2 butuh biaya tidak ringan lantaran nonbeasiswa. Awalnya Suyanto sempat judeg dihadapkan dengan beban pembiayaan sekolah sang anak namun dari keuletan termasuk tak minder buka usaha rosok, kesulitan menyekolahkan anak di jenjang pascasarjana dapat teratasi.
Dikatakan Suyanto, dalam sebulan tak kurang dua ton kardus ia kumpulkan dan dijual lagi. Ia mengisahkan, perkembangan usaha rosok yang dikelola tak lepas dari banyaknya jaringan dan relasi pertemanan di berbagai wilayah. Ia punya banyak kenalan karena sebelumnya aktif di organisasi dan terbilang lama sebagai aktivis desa.
Suyanto mengenang, apa yang ia geluti saat ini bermula dari perjalanan terdahulu. Menikah pada 1992, Suyanto pertama kali bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Yos Sudarso Kawunganten Cilacap. Ia pamit mengundurkan diri karena sempat berencana mengajar ke Timor Timur namun akhirnya urung. Ia kemudian mengajar Geografi di SMA PGRI Kasihan Bantul. Sembari mengajar, sore hari nyambi buka warung rokok dan kelontong di dekat SMP N 1 Sentolo. Buka tiap malam sehabis Magrib hingga pukul 02.00.
Ia kembali pamit dari dunia pendidikan dan beralih sebagai Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Salamrejo berlanjut di lembaga keuangan mikro (LKM) yang menjadi cikal bakal BUMDes. “Pada 2012 mengundurkan diri dari LKM karena diterima sebagai tenaga ahli di DPRD. Di Fraksi Partai Golkar DPRD Kulonprogo. Dan lima tahun terakhir nyambi buka usaha mengepul rosok,” pungkasnya. (Sukron)







