KULONPROGO – Pariwisata Mangunan, Dlingo, Bantul, dibangun berdasarkan Mitologi Mataram dengan semangat konservasi alam dan pemberdayaan masyarakat. Namun di balik itu semua ada tokoh panutan yang diyakininya bisa mendatangkan berkah, aktor penggerak, dan masyarakat yang mau berubah.
Wilayah Mangunan yang berbukit dan terdapat hutan pinus merupakan kawasan desa yang warganya taat kepada perintah Raja Mataram. Apa yang dititahkan Raja akan dilaksanakan dengan sepenuh hati, tanpa bertanya “Nanti aku dapat apa”. Karena mereka meyakini Raja itu pembawa berkah.
Dengan latar belakang keyakinan seperti itu, maka jika ada warga yang diperintahkan oleh Raja untuk membuat konsep pariwisata di Mangunan, maka pasti siap melaksanakan. Karena itu titah Raja yang harus diemban dan pantang untuk disepelekan. Meski, orang yang diperintahkan itu merasa tidak layak, untuk menerima dhawuh Ngarso Dalem.
Saat ini yang dinobatkan sebagai Raja Mataram yakni Ingkang Sinuwun Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sesuai UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY, Sri Sultan juga sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Katika berkunjung ke Mangunan, Ngarso Dalem meminta salah satu warga bernama Purwo Harsono untuk mengungkapkan konsep pembangunan pariwisata Mangunan.
“Saat itu badanku gemetaran, apa yang ada di pikiran hilang semua, konsep yang saya susun buyar. Saya hanya ingat sesepuhku Siti Jenar, hutan, makam Raja-raja Mataram, dan Kali Oya,” papar Mas Ipung, panggilan akrab Purwo Harsono yang diminta Wiradesa.co untuk memotivasi para pemuda-pemudi desa di wilayah Kabupaten Kulonprogo agar mengembangkan potensi pariwisata di desanya masing-masing.
Berdasarkan kisah Ipung, wilayah Mangunan itu tempat Siti Sepuh, berada di perbukitan yang ada hutannya, ada sendang, dan banyak petilasan. Sedangkan di bawahnya, ada karya Hanyokrokusumo yang fenomenal berupa makam Raja-raja Mataram, dan pemandangan alam yang menakjubkan kelok Kali Oya.
Potensi yang ditangkap oleh ketajaman indera Mas Ipung, kemudian memunculkan gagasan membangun pariwisata Mangunan berdasarkan Mitologi Mataram dengan semangat konservasi merawat bumi “Abinaya Reksa Buana”. Dari gagasan ini muncul konsep desa wisata dan wana wisata.

Mengembangkan pariwisata Mangunan berbasis budaya dan konservasi, tidak semudah membalikkan tangan. Perlu kerja keras dan cara yang pas untuk memberdayakan warga desa. Merealisasikan kebutuhan dalam satu visi, perlu perjuangan ekstra. Ibaratnya, warga Mangunan berlayar bersama dalam sebuah kapal untuk mencapai satu tujuan agar sejahtera. Bagaimana agar tidak miskin permanen yang sudah puluhan tahun dirasakan.
“Bagi kami, agar kapal itu bisa berlayar dan selamat mencapai tujuan, maka harus berbagi tugas. Jika sampai ada satu orang yang tidak sepakat maka akan menenggelamkan semua,” papar Mas Ipung. Ada yang jadi nahkoda dan ada yang berperan sebagai anak buah kapal. Sehebat apapun kemampuan seseorang, jika tanpa kerjasama maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Jadi untuk meraih kebahagiaan hidup harus bersama-sama.
Merawat Bumi
Dari tema Abinaya Reksa Buana atau semangat merawat bumi, memunculkan tindakan konservasi hutan. Saat pelaksanaan upacara adat, seperti acara pernikahan, disyaratkan bagi yang menikah diwajibkan menanam pohon. Kemudian saat melahirkan diwajibkan melepas burung.
Upacara adat itu sebagai simbul kebudayaan. Ada upacara mengambil air oleh tujuh wanita yang dinamai Tirto Merti Reksa Buana. Juga ada Kirap Abinaya Reksa Buana yang di dalamnya terdapat nilai-nilai yang ditawarkan untuk kehidupan manusia. Misalnya ada tumpeng itu artinya metu lempeng. Jika ingin merealisasikan keinginan atau cita-cita jangan mbelak mbelok harus fokus.
Pelibatan tim milenial, membuat promosi dilaksanakan secara kreatif. Setelah menciptakan produk wisata, maka Mas Ipung bersama tim mudanya, mengumpulkan 60 orang dari berbagai talentanya untuk mewartakan produk wisata yang dikemasnya. Produknya berupa event, antara lain acara mitoni, menempa keris, memotret model dengan latarbelakang hutan pinus, dan berbagai acara budaya.
Setelah kegiatan, berita event wisata tersebar dari berbagai platform media, baik media pers maupun media sosial. Dua minggu setelah itu, banyak wisatawan yang berkunjung ke Mangunan untuk melihat sajian pariwisata berbasis budaya dan pelestarian lingkungan. Dalam satu tahun, satu juta lebih wisatawan yang berkunjung ke Mangunan.
Sinergi Lintas Sektoral
Untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis konservasi, maka sinergi lintas sektoral perlu dilaksanakan. Sinergi antara pemerintah (OPD terkait), akademisi (kajian, pendampingan), masyarakat (pelaku wisata), dan swasta (CSR, mitra).
Kemudian menjalankan konsep integrasi potensi. Misalnya di Mangunan, merupakan desa mandiri berbudaya, juga ada wana wisata, wana wisata budaya Mataram yang dikelola Koperasi Jasa Noto Wono dan perator sub operator, serta jasa lingkungan.
Desa mandiri budaya meliputi desa wisata dan desa budaya. Keduanya bermuara ke Abinaya Reksa Buana, semangat merawat bumi. Dalam upaya merawat bumi ada produk hukum (peraturan kalurahan, peraturan adat), ada produk budaya (upacara adat), ada produk kelembagaan (lembaga adat) yang diharapkan menjaga, merawat, melestarikan alam.
Untuk berpromosi, perlu disusun materi promosi, peraga promosi, alatnya media sosial, media cetak, dan elektronik yang audiensnya masyarakat, calon wisatawan. Pengelola pariwisata juga harus paham penerima manfaat. Karena ada penerima manfaat langsung, tidak langsung, dan ikutannya.
Pariwisata Mangunan yang mendapat manfaat langsung, antara lain pengelola wana wisata, pengelola desa wisata, pengelola obyek daya tarik wisata. Sedangkan penerima manfaat tidak langsung, yakni usaha jasa wisata, usaha kuliner wisata, home industry, oleh-oleh dan cenderamata, serta usaha lainnya. Penerima manfaat ikutan adalah usaha di luar sektor pariwisata.
Berbudaya dan Konservasi
Target pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya dan konservasi, terus menggali ide kreatif dan inovasi, paket wisata. Kemudian pembangunan tematis, seperti kalurahan tematis, hutan tematis. Untuk budaya dengan mengemas pertunjukkan, kebendaan, dan adat istiadat.
Produk kuliner: di Mangunan ada thiwul ayu, tahu guling, nasi gudeg papaya, dan nasi bakar. Desa mandiri budaya terdapat sajian mitoni, pertunjukkan wayang kulit, kirab budaya, pertunjukkan gamelan, dan sendara tari. Wana wisata, wisatawan bisa berkunjung ke Pinus Pengger, Puncak Becici, Pintu Langit Lembah Dahromo, Lintang Sewu, Pinus Asri, Pinus Sari, Seribu Batu, Bukit Panguk, dan Bukit Mojo.
Wilayah pariwisata Mangunan juga terdapat Desa Wisata Atap Langit. Paket yang ditawarkan meliputi Langit Ilalang (mainan, edukasi), Langit Terjal (menjelajah perbukitan dengan jeep off road dan motor trail), Karya Langit (aneka kerajinan), Rasa Langit (Pasar Kakilangit), Langit Cerdas (konstruksi bangunan, edukasi).
Pariwisata Mangunan merupakan model pembangunan pariwisata berdasarkan mitologi Mataram, semangat konservasi alam, dan pemberdayaan masyarakat. Ada tokoh panutan yang dihormati, actor penggerak, dan partisipasi masyarakat yang peduli pariwisata.
Tokoh panutan yang diyakini warga Mangunan, mendatangkan berkah adalah Raja Ngayogyakarta Hadiningrat. Sedangkan aktor penggerak di balik kesuksesan pariwisata Mangunan itu Purwo “Ipung” Harsono. Dia mengaku bukan orang yang dikenal pandai, pintar, intelek, kaya, dan memiliki jabatan penting, tetapi orang yang biasa diremehkan, tukang berkelai, suka gelut, peminum, petarung, dan ternyata juga guru. (Ono Jogja)







