BANTUL – Keberadaan Wana Desa dan Telaga Desa Potorono menghidupkan puluhan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di Kalurahan Potorono, Banguntapan, dan sekitarnya. Para pelaku usaha mikro ini tersebar di tiga titik, yakni Embung Potorono, Taman Keceh, dan Potorono Edu Park.
Para pelaku usaha mikro ini tidak hanya menempati warung atau kios permanen yang disediakan pengelola Wana Desa dan Telaga Desa Potorono, tetapi juga banyak yang memakai sepeda motor. Mereka yang menggunakan sepeda motor, umumnya penjual siomay, telur puyuh congkel, sarang laba-laba, papeda migulung, leker, dan batagor.
Penjual kue leker yang menawarkan jajanannya di depan Panggung Hiburan Embung Potorono mengaku pendapatannya lumayan jika hari libur. Omzetnya jika hari libur, satu hari bisa mencapai Rp 1 juta. “Tapi kalau hari biasa atau tidak libur, ya harus menawarkan muter-muter ke sekolah,” ujar Suyatno, Minggu 24 Mei 2026.
Pada hari Minggu kemarin, ada 10 pedagang yang memakai sepeda motor, dan 16 pedagang yang menempati warung permanen di sekitar Panggung Hiburan. Orgen tunggal dan penyanyi yang diupayakan perusahaan sepeda motor hari itu tidak hanya menghibur para pengunjung Umbul Potorono, tetapi juga para pedagang kecil.
Para pedagang jajanan yang memakai sepeda motor memiliki ciri khas masing-masing saat menawarkan dagangannya. Suyatno yang sudah berdagang kue leker selama 40 tahun lebih misalnya, dia memakai pengeras suara, menulisi gerobak, dan memakai kaos leker mania. “Kaos ini saya buat sendiri,” tegas Suyatno.
Saat ada anak yang tanya harga lekernya berapa. Bapak yang suka berjoget jika terdengar musik dangdut ini menjawabnya dengan kelakar, “Kalau dengan anak cantik seperti kamu, lima ribu dapat tiga, kalau anak jelek lima ribu dapat satu,” jawab Suyatno yang membuat anak-anak tersipu.
Penjual kue leker ini mengungkapkan, kalau menjual di area Embung Potorono harganya Rp 5 ribu dapat 3 kue, tetapi kalau menjual di luar atau keliling ke sekolah-sekolah harganya Rp 5 ribu dapat 5 kue. “Kalau di sini kan harus bayar retribusi, jadi harganya lima ribu hanya dapat tiga,” ungkap Suyatno.
Menurut pedagang yang suka bergoyang dan usil jika ada perempuan cantik ini, retribusinya jika hari biasa Rp 3 ribu, tetapi jika hari libur Rp 10 ribu.

Wakil Ketua Pokdarwis Potorono, Misbachul Munir SHum, menjelaskan retribusi yang dikenakan kepada para pedagang untuk harian Rp 3 ribu. Sedangkan sewa kios Rp 900 ribu per tahun. “Sampai saat ini ada sekitar 60 orang pedagang yang berjualan di area Wana Desa dan Telaga Desa Potorono,” jelas Misbachul Munir.
Musbachul Munir yang juga anggota Bamuskal Potorono mengungkapkan para pedagang di Telaga Potorono umumnya warga Kalurahan Potorono diutamakan warga Padukuhan Salakan. Kebijakan ini dilakukan agar keberadaan wisata desa berdampak positif, terhadap peningkatan ekonomi warga sekitar.
Terlihat pada Minggu kemarin ada 16 pedagang yang menempati warung permanen di sekitar panggung hiburan. Warung yang menjual aneka makanan dan minuman itu, antara lain Warung Biru, Warung Widyacha, Warung Pak Y, Warung Istianah, Warung Mbok Emi, dan Warung Abi.
Wana Desa dan Telaga Desa Potorono yang menawarkan objek wisata Taman Keceh, Potorono Edu Park atau Taman Dinosaurus, Wisata Air, dan dilengkapi dengan wahana mainan anak serta panggung hiburan, jumlah pengunjungnya terus meningkat.
Meningkatnya jumlah pengunjung ini juga meningkatkan jumlah pendapatan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah. Untuk menjaga agar Wana Desa dan Telaga Desa Potorono terus menjadi pilihan kunjungan wisatawan, maka para pedagang juga punya kewajiban untuk menjaga kebersihan, keamanan, dan makanan yang ditawarkan higienis, bersih, bebas dari kuman penyakit. (Ono)







