Storyteller atau pendongeng asal Inggris, Roy Galor, terpikat dengan proses tanam padi di Indonesia, citarasa kuliner Nusantara, dan kemegahan Candi Borobudur. Pengalaman mengesankan dalam hidupnya ini dirasakan saat tinggal di Yogyakarta selama 10 hari.
Roy Galor berada di Yogyakarta dalam rangka pertunjukan Folktales for The Living Earth di Tembi Historical Home Yogyakarta, Sabtu 4 Juli 2026 mulai pukul 15.00 sampai 18.00, bersama pendongeng Indonesia, Rona Mentari.
Di sela persiapan pementasan dongeng tentang bumi tersebut, Roy Galor berkesempatan mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, sebuah tempat bersejarah yang diimpikan untuk dikunjunginya.
Dalam perjalanan dari Yogyakarta (Daerah Istimewa Yogyakarta) ke Magelang (Jawa Tengah), Senin 29 Juni 2026, melewati jalur Kalibawang, setidaknya ada tiga hal yang memikat mata dan hati Roy Galor.
Ketiga hal yang memikat mata dan hati Roy yang akan tampil bersama Rona Mentari, pendongeng profesional Indonesia di Rumah Budaya Tembi Bantul, Sabtu 4 Juli 2026, itu adalah tandur, bumbu dapur, dan Borobudur.
Saat perjalanan sampai di wilayah Minggir Sleman, tiba-tiba Roy minta sopir untuk menghentikan mobilnya. Dia sepertinya terpikat oleh beberapa ibu yang menanam padi di sawah. Proses penanaman padi dengan tangan yang presisi itu menggerakkan pikiran dan kakinya untuk menghampirinya.

“Selamat pagi,” sapa Roy kepada ibu-ibu yang sedang ‘nandur pari’. Pendongeng yang menjadi mentor di International School of Storytelling, sebuah Lembaga Pendidikan Storytelling di Inggris ini memang belum fasih berbahasa Indonesia, tetapi ada beberapa kata dan kalimat yang dia ucapkan. Selain “Selamat Pagi”, juga “Terimakasih” dan “Mantap”.
Dalam percakapannya antara Roy Galor dan ibu-ibu penanam padi yang dibantu Ayu Purbasari dari Rumah Dongeng Mentari, terungkap kenapa tanaman padi tampak presisi, terjajar rapi, dan terukur dengan jarak yang sama satu tanaman dengan tanaman padi lainnya.
Selain itu, juga bayaran yang diperoleh para ibu penanam padi yang sangat minim, dan kenapa penanam padi, hampir semuanya berusia tua, tidak ada kaum muda yang mau menanam padi di sawah.
“Niki nandure nganggo pring sing ditandani (Ini tanamnya pakai bambu yang diberi tanda),” ujar Bu Tumiyem yang telah berusia 65 tahun. Bu Tumiyem sebagai buruh tanam padi bersama Bu Mukarti (61), Bu Trinem (70), dan Bu Saginem (63).
Pagi itu, mereka berempat mendapat pekerjaan tanam padi untuk satu patok sawah. Areanya sangat luas dan memanjang dari ujung jalan besar ke jalan tani. Upahnya Rp 250.000 dan dibagi empat orang. Setiap orang yang nandur pari sejak pagi sampai siang memperoleh upah Rp 62.500.
Kecilnya upah yang didapat ini, sepertinya tidak menarik anak muda untuk menerima tawaran buruh nandur pari. “Sak niki mboten wonten wong enom sing gelem buruh nandur pari (Sekarang tidak ada anak muda yang mau buruh tanam padi),” jelas Bu Mukarti.
Usai menghampiri dan berbincang dengan para ibu buruh nandur pari di Minggir Sleman, Roy Galor melanjutkan perjalanan ke Kalibawang. Dalam perjalanan, dia terpikat dengan hamparan sawah terasiring di wilayah Banjararum yang tampak indah dan menawan.

Sesampai di wilayah Kalibawang, Roy Galor bersama Ayu Purbasari dan Sihono HT makan siang di Warung Wader Mbah Sri di Banjarharjo. Warung dengan menu masakan tradisional menarik perhatian Roy. Menu yang ditawarkan, selain iwak kali Progo, juga mangut lele, sayur lompong, buntil daun talas, dan aneka masakan khas desa.
Berbagai menu yang disajikan tersebut, dimasak dengan bahan bakar kayu. Proses masak dengan kayu bakar, ternyata menarik perhatian Roy Galor. Storyteller asal Inggris ini masuk ke dalam dapur dan melihat langsung proses memasak secara tradisional.
Seorang ibu yang sedang menggoreng ikan kali Progo, memperlihatkan aneka rempah yang digunakan untuk bumbu masak. Aneka rempah itu, antara lain jahe, kemiri, laos, merica, daun salam, sere, dan lainnya. “Monggo (silahkan) kalau mau bawa oleh-oleh bumbu dapur dari Mbah Sri,” ujar Hartinah, anak mantu Mbah Sri.
Melihat aneka rempah Nusantara, Roy tertarik untuk mencium bau rempah dan merasakannya. Saat mencoba rasa jahe dan laos, dia bilang “Mantap”. Setelah mencium dan merasakan aneka rempah, Roy minta beberapa rempah asli Indonesia untuk dibawa ke Inggris.

Usai makan siang dengan cita rasa masakan tradisional di Warung Iwak Kali Mbah Sri Kalibawang, rombongan Storyteller International melanjutkan ke Candi Borobudur. Sesampainya di kompleks Candi Budha yang dibangun abad ke-8, antara 780-840 Masehi oleh Dinasti Sailendra, Roy masuk dan naik bangunan candi sendirian.
Roy menceritakan saat berada di Candi Borobudur, pikiran dan hatinya, bisa fokus dan merasakan getaran magis di batinnya. Dia mengagumi bangunan yang megah dan luar biasa. Tentu saja pembuatnya bukan orang sembarangan dan prosesnya memerlukan pemikiran, kerja keras, dan waktu pengerjaan yang panjang.
Sudah lama Roy Galor ingin sekali mengunjungi candi atau kuil Budha terbesar di dunia yang ada di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Kehadiran di Monumen Budha yang menakjubkan ini merupakan mimpi yang terwujudkan. Luar biasa, tempat pemujaan Budha ini.
Akhirnya tinggal di Yogyakarta selama 10 hari dirasa sangat mengesankan bagi Roy Galor. Dia berkesempatan melihat langsung pentas Sendratari Ramayana di Prambanan, berkunjung ke Museum ArtJog, menikmati kuliner khas tradisional, bercengkerama dengan para petani di pedesaan, kontemplasi di Candi Borobudur, berbagi ilmu dan pengalaman bersama para relawan Rumah Dongeng Mentari, serta pentas bersama pendongeng internasional asal Yogyakarta Rona Mentari. Ini semua pengalaman tak ternilai dalam kehidupan Storyteller asal Inggris Roy Galor. (Ono)







