Mahasiswa UGM Berdayakan Warga Jurugsari Kelola Sampah Organik Menjadi Pupuk, Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga

Foto: Istimewa

Upaya mengurangi timbulan sampah organik sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga terus dilakukan melalui inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat. Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar pelatihan pengelolaan limbah organik rumah tangga menggunakan Smart Compost Vessel bagi ibu-ibu PKK Kampung Jurugsari RW 57, Padukuhan Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Sabtu 27 Juni 2026.

Melalui pelatihan tersebut, limbah organik rumah tangga yang selama ini identik dengan bau, pencemaran lingkungan, dan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) diolah menjadi liquid biofertilizer atau pupuk organik cair (POC) serta kompos yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman di pekarangan rumah. Inovasi diharapkan menjadi solusi sederhana namun berdampak besar dalam mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Kegiatan merupakan bagian dari Program PKM-PM UGM bertajuk “Pemberdayaan Ibu-Ibu PKK Kampung Jurugsari melalui Transformasi Limbah Organik menjadi Liquid Biofertilizer Berbasis Smart Compost Vessel menuju Agroregenerative Family Farm.” Program menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa UGM dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui penerapan teknologi tepat guna yang mudah diadopsi masyarakat.

Pengelolaan sampah organik menjadi isu strategis di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sampah sisa makanan dan limbah organik masih mendominasi komposisi timbulan sampah nasional. Apabila tidak dikelola sejak dari sumbernya, sampah organik berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, menghasilkan emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat. Sebaliknya, apabila diolah dengan baik, limbah organik dapat menjadi pupuk yang bernilai guna dan mendukung konsep ekonomi sirkular.

Baca Juga:  KDEI Taipei Berkomitmen Lindungi Pekerja Migran Indonesia di Taiwan

Berangkat dari persoalan tersebut, Tim PKM-PM UGM menghadirkan Smart Compost Vessel, sebuah ember komposter bertingkat yang dilengkapi sensor suhu dan pH untuk membantu mengoptimalkan proses fermentasi limbah organik rumah tangga. Teknologi sederhana tersebut memungkinkan masyarakat menghasilkan pupuk organik cair dan kompos berkualitas secara mandiri dengan biaya yang relatif terjangkau.

Ketua Tim PKM-PM Tumandur UGM, Siti Nur Khasanah, mengatakan inovasi tersebut dikembangkan agar masyarakat mampu mengubah cara pandang terhadap sampah organik.

“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah organik bukan lagi limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi pupuk berkualitas. Melalui Smart Compost Vessel, masyarakat dapat mengelola sampah secara mandiri sekaligus memanfaatkan hasilnya untuk budidaya tanaman pangan di pekarangan rumah. Harapannya, program ini mampu mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Siti Nur Khasanah.

Pelatihan diikuti oleh sepuluh anggota PKK Kampung Jurugsari dengan metode pembelajaran berbasis praktik. Peserta didampingi secara langsung oleh Tim PKM-PM UGM mulai dari proses pemilahan sampah organik, pencacahan bahan, pencampuran media fermentasi, penyusunan komposter, hingga teknik menghasilkan pupuk organik cair dan kompos yang siap dimanfaatkan.

Baca Juga:  Bahan Baku Melimpah, Pemuda Banjaran Purbalingga Buat Kerajinan Lukisan Bambu

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan praktik dan aktif berdiskusi mengenai proses fermentasi, pengendalian bau, perawatan Smart Compost Vessel, hingga cara mengaplikasikan pupuk organik pada tanaman sayuran, buah, maupun tanaman obat keluarga di pekarangan.

Ketua RW 57 Kampung Jurugsari, Purwoko, mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa UGM karena dinilai sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Program sangat bermanfaat karena tidak hanya membantu mengurangi volume sampah rumah tangga, tetapi juga mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan secara lebih produktif. Kami berharap kegiatan ini dapat berlanjut sehingga mampu menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus meningkatkan kemandirian pangan warga,” kata Purwoko.

Senada dengan itu, Ketua PKK Kampung Jurugsari, Rini, berharap para ibu rumah tangga menjadi pelopor perubahan dalam pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.

“Ilmu yang kami peroleh hari ini sangat bermanfaat. Kami optimistis ibu-ibu PKK dapat menjadi agen perubahan dengan membiasakan memilah sampah organik, mengolahnya menjadi pupuk, kemudian memanfaatkan pekarangan untuk menghasilkan pangan sehat bagi keluarga,” tutur Rini.

Baca Juga:  KWT Teratai Mekar Condongcatur Juara 1 Lomba Tanam Timun Baby

Tim PKM-PM Tumandur terdiri atas Siti Nur Khasanah (Ilmu Tanah 2024) sebagai ketua tim, Rayhan Arva Pradipa (Pariwisata 2024), Nafi’atush Sholikhah (Ilmu dan Industri Peternakan 2023), Vina Ayu Lestari (Elektronika dan Instrumentasi 2023), serta Naafianda Ra’uuf Prastya (Bahasa Inggris 2024). Program dilaksanakan di bawah bimbingan Dr. Ir. Miftahush Shirothul Haq, S.Pt., IPP. dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.

Melalui Program Tumandur, Tim PKM-PM UGM berharap Kampung Jurugsari dapat menjadi model pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang inovatif dan berkelanjutan. Selain mengurangi timbulan sampah rumah tangga, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga, meningkatkan produktivitas pekarangan, mendukung penerapan ekonomi sirkular, serta berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan Tanpa Kelaparan (SDG 2), Kota dan Permukiman Berkelanjutan (SDG 11), Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (SDG 12), serta Penanganan Perubahan Iklim (SDG 13).

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat menunjukkan bahwa solusi atas persoalan lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana di tingkat rumah tangga. Melalui inovasi yang mudah diterapkan, sampah organik tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber daya yang memberi manfaat bagi lingkungan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat kemandirian pangan keluarga. (*)

Tinggalkan Komentar