Industri sawit di Indonesia memiliki peran strategis untuk menopang ekonomi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan industri ini menjadi salah satu penyelamat Indonesia saat menghadapi krisis ekonomi global.
“Saat Indonesia menghadapi krisis ekonomi global pada tahun 1998, tahun 2008, dan saat Covid, industri sawit berperan besar menopang ekonomi Indonesia,” ujar Eddy Martono, Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), Eddy Martono, di Yogyakarta, Jumat 28 Agustus 2026.
Eddy Martono mengungkapkan, saat Covid, industri sawit mampu menghasilkan devisa 39,2 juta dolar AS. Industri sawit juga menyerap 16 juta tenaga kerja. Produk turunan tanaman sawit cukup banyak, selain minyak, juga sabun, cramer, lipstick, dan lainnya.
Dengan nilai ekonomisnya yang tinggi, maka banyak negara di dunia yang tidak ingin Indonesia menjadi produsen sawit terbesar di dunia. “Maka jangan kaget jika ada isu-isu yang mendiskreditkan industri sawit di Indonesia. Itu namanya perang dagang,” tegas Eddy Martono.
Sebenarnya sawit itu bukan tanaman asli Indonesia, tetapi tanaman komoditas dari Afrika. Tetapi setelah ditanam di Indonesia, hasilnya justru bagus, melebihi daerah asal tanaman sawit. “Tanaman sawit itu tanaman naturalisasi, tetapi ketika dibudidayakan di Indonesia, hasilnya sangat bagus. Harusnya PSSI mencontoh GAPKI,” ujar Eddy berkelakar.
Meski bukan tanaman asli Indonesia, ternyata Indonesia justru mengekspor sawit ke negara asal sawit di Afrika. Nilai ekspornya 1 juta ton per tahun.
Terkait kasus kebakaran hutan dan lahan beberapa daerah di Indonesia, Eddy Martono memastikan tidak ada lahan di area konsensi yang dikelola para pengusaha kelapa sawit yang terbakar. Meski tidak ada area konsensi yang terbakar, tetapi para pengusaha kelapa sawit cukup aktif membantu pemadaman hutan dan lahan yang terbakar.
Ketum PWI Pusat Akhmad Munir mengingatkan kepada para wartawan untuk mengawal industri sawit di Indonesia agar ramah lingkungan, tidak melanggar HAM, menyerap banyak tenaga kerja, dan berkelanjutan secara bisnis.
Kelapa sawit merupakan komoditas andalan dan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Tentu ada saja negara-negara lain yang tidak suka industri sawit berkembang di Indonesia. Sehingga muncul fitnah-fitnah, seperti melanggar Amdal, merusak lingkungan, dan lainnya.
Saat membuat berita terkait industri sawit, wartawan harus berdasarkan data dan fakta, serta dilengkapi dengan narasumber kompeten. Jangan terseret isu-isu negatif yang mendiskreditkan pengusaha kelapa sawit. Ingat bahwa industri sawit penopang ekonomi Indonesia.
Ketua PWI DIY Hudono mengemukakan meski di Yogyakarta tidak ada tanaman kelapa sawit, tetapi informasi terkait sawit bisa menyebar luas dari Yogyakarta. Sehingga pelaksanaan Workshop tentang Industri Sawit, sangat tepat dilaksanakan di Yogyakarta.
Workshop Jurnalistik PWI-GAPKI bertema “Sinergi Pers-Industri Sawit untuk Kedaulatan dan Kemakmuran Indonesia” menghadirkan narasumber Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin MSc, Prof. Dr. Ermanto Fahamsyah SH. MH. dan Dr. Agus Sudibyo. (*)






