Advertisement
HAWS
SCROLL TO CONTENT ↓

Cara Menyikapi Undangan Tahlilan Kematian

Ustadz Eko Andono, S.Pd.I saat berceramah di Masjid Al Hikmah Kanoman 2, Ahad (25/10/2026). (Foto: Ernawati)

KULONPROGO – Ada pro kontra pelaksanaan tahlilan kematian di wilayah Kulonprogo dan sekitarnya. Namun perbedaan pandangan dan sikap ini tidak sampai mengganggu kerukunan warga.

Majelis Tarjih Muhammadiyah menilai upacara tahlilan yang dikaitkan dengan hari-hari tertentu setelah kematian tidak memiliki dasar dalil yang kuat dari Al-Quran maupun As-Sunnah.

Ada perbedaan yang jelas antara zikir membaca kalimat “La ilaha illallah” dan ritual upacara tahlilan kematian. Jika membaca kalimat tauhid “La ilaha illallah” sangat dianjurkan, kapan dan dimana saja.

Tapi kalau pelaksanaan tahlilan setelah kematian, seperti hari ke-7, ke-40, hingga ke-100, tidak memiliki dasar dalil yang kuat. Sehingga jelas tidak dianjurkan.

“Tidak ada dalil yang menunjukkan kegiatan tahlilan setelah kematian,” tegas Ustadz Eko Andono S.Pd.I, saat menyampaikan tauziahnya pada Pengajian Ahad Pagi, di Masjid Al Hikmah, Kanoman 2, Banjararum. Kalibawang, Ahad (25/10/2026).

Menurut Ustadz Eko Andono, bagi yang mendapat undangan tahlilan kematian, ada 2 cara untuk menyikapinya. Cara pertama, meminta izin untuk tidak datang dan menjelaskan paham yang diyakini berbeda dengan yang dilakukan.

Baca Juga:  Fungsi Pupuk Berunsur Nitrogen, Phospor, dan Kalium bagi Tanaman Buah Klengkeng

Cara kedua, apabila belum mampu untuk tidak datang, maka diperbolehkan datang dengan tujuan menghormati yang mengundang dengan niat bertakziah (menghibur).

Para jamaah PAP Kalibawang memadati jalan-jalan di sekitar Masjid Al Hikmah Kanoman 2, Ahad (25/10/2026). (Foto: Wiradesa)

Selain menjelaskan tanfidz fiqih tentang takziyah dan kematian, Ustadz Eko Andono juga memaparkan mengenai tingkatan Islam. Mulai dari Muslim tapi dzolim, Muslim pertengahan, sampai Muslim yang sabiqun khoirat.

Ustadz Ako Andono berharap para jamaah PAP Kalibawang menjadi Muslim yang sabiqun bil khoirat. Golongan orang-orang yang paling mulia dan berada di tingkatan tertinggi dalam ajaran Islam.

Sesuai QS. Fathir ayat 32, ciri-ciri golongan Sabiqun bil Khoirat, antara lain selalu mendahulukan untuk melakukan amal saleh tanpa menunda-nunda. Juga mengerjakan seluruh kewajiban agama, sekaligus rajin mengamalkan ibadah sunah. (*)

Tinggalkan Komentar