SLEMAN-Inovasi perlindungan anak berbasis masyarakat yang dikembangkan Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali menarik perhatian daerah lain. TP PKK Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan, melaksanakan kunjungan studi kaji untuk mempelajari pengembangan kampung ramah anak, penguatan peran keluarga, serta pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, Jumat 23 Oktober 2026
Rombongan yang dipimpin Ketua TP PKK Kabupaten OKU, Hj. Zwesty Karenia Teddy, ingin menggali berbagai inovasi dan praktik baik yang dapat diadaptasi untuk mendukung terwujudnya Kabupaten OKU sebagai kabupaten layak anak. Kegiatan berlangsung di Ruang Wacana Loka, Kantor Kalurahan Condongcatur, dengan jumlah peserta sekitar 40 orang.
Kunjungan merupakan bagian dari rangkaian studi kaji pelaksanaan 10 Program Pokok PKK di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya penguatan program Kelompok Kerja (Pokja) I yang membidangi penghayatan dan pengamalan Pancasila serta gotong royong.
Kedatangan rombongan disambut Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Condongcatur, Budi Arto, S.IP., M.AP., didampingi Carik Riska Dian Nur Lestari, S.TP., M.Sc., Ulu-Ulu Murgiyanta, S.E., Kamituwa Al Thouvik Sofisalam, S.IP., serta jajaran pamong dan staf Pemerintah Kalurahan Condongcatur.
Turut hadir Reny Wahyuningsih, A.Md.Ak., perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten OKU, bersama staf ahli, sekretaris, bendahara, ketua kelompok kerja, dan jajaran pengurus TP PKK Kabupaten OKU. Dari Pemerintah Kalurahan Condongcatur, kegiatan juga didampingi Wasana, S.H., Candra Widiyantoro, A.Md., serta Apri Nugroho, S.IP., yang sekaligus bertugas sebagai pembawa acara.
Dalam sambutannya, Budi Arto menyampaikan apresiasi atas kepercayaan TP PKK Kabupaten OKU yang memilih Condongcatur sebagai lokasi studi kaji. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus bertukar pengalaman dalam mengembangkan program pemberdayaan keluarga dan perlindungan anak.
“Kami berharap kunjungan menjadi sarana silaturahmi, bertukar ilmu, dan berbagi inovasi dalam mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, sehat, serta mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Budi Arto.
Ia menekankan bahwa keberhasilan membangun lingkungan ramah anak membutuhkan keterlibatan pemerintah, keluarga, TP PKK, dan seluruh elemen masyarakat.
“Mari bersama-sama memperkuat peran keluarga, TP PKK, dan masyarakat dalam melindungi anak serta menyiapkan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan berkarakter,” tambahnya.
Budi Arto juga memperkenalkan profil Condongcatur yang terdiri atas 18 padukuhan, 64 RW, dan 212 RT, dengan jumlah penduduk sekitar 45 ribu jiwa. Sebagai kawasan perkotaan di Kapanewon Depok, Condongcatur memiliki karakteristik masyarakat yang heterogen karena menjadi tempat tinggal mahasiswa, pekerja, dan penduduk pendatang dari berbagai daerah.
Keberadaan sejumlah perguruan tinggi di kawasan Depok, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), turut memengaruhi dinamika sosial serta kebutuhan pelayanan masyarakat. Menariknya, di wilayah Condongcatur juga terdapat asrama mahasiswa asal Kabupaten OKU. Keberadaan asrama tersebut menjadi salah satu bentuk keterkaitan sosial antara kedua daerah.
“Bukan tidak mungkin putra-putri bapak dan ibu dari Kabupaten Ogan Komering Ulu juga sedang menempuh pendidikan dan tinggal di wilayah Condongcatur,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Arto turut memperkenalkan sejumlah prestasi masyarakat Condongcatur. Di antaranya Bina Keluarga Remaja (BKR) Sedap Malam Gandok yang meraih juara III tingkat nasional serta Posyandu Asparagus II Babadan Baru yang mewakili DIY dalam kompetisi tingkat nasional setelah meraih juara pertama tingkat provinsi.
Ketua TP PKK Kabupaten OKU, Hj. Zwesty Karenia Teddy, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut dilatarbelakangi keinginan untuk mempelajari secara langsung berbagai inovasi yang telah dikembangkan masyarakat Condongcatur, khususnya kampung ramah anak, perlindungan perempuan dan anak, serta gerakan pencegahan penyalahgunaan narkoba.
Menurutnya, pengalaman Condongcatur dalam membangun kolaborasi pemerintah, TP PKK, dan masyarakat menjadi pembelajaran penting untuk diterapkan di Kabupaten OKU.
“Kami berharap ibu-ibu mendapatkan ilmu di Condongcatur agar dapat menduplikasikannya di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Banyak ilmu dan inovasi yang dapat kita pelajari. Bertanyalah dan galilah informasi positif serta bermanfaat dari para narasumber,” kata Zwesty.
Ia berharap hasil studi kaji tidak berhenti sebagai tambahan pengetahuan, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi program nyata yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat Kabupaten OKU, terutama dalam mendukung terwujudnya kabupaten layak anak.
Salah satu fokus utama pembelajaran yakni perjalanan Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) RW 18 Leles, Padukuhan Ngringin, dalam mengembangkan gerakan perlindungan anak berbasis masyarakat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Satgas PPA RW 18 Didiek Arifin, penasihat Paijan, Ketua RW 18 Yuliani Eka Ningsih, Sekretaris Satgas PPA Indrayani, serta pembina Satgas PPA Sumarni Suyanto yang sekaligus menjadi narasumber.
Dalam pemaparannya, Sumarni menjelaskan bahwa gerakan perlindungan perempuan dan anak di RW 18 Leles mulai dirintis pada 2014 melalui kegiatan simulasi Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).
Gerakan yang berawal dari kepedulian dan swadaya warga itu kemudian berkembang menjadi kegiatan edukasi, pencegahan kekerasan, pendampingan korban, serta kampanye Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Sumarni menegaskan bahwa keberhasilan gerakan tersebut tidak terlepas dari komitmen, keikhlasan, dan semangat gotong royong masyarakat yang terus tumbuh sejak awal pembentukan Satgas PPA.
“Kami memulai dari nol,” demikian salah satu penegasan dalam materi yang dipaparkan.
Menurutnya, perlindungan anak harus menjadi kepedulian seluruh masyarakat. Semangat tersebut tercermin dalam pesan yang terus dikembangkan Satgas PPA RW 18, yakni : semua anak adalah anak kita.
Melalui semangat kebersamaan, para penggerak secara mandiri mengembangkan kegiatan, meningkatkan kapasitas anggota, serta membangun jejaring dengan pemerintah dan lembaga terkait. Komitmen tersebut mengantarkan RW 18 Leles dicanangkan sebagai kawasan ramah anak oleh bupati Sleman pada 15 April 2018.
Perjalanan Satgas PPA RW 18 menjadi contoh bahwa gerakan perlindungan anak dapat tumbuh dari kepedulian sederhana di lingkungan masyarakat, kemudian berkembang melalui konsistensi, kebersamaan, dan dukungan berbagai pihak.
Selain mempelajari kelembagaan Satgas PPA, rombongan memperoleh penjelasan mengenai pengembangan Taman Edukasi dan Bermain Ramah Anak RW 18 Leles.
Taman yang berlokasi di Jalan Delima Raya, Padukuhan Ngringin, tersebut dibangun untuk menjawab keterbatasan ruang bermain anak di lingkungan permukiman sekaligus menyediakan sarana edukasi dan interaksi sosial yang aman. Fasilitas tersebut dibangun di atas tanah kas kalurahan seluas sekitar 440 meter persegi dengan dukungan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Tahun 2022 sebesar Rp554.375.250 dan diresmikan bupati Sleman pada 14 Januari 2023.
Taman dilengkapi berbagai fasilitas, antara lain area bermain, pojok baca, sarana olahraga, permainan tradisional, ruang edukasi teknologi, fasilitas sanitasi, serta akses yang memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas. Keberadaan taman tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga ruang pembelajaran yang mendorong anak berinteraksi, mengembangkan kreativitas, mengenal permainan tradisional, dan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gawai.
Pengembangan memperlihatkan pentingnya sinergi antara masyarakat, Pemerintah Kalurahan Condongcatur, dan Pemerintah Kabupaten Sleman dalam menghadirkan ruang publik yang ramah anak.
Materi berikutnya disampaikan Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, S.IP., mengenai pengembangan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Ia menjelaskan bahwa PATBM merupakan gerakan perlindungan anak yang melibatkan jaringan masyarakat secara terkoordinasi untuk mencegah kekerasan sekaligus memperkuat kemampuan keluarga dan lingkungan dalam memberikan perlindungan.
Al Thouvik menekankan pentingnya membangun kesadaran bersama bahwa perlindungan anak harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga, kemudian diperkuat melalui keterlibatan masyarakat dan pemerintah.
Menurutnya, PATBM tidak hanya berorientasi pada penanganan kasus, tetapi juga mengutamakan pencegahan melalui edukasi, penguatan pola asuh keluarga, serta pembentukan jejaring perlindungan anak.
Pelaksanaan PATBM mencakup tiga sasaran utama, yakni anak, keluarga, dan komunitas masyarakat. Pada tingkat anak, program diarahkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai hak anak dan kemampuan melindungi diri dari kekerasan. Pada tingkat keluarga, kegiatan difokuskan pada penguatan pola pengasuhan positif, sedangkan pada tingkat masyarakat diarahkan untuk membangun norma sosial antikekerasan dan kepedulian terhadap keselamatan anak.
Melalui Satgas PPA, Pemerintah Kalurahan Condongcatur juga mendorong penguatan koordinasi, sosialisasi, penerimaan pengaduan, pendampingan, serta rujukan kasus melalui kerja sama dengan instansi terkait.
Al Thouvik menjelaskan bahwa keberhasilan perlindungan anak membutuhkan sinergi keluarga, TP PKK, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat. Semangat tersebut diwujudkan melalui gerakan Bersama Lindungi Anak (BERLIAN), dengan pesan utama bahwa setiap anak memiliki hak untuk tumbuh, berkembang, dan mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan.
Kegiatan studi kaji berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Para peserta mengikuti pemaparan materi melalui presentasi, menyimak penjelasan narasumber, serta terlibat dalam sesi diskusi dan tanya jawab.
Materi yang disampaikan mencakup perjalanan pembentukan Satgas PPA RW 18, pengembangan taman edukasi, hingga strategi membangun keluarga dan lingkungan ramah anak melalui gerakan PKK.
Antusiasme peserta terlihat saat mengikuti sesi pembelajaran dan berdiskusi mengenai pengalaman pengelolaan program berbasis masyarakat.
Pertemuan tersebut menjadi sarana mempererat hubungan antardaerah sekaligus memperluas jejaring pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan inovasi pemberdayaan keluarga.
Kunjungan ke Condongcatur merupakan bagian dari rangkaian studi kaji TP PKK Kabupaten OKU di sejumlah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelumnya, pada Senin (19/10/2026), rombongan mempelajari Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB) melalui Pokja IV di Kalurahan Karangasem, Kabupaten Gunungkidul.
Pada Selasa (20/10/2026), kegiatan dilanjutkan dengan pembelajaran 10 Program Pokok PKK dan Gerakan Keluarga Indonesia dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Pengelolaan Ekonomi (Gelari Pelangi) melalui Pokja II di Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Selanjutnya, pada Kamis (22/10/2026), rombongan mempelajari program ketahanan pangan melalui Pokja III di Kabupaten Kulon Progo, sebelum melanjutkan pembelajaran Kampung Ramah Anak melalui Pokja I di Condongcatur pada Jumat (23/10/2026).
Melalui rangkaian studi kaji tersebut, TP PKK Kabupaten OKU diharapkan memperoleh berbagai referensi program yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat di daerah asal.
Rangkaian kunjungan diakhiri dengan sesi foto bersama antara rombongan TP PKK Kabupaten OKU, jajaran Pemerintah Kalurahan Condongcatur, dan pengurus Satgas PPA RW 18 Leles. Foto bersama dilaksanakan di Ruang Wacana Loka dan dilanjutkan di Pendopo Kalurahan Condongcatur yang memiliki arsitektur tradisional Jawa dengan bangunan joglo yang megah.
Keindahan bangunan pendopo dengan ciri khas arsitektur Jawa tersebut memberikan kesan tersendiri bagi rombongan dari Sumatera Selatan. Para peserta mengaku terkesan dengan kemegahan pendopo dan keunikan bangunan joglo yang menjadi salah satu identitas budaya Yogyakarta.
Selain menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan, keberadaan pendopo tersebut juga mencerminkan upaya Pemerintah Kalurahan Condongcatur dalam mempertahankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal di tengah perkembangan wilayah perkotaan. Suasana penuh keakraban mewarnai akhir kunjungan, sekaligus menjadi simbol terjalinnya hubungan baik antara masyarakat Kabupaten OKU dan Kalurahan Condongcatur.
Kunjungan ini diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan pengurus TP PKK Kabupaten OKU, tetapi juga membuka peluang pengembangan inovasi perlindungan anak yang dapat diterapkan sesuai karakteristik masyarakat di daerah asal.
Pengalaman Condongcatur, khususnya RW 18 Leles, menunjukkan bahwa lingkungan ramah anak dapat dibangun melalui kepedulian warga, semangat gotong royong, dan kolaborasi berkelanjutan. Dari lingkungan masyarakat yang peduli, lahir gerakan perlindungan anak yang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, berkarakter, dan terlindungi. (*)






