China merupakan salah satu negara yang peduli akan penghijauan. Penanaman sekitar 66 miliar pohon dalam merealisasikan Program Great Green Wall menjadi bukti bahwa negara Tirai Bambu ini akan pentingnya keberadaan hutan.
Sejak tahun 1978, China telah melaksanakan Program Great Green Wall. Program penghijauan untuk merespons perubahan iklim ini sudah direalisasikan dengan menanam sekitar 66 miliar pohon.
Ahli Ekologi Lanskap dari Universitas Peking, Yuhang Luo, berupaya mencari perbedaan dari hutan buatan ini dengan hutan alami. Hutan buatan diartikan sebagai sengaja diciptakan dan hutan alami tumbuh tanpa ada tangan manusia.
Tim peneliti juga mempelajari keanekaragaman spesies, kepadatan pohon dan usia serta dampaknya pada peningkatan Co2 dan perubahan iklim. Mereka menggunakan data satelit untuk melacak indeks luas daun, kepadatan kanopi, dan penyerapan karbon.
Hasil analisis, hutan buatan 6,6 persen lebih cepat untuk meningkatkan luas daun dari hutan alami. Alasannya karena perbedaan usia, sebab hutan buatan memiliki pohon berusia muda dibandingkan hutan alami.
Dari sisi usia dan pertumbuhan, hutan tanam juga jauh lebih unggul. Pertumbuhan 4,6 persen lebih cepat dari hutan campuran maupun evergreen. Lou tetap menekankan keunggulan hutan alami soal penyimpanan karbon dan ketahanan dalam jangka Panjang.
“Hutan tanaman bisa menjadi alat ampuh dalam jangka pendek untuk menyerap karbon, namun keunggulan ini bersifat sementara. Untuk penyimpanan karbon jangka panjang dan ketahanan, hutan alami tidak tergantikan,” jelas Lou, dikutip dari Live Science, Jumat (3/7/2026).
Meski demikian, proyek Great Green Wall akan tetap dijalankan dengan pembangunan 34 miliar pohon lagi pada pertengahan abad. (*)







