KALIBAWANG – Warung Makan Mbah Sri di Banjarharjo Kalibawang, pada Minggu 13 Juli 2025, sejak pagi ramai pembeli. Para penikmat masakan khas Mbah Sri ini tidak hanya datang dari Kalibawang dan sekitarnya saja, tetapi juga dari luar daerah.
Banyaknya pembeli tidak hanya pada hari Minggu saja, tetapi juga pada hari-hari biasa. Para pembeli tidak hanya datang dengan sepedamotor, tetapi banyak yang mengendarai mobil. Ini menandakan, pembeli warung Mbah Sri banyak yang dari luar kota.
“Kami sekeluarga dari Yogya ke sini ingin sarapan nasi buntil dengan iwak kali,” ujar Siswanto yang datang bersama keluarga ke warung Mbah Sri Banjarharjo Kalibawang, Minggu (13/7/2025) pagi.
Selain Sayur Buntil dan Iwak Kali, Warung Mbah Sri juga menawarkan menu sayur jadul, seperti Sayur Lompong (batang daun Talas) dan Oseng-oseng Daun Pepaya. Lauknya Wader Goreng, Sidat Goreng, dan Mangut Lele.
Masakan Buntil ini jarang ditemui di kota. Bahkan warung-warung makan di perdesaan, jarang yang menyediakan menu Buntil. Sayur Buntil terbuat dari daun Talas yang di dalamnya diisi dengan parutan kelapa dan ikan Teri. Bentuknya dibuat bulat dan diikat dengan tali.
Sedangkan Iwak Kali khas Mbah Sri disajikan dengan dua masakan. Satu digoreng, seperti presto, renyah gurih, dan satu lagi dibumbui seperti mangut, pedas. Rasanya memang khas ndeso, karena dimasak dengan kayu bakar dan menggorengnya dua kali, sehingga durinya menjadi lunak.
Warung Mbah Sri di Banjarharjo sudah buka sejak tahun 1980-an. Dulunya Mbah Sri menjual masakan Iwak Kali ke Pasar Borobudur. Setiap pagi, ibu ini naik sepeda dari Banjarharjo ke Borobudur yang jaraknya sekitar 15 kilometer.
Kerja kerasnya kini membuahkan hasil. Sejak dibuatkan kios atau warung di sisi utara Puskesmas Kalibawang, usaha kuliner khas Iwak Kali Mbah Sri terus berkembang dan laris manis sampai sekarang.
Kini usaha kuliner dengan menu khas masakan Iwak Kali diteruskan keluarganya. Mbah Sri sekarang tidak lagi berjualan atau menangani langsung. Mbah Sri yang sekarang berusia 85 tahun, tiduran di kamar belakang warung makan.

“Yo ngene mas, lagi entuk ganjaran (Ya begini ini mas, baru dapat cobaan),” ucap Mbah Sri lirih, saat wartawan Wiradesa.co menengok di kamarnya. Mbah Sri tergolek di kamarnya karena sakit tua.
Namun dari sorot mata dan raut wajahnya, Mbah Sri tampak bahagia. Tokoh legendaris masakan Iwak Kali Progo ini telah mewariskan menu lokal yang spesial. Masakan Mbah Sri selalu ngangeni dan dicari oleh penggemar kuliner yang datang dari berbagai kota di Indonesia. (Ono)







