KULONPROGO – Mencoba berbagai pekerjaan hingga akhirnya menemukan jalan rezeki yang pas lazim dialami anak muda.
Begitu pun dengan Dwi Mulyono. Pemuda asal Kularan RT 02 RW 01, Triharjo, Wates, sebelum menekuni bisnis lele pertama kali pada 2005, ia telah mencoba beberapa jenis pekerjaan.
Lulus SMA Negeri 2 Wates 1996, ia langsung jualan angkringan lalu menjajal jualan roti bakar dan susu murni di seputar Bendungan. Pernah pula owner Lele Mulyojoyo itu jualan salak di rumah namun tak berlanjut.
“Kalau mau kilas balik, yang paling lama di lele. Mulai bentuk kelompok pemelihara atau budidaya lele pada 2004. Memakai sistem kolam terpal,” ungkapnya saat bertemu wiradesa.co, Senin 15 November 2021.
Dari mulanya enam orang, kelompok budidaya lele pada waktu itu berkembang dengan anggota sekitar 25 orang. Ada divisi budidaya, pakan hingga pemasaran.
“Karena minim ilmu, kami ikut pelatihan kewirausahaan. Programnya dulu Tenaga Kerja Mandiri Terdidik. Belajar lele dari benih, merawat hingga panen. Belajarnya di sentra lele Ngrajek, Magelang,” ucapnya.
Meski dikelola profesional dan punya omzet penjualan hingga 2 ton sebulan, akibat kalah persaingan dengan petani lele luar kota, usaha Dwi Mulyono bareng rekan-rekannya di kelompok usaha lele akhirnya kandas.
Pernah Alami Bangkrut
“Dulu sudah punya mitra pedagang antara lain setor ke pedagang ikan di Pasar Kranggan Yogya satu kuintal per dua hari. Sumber ikan dari kelompok dan mitra. Memasok juga ke katering dan rumah makan. Tetapi masa-masa seperti itu tak bertahan lama. Di 2012 saya bangkrut,” kenangnya.
Kebangkrutan dialami Dwi Mulyono akibat menumpuknya uang setoran lele di pedagang yang tak tertagih. Dari sedikit lalu terakumulasi hingga tagihan macet di beberapa pedagang mencapai Rp 20 juta. Sementara dirinya harus tetap bertanggung jawab kepada para petani yang mengelola kolam.
“Lelah menagih setoran. Waktu habis buat mondar-mandir nagih, nggak kerja, dapat tagihannya paling Rp 100-200 ribu sekali berangkat. Hal itu berimbas ke petani, saya tak bisa bayar tunai. Dulu tanggungan ke petani mencapai Rp 30 juta. Saya selesaikan bertahap,” kata Dwi yang mengaku sebagian besar tagihan ke pedagang di masa lalu tak terlunasi dan dilupakan begitu saja.
Selain itu, dengan tetap menjaga silaturahmi dengan petani, ia menyampaikan terus terang kendala yang dialami. Karena itu, Dwi Mulyono tetap mendapat kepecayaan dari para petani mitra di kelompoknya.
Setelah kelompok ternak lele tak lagi aktif, Mulyono tak ganti haluan alias kerja di bidang lain. Ia mencoba bangkit kembali pada usaha pemasaran lele.
Ia memilih mitra usaha yang lebih bisa dipercaya. Sistem penjualan kini hanya melayani pembelian dengan pembayaran tunai bukan sistem pembayaran tempo. Di rumahnya dia menyiapkan kolam tampung tak terlalu besar. Kurang lebih berukuran 2×2 dan 3×5. Kedalaman air kolam tampung sekitar 1,2 meter. Di samping rumahnya terdapat lima petak kolam tampung.
“Lele pangsa pasarnya jelas. Kalangan menengah ke bawah bisa menjangkau lauk lele, peluang pasar lele di DIY tinggi, karena ada banyak kampus, banyak tempat makan kaki lima yang butuh pasokan lele segar,” tambah Dwi Mulyono soal alasannya tetap menekuni usaha lele dan tak kapok meski pernah bangkrut dan rugi besar. Adanya dukungan penuh keluarga dan dorongan para sahabat makin membuatnya tak ragu untuk memulai usaha lele kembali meski pada saat bangkrut 2012, harus melakukan penataan ulang dari awal.
Belajar dari kegagalan terdahulu, Dwi Mulyono kini lebih ketat dalam urusan penjualan. Sebagai pedagang lele mandiri, tak lagi terikat pada kelompok ternak lele, Dwi Mulyono hanya mengandalkan setoran lele dari empat orang petani. Ia tak menerima penjualan di luar empat petani mitra dan jejaring, demi menjaga kontinuitas pasokan lele segar.
“Permintaan konsumen macam-macam. Size 1 kg isi 7-8 lele, ada yang minta isi 10 lele per kg, ada pula yang minta 1 kg isi 12 lele,” paparnya sambil mengatakan total pesanan lele dalam sebulan bisa mencapai 1 ton bahkan terkadang lebih. (Sukron)








