Lumbung Mataraman Tempat Membangun Jiwa Mandiri Pangan

 Lumbung Mataraman Tempat Membangun Jiwa Mandiri Pangan

Lumbung Mataraman di Bendung, Semin, Gunungkidul, Jumat (8/9/2023). (Foto: Wiradesa)

GUNUNGKIDUL – Lumbung Mataraman di Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak hanya sebagai wahana pembelajaran pertanian terpadu saja, tetapi juga sebagai tempat membangun jiwa mandiri pangan.

Area penerapan konsep pertanian terpadu (integrated farming) seluas 1,5 hektar di sisi Kantor Kalurahan Bendung itu sebagai wahana untuk belajar tentang budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan pemeliharaan kambing. Namun outputnya ternyata tidak hanya panen jagung, sayur mayur, buah-buahan, dan kambing saja, tetapi sumberdaya manusia yang unggul, berkualitas, dan mandiri.

“Pembangunan SDM, membangun jiwa itu yang kami utamakan. Karena pembangunan apapun, termasuk bidang pertanian dan peternakan, memerlukan sumberdaya manusia berkualitas,” ujar Didik Rubiyanto, Lurah Bendung, saat ditemui Wiradesa.co di Kantor Kalurahan Bendung, Jumat 8 September 2023.

Dengan keberadaan Lumbung Mataraman yang diresmikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 29 Desember 2022 ini, petani di desa bisa belajar tentang pengolahan lahan, pembuatan pupuk organik, pakan ternak, teknologi pertanian, kerjasama antarpetani, dan pengolahan hasil tanaman dan ternaknya. Para anggota kelompok tani juga membuat demplot pertanian terpadu di tingkat padukuhan. Kemudian juga ada yang memanfaatkan pekarangannya untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

“Dulu masyarakat di Kalurahan Bendung itu terbelakang, miskin, dan kurang percaya diri. Sekarang dengan terbangun jiwanya, warga Bendung sudah mandiri pangan, bahkan surplus beras,” papar Didik Rubiyanto. Jiwa mandiri para petani Bendung itu tertempa oleh keadaan, memiliki pikiran terbuka, dan para tokohnya, seperti aparat kalurahan, berpikiran maju, serta terus berupaya untuk mewujudkan desanya mandiri dan warganya sejahtera.

Lurah Bendung Didik Rubiyanto. (Foto: Wiradesa)

Lokasi Lumbung Mataraman bukan di lahan yang subur, irigasinya lancar, dan petaninya melek teknologi, tetapi wahana pembelajaran pertanian terpadu ini dibangun di lahan yang tandus, sulit air, dan petaninya jadul. Menariknya dan menjadi pembelajaran bersama, meski tanahnya tandus, susah air, dan petaninya kuno, tetapi dengan kerja keras dan menerapkan teknologi pertanian, lahan itu bisa ditanami tanaman pangan dan hortikultura, serta untuk pemeliharaan kambing yang hasilnya sangat memuaskan.

Baca Juga:  Operasi Ketupat Selesai, Polres Purbalingga Lanjutkan dengan Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan

Dengan keberadaan Lumbung Mataraman, para petani di Kalurahan Bendung, sekarang mampu membuat pupuk untuk memenuhi kebutuhan pupuk tanaman pangan dan hortikultura. Produk pupuk cair terbuat dari urine kambing dan pupuk padat dari srinthil atau kotoran hewan (kohe) kambing. “Pupuk cair dan padat produk kami, selain untuk memenuhi kebutuhan pupuk di Lumbung Mataraman, juga kami jual ke luar,” ujar Supardi, Ketua Gapoktan Maju Makmur Bendung.

Supardi menjelaskan, pupuk cair terbuat dari ramuan urine kambing, limbah buah, air cucian beras, air kelapa, akar bambu, tetes tebu, dan bonggol pohon pisang. Bahan yang padat dicacah menjadi kecil-kecil, lembut, terus dicampur dengan bahan yang cair, dimasukkan dalam wadah (tong plastik) dan ditutup rapat, disegel. Proses fermentasi ini memerlukan waktu 21 hari.

Sedangkan, pupuk padat berbahan baku dari kotoran hewan (kohe) kambing. Proses pembuatannya, kohe disemprot BK (decomposer) dan ditutup terpal atau plastik. Waktu proses fermentasi selama 21 hari. Pupuk padat organik ini selain untuk memenuhi tanaman pangan dan hortikultura di Lumbung Mataraman, juga dijual ke para petani. Harganya Rp 1.300 per kilogram. “Kami mengemaskan dalam tiga ukuran, isi 5 kilogram, 15 kilogram, dan 25 kilogram,” jelas Supardi.

Penerapan konsep pertanian terpadu di lahan kering dan hasilnya bagus itu menarik para petani dan aparat pemerintah dari berbagai daerah untuk beajar atau melakukan studi tiru di Lumbung Mataraman Bendung. “Sampai September 2023 sudah ada 13.000 orang yang berkunjung dan belajar di Lumbung Mataraman Bendung,” ungkap Bayu Saputra, Ketua Desa Wisata Among Kisma Kalurahan Bendung.

Sekarang pengelola Desa Wisata Among Kisma membuat paket Agro Edu Wisata Pertanian. Juga menawarkan Jemparingan Patrijiwo dan menyajikan Cokekan, Wayang Climen, Karawitan Sanggar Omah Dalang, serta Jathilan dan Tari Sanggar Kinasih. Dengan sajian dan pelayanan yang baik terhadap wisatawan, Desa Wisata Among Kisma terpilih sebagai Juara 2 Desa/Kampung Wisata DIY tahun 2023, juga Juara Harapan 1 Homestay Tingkat DIY tahun 2023.

Baca Juga:  Tiga Tahun ‘Menghilang’ Mbah Gito Membangun Karya Spektakuler Joglo Tri Yaksa

Akhirnya terbukti bahwa kualitas sumber daya manusia akan menentukan keberhasilan pembangunan di bidang apapun, termasuk bidang pertanian dan peternakan. Terbentuknya jiwa mandiri, ternyata mempercepat terwujudnya ketahanan pangan di daerah manapun. Bahkan di daerah yang tandus dan susah air, bisa terwujud masyarakat atau desa mandiri pangan. (Ono Jogja)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: