Ngobrol Asyik Sambil Ngopi: Sulitnya Mencari Ikon di Kebumen

Para wartawan Kebumen di Bunker Kaliadem. (Foto: Istimewa)

SULITNYA mencari ikon atau produk unggulan, minimnya narasumber kompeten, dan rendahnya tingkat ekonomi masyarakat di Kebumen, menjadi keprihatinan para wartawan yang bertugas di wilayah Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Meski dihadapkan pada berbagai persoalan, tetapi para jurnalis tetap ingin berkontribusi bagi pembangunan di Kebumen.

Berbagai persoalan itu dirasakan para jurnalis Kebumen saat berdiskusi dengan penulis di Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (21/10/2022) malam. Ngobrol asyik sambil ngopi berlangsung sampai pukul 24.00. Udara dingin yang menerpa tubuh tidak menyurutkan kehangatan diskusi kami tentang pembangunan di wilayah Kabupaten Kebumen.

Imam Wahyudi, salah seorang jurnalis senior yang bertugas di Kebumen Ekspres, mengungkapkan kegelisahannya, tentang pudarnya masa keemasan sarang burung walet di Kebumen. Dulu walet itu menjadi ikon Kabupaten Kebumen. Bahkan sampai dibangunkan Tugu Walet di tengah Kota Kebumen.

Karena dulu, hasil dari sarang burung walet memberikan kontribusi besar pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kebumen. “Dulu 80 persen jumlah total PAD Kebumen itu dari hasil sarang burung walet. Sekarang pemasukan dari sarang burung walet hanya Rp 10 juta per tahun. Sangat ironis dan memprihatinkan,” kata Imam.

Baca Juga:  18 PKBM di Purbalingga Bahas Percepatan Penanganan ATS

Kenapa kontribusi walet terhadap PAD Kebumen sampai anjlok atau terjun bebas seperti itu? Penyebabnya banyak, tetapi faktor utamanya karena kebutuhan perut masyarakat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Jika masalah kemiskinan teratasi, maka kepunahan burung walet bisa dihindari dan panen bisa dilakukan selama tiga kali dalam setahun.

Dulu, kata Imam, panen sarang burung walet itu setahun tiga kali. Selanjutnya, karena kebutuhan hidup terus mendesak, masa pengambilan sarang dilakukan setiap bulan atau setahun 12 kali dan sekarang hampir setiap hari dicari sarangnya sampai ke bukit-bukit karang. Banyak anak burung walet yang mati karena terjatuh ke laut. Makanya tidak perlu heran jika burung walet yang dulu menjadi ikon Kabupaten Kebumen sekarang di ambang kepunahan.

Persoalan kemiskinan menjadi sorotan atau topik obrolan para jurnalis. Syarif Hidayat, jurnalis Sorot.co memaparkan dulu wilayah Kebumen itu menjadi salah satu lumbung padinya Jawa Tengah. Penghasil padi yang melimpah dan berkualitas. Kini lumbungnya sudah mulai banyak yang ambruk. “Bahkan sampai tikusnya mati di lumbung padi,” ujar Arif, panggilan akrab Syarif Hidayat, sambil tertawa.

Baca Juga:  Bupati Purbalingga Rotasi 15 Jabatan di Lingkungan Pemkab

Berdasarkan data sampai Maret 2021 yang disampaikan Abdul Kholik, anggota DPD RI Dapil Jateng, tingkat kemiskinan di Kebumen itu tertinggi dibandingkan 34 kabupaten/kota lainnya di Provinsi Jawa Tengah. Tingkat kemiskinan Kabupaten Kebumen sebesar 17,83 persen dari jumlah total penduduk. Jumlah ini di atas jauh dari tingkat kemiskinan rata-rata di Jateng yang sebesar 11,78 persen.

Dengan tingginya angka kemiskinan itu, maka tidak heran jika masyarakat Kebumen akan melakukan apapun untuk memenuhi kebutuhan perut. Termasuk setiap hari mencari sarang burung walet sampai ke perbukitan karang di Kebumen selatan. Mereka tidak peduli soal kepunahan burung walet. “Daripada dirinya yang punah, lebih baik burung waletnya yang punah” pikir warga Kebumen.

Sebenarnya para jurnalis ingin mendidik dan mencerdaskan masyarakat Kebumen, tetapi juga dihadapkan dengan minimnya pakar di Kebumen. Jangankan pakar burung walet, bidang-bidang lain yang sering bermasalah, seperti sosial, ekonomi, politik, hukum dan lainnya juga sulit untuk mendapatkan narasumber kompeten.

Para jurnalis Kebumen merasa tidak beruntung seperti yang dialami para wartawan di Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan kota-kota lainnya. Jika di Yogyakarta, banyak pakar dari berbagai bidang yang kompeten untuk dijadikan narasumber. “Kalau di Kebumen. narasumbernya seperti slogannya SCTV, satu untuk semua,” ujar Arif.

Baca Juga:  Staf Kalurahan Condongcatur dan Keluarga Gelar Bukber

Tidak terasa malam semakin larut, jarum jam menunjukkan pukul 24.00. Udara dingin semakin menusuk tulang. Di akhir obrolan, Imam (Kebumen Ekspres), Syarif (Sorot.co), Hexa (Detik.com), Hafidz (Radar Jogja), Anto (Suara Merdeka), Iwan (Ratih TV ), dan para wartawan Kebumen lainnya masih tetap optimis dengan pembangunan di Kabupaten Kebumen.

Penulis bersama Bupati Kebumen H Arif Sugiyanto SH. (Foto: Istimewa)

Para jurnalis sepakat masih ada potensi yang perlu dioptimalkan untuk pembangunan di Kebumen, yakni budaya gotong royong warga. “Ngobrol Asyik Sambil Ngopi” bisa dilanjut di Kebumen. Para wartawan siap berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat Kebumen dengan ikon “Gotong Royong Juga Bisa”. (Sihono HT, Founder Wiradesa.co)

Tinggalkan Komentar