Obrolan Ringan Ketika Penulis Syawalan

Silaturahmi Syawalan anggota Forum Penulis Kebumen Eko Wahyudi (paling kiri), Sukron Makmun dan Farida Ifadati. (Foto: Wiradesa)

KEBUMEN – Kesempatan libur Syawalan selain halal bihalal juga sekaligus bisa dijadikan sebagai sarana menyambung tali silaturahmi. Kesempatan buat diskusi ringan menyampaikan uneg-uneg atau pemikiran konstruktif tentang banyak hal pun terbuka lebar.

Seperti dilakukan tiga penulis anggota Forum Penulis Kebumen (FPK) Farida Ifadati, Eko Wahyudi dan Sukron Makmun, yang memanfaatkan pertemuan dalam rangka halal bihalal menjadi ajang obrolan ringan tentang agenda komunitas penulis di Kebumen yang lahir pada 2009 lalu.

“Sebenarnya ingin sekali mengajak teman-teman yang punya hobi menulis untuk mengadakan pertemuan rutin bulanan seperti dulu. Berdiskusi soal menulis biar yang belum lancar menulis atau yang kadang masih suka malas-malasan seperti saya agar bisa lebih bersemangat karena ada yang menyemangati,” ujar Farida, pengundang sekaligus sebagai tuan rumah pertemuan silaturahmi Lebaran, Selasa 3 Mei 2022.

Menanggapi usulan Farida warga Panggel Kebumen, Eko Wahyudi, yang kini dituakan di komunitas FPK mengatakan, kecenderungan kreativitas menulis diakuinya banyak menurun dibanding satu dekade lalu. Penyebabnya proses kreatif menulis kurang terakomodasi secara maksimal oleh media yang ada juga oleh segmen pembaca.

Baca Juga:  Sanggar Anak Alam Membangun Ekosistem Belajar

“Menulis jika sekadar eksplor karya, belum tentu dibaca. Pembaca punya kecenderungan menyimak sesuatu terutama informasi terbatas pada apa yang dia butuhkan dan yang memberi keuntungan. Jadi lebih pragmatis. Itu trennya,” terang Eko Wahyudi yang juga guru SMP Negeri 1 Karangsambung.

Eko bahkan mengaku sedikit pesimis terhadap kemajuan dunia penulisan kreatif. Ia berujar, platform media digital yang diharapkan menjadi pengganti media cetak atau kertas belum menampung karya para penulis. “Jumlah platform digital memang melonjak drastis namun dukungan baik ruang (rubrikasi) maupun finansial bagi penulis belum sesuai dengan harapan,” ujar Eko yang membandingan dengan suasana jaya era media cetak di masa lalu yang membuka pintu lebih luas bagi karya para penulis lewat sediaan rubrik yang ada.

Diakui Eko, ide para penulis pada zaman dulu lebih diakomodasi lewat kemudahan publikasi hingga didukung reward yang layak sehingga memancing penulis untuk terus-menerus berpacu mengadu kompetensi. “Rubrikasi media cetak waktu itu benar-benar bisa diandalkan para penulis menjadi arena menuangkan karya,” imbuhnya.

Baca Juga:  Desa Tanggulangin Kawasan Pembibitan Sapi PO Unggulan Kebumen

Sedangkan pada proses karya kreatif di perbukuan, Eko mengkritisi kelahiran satu buku belum diimbangi oleh kelahiran pembaca. Betul bahwa terbitan buku bertambah terus namun dari sisi kualitas dan tingkat keterbacaannya di masyarakat masih dipertanyakan. “Ukuran sukses suatu terbitan buku paling gampang masyarakat mau mencari buku itu untuk dibacanya. Namun, tak sedikit buku lahir hanya dalam jumlah terbatas. Bahkan hanya sepuluh eksemplar hanya sekadar memenuhi persyaratan penilaian untuk mendapatkan angka kredit, misalnya,” ucap Eko.

Eko menambahkan, mudahnya penerbitan bernomor ISBN banyak menyumbang produktivitas penulisan buku meski buku tersebut tak mendapatkan apresiasi masyarakat (pembaca).

Pada obrolan siang itu, Eko pun mempertanyakan, sebagai penggerak literasi ia bingung mesti mengarahkan langkah ke mana. Ke arah menulis di platform media tak lagi leluasa. Namun dia buru-buru menjawab, bagi orang seperti dirinya menulis adalah sebuah komitmen. Tanpa lagi diembel-embeli ada honor atau tidak ia tetap menulis. Komitmen ingin jadi penulis maka mau tak mau harus tetap menulis. Tema/angle tulisan bisa diarahkan kepada apa yang tengah diminati publik agar banyak dibaca. Sedangkan untuk kesejahteraan, penulis bisa mencari alternatif solusi lewat berbagai gelaran lomba penulisan.

Baca Juga:  Budidaya Jenitri di Pandansari, Dulu Satu Biji Pernah Ada yang Laku Rp 80 Ribu

“Dulu memotivasi orang agar mau menulis biasanya disampaikan setidaknya, menulis bisa dapat jenang (uang, ekonomi) juga dapat jeneng (nama). Tentu memotivasi menulis makin berat ketika rupiahnya dari media sudah tak ada. Sedangkan soal jeneng, eksistensi nama kini bisa didapat dengan lebih instan, mudah, tanpa harus melalui jalur menulis. Asal like, komen, follower banyak, seseorang bahkan bisa dapat keduanya,” pungkasnya. (Sukron)

Tinggalkan Komentar