Sendratari Manusuk Sima I Upit: Merawat Sejarah Lokal, Memperkenalkan Potensi Budaya, Pariwisata, dan Ekologi Klaten

Pagelaran Sendratari Manusuk Sima I Upit di Balai Desa Kahuman, Minggu (2/8/2026) malam. (Foto: Ilyas Syatori)

Pemerintah Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, menggelar pagelaran Sendratari Manusuk Sima I Upit di Balai Desa Kahuman, Minggu (2/8/2026) malam. Kegiatan yang berdampak pada upaya merawat budaya lokal, memperkenalkan potensi budaya, pariwisara, dan ekologi Klaten tersebut dihadiri ratusan warga serta sejumlah tokoh pemerintahan dan akademisi.

Pagelaran ini mengangkat kisah sejarah penetapan Ngupit sebagai Sima Pardikan pada tahun 866 Masehi, atau sekitar 1.160 tahun yang lalu. Melalui seni pertunjukan tari dan drama, masyarakat diajak mengenal kembali peristiwa sejarah ketika Ngupit menjadi salah satu wilayah penting dalam masa Kerajaan Medang.

Dalam cerita yang dibawakan, Ngupit digambarkan sebagai wilayah yang memiliki kemakmuran agraris dengan hasil pertanian melimpah. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang menjadikan Ngupit memiliki kedudukan strategis. Penetapan sebagai Sima juga berkaitan dengan peran wilayah tersebut dalam membantu Kerajaan Medang menghadapi ancaman pemberontakan Kukumbayoni yang mengganggu stabilitas kerajaan.

Sutradara Sendratari Manusuk Sima I Upit, Rohani, menyampaikan bahwa kelahiran Ngupit sebagai desa perdikan tidak dapat dilepaskan dari kekayaan alam yang dimiliki wilayah tersebut. Menurutnya, hubungan antara masyarakat Ngupit dengan alam telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah desa hingga saat ini.

Baca Juga:  Gandeng Dinnaker, Polres Purbalingga Gelar Pelatihan Keterampilan Kerja

“Kekayaan alam Ngupit menjadi salah satu fondasi penting yang memungkinkan wilayah ini berkembang sebagai desa perdikan atau sima. Warisan itu masih dapat kita lihat sampai sekarang, salah satunya melalui keberadaan Sendang Pengilon yang terus menghidupi pertanian dan masyarakat sekitar,” ujar Rohani.

Ia menambahkan bahwa keberadaan sumber air tersebut menunjukkan adanya kesinambungan antara masa lalu dan kehidupan masyarakat hari ini. Karena itu, menjaga kelestarian sumber daya alam menjadi bagian penting dalam merawat warisan sejarah Ngupit.

Pagelaran tersebut dihadiri oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, anggota DPRD Jawa Tengah Bayu Kusuma dan Amton Lami, Guru Besar Universitas Gadjah Mada Prof. Timbul, Ketua FKUB Klaten KH Samsudin Asrofi, serta mendapat sambutan secara virtual dari Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menyampaikan bahwa Klaten perlu memperkuat identitas daerah melalui pembacaan kembali sejarah lokal. Menurutnya, Klaten memiliki kekayaan sejarah yang panjang dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari narasi pariwisata daerah.

Baca Juga:  Sekcam Pasarkliwon dan Rombongan Pelajari Tata Kelola Sampah dari Hulu hingga Hilir
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo bersama beberapa tokoh dan seniman Sendratari Manusuk Sima I Upit di Balai Desa Kahuman, Minggu (2/8/2026) malam. (Foto: Ilyas Syatori)

“Klaten harus mulai membaca sejarahnya sendiri. Ternyata Klaten memiliki kekayaan sejarah yang sangat kaya dan tua. Harapannya, event yang dimulai dari Ngupit ini menjadi penanda bahwa pariwisata Klaten tidak hanya berbicara tentang destinasi, tetapi juga tentang nilai dan narasi sejarah yang ada di dalamnya,” ujarnya.

FKUB Klaten Wisnu menyampaikan bahwa kisah Kerajaan Medang yang ditampilkan dalam sendratari tersebut juga memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat masa lalu yang mampu membangun kebersamaan di tengah perbedaan keyakinan.

Menurutnya, keberadaan penganut Buddha dan Siwa dalam sejarah Medang menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat saat itu telah mengenal semangat toleransi dan kerja bersama dalam menjaga keberlangsungan kerajaan.

“Sejarah Medang yang ditampilkan dalam sendratari ini memberikan pelajaran bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk membangun peradaban. Masyarakat Buddha dan Siwa sama-sama memiliki peran dalam menjaga kerajaan ketika menghadapi ancaman,” jelasnya.

Kebersamaan dan kekompakan dalam tari pada pagelaran Sendratari Manusuk Sima I Upit di Balai Desa Kahuman, Minggu (2/8/2026) malam. (Foto: Ilyas Syatori)

Sendratari Manusuk Sima I Upit menjadi bagian dari upaya masyarakat Kahuman dalam merawat sejarah lokal sekaligus memperkenalkan potensi budaya, sejarah, dan ekologi Klaten. Melalui kegiatan tersebut, sejarah tidak hanya dipahami sebagai catatan masa lalu, tetapi juga menjadi pijakan untuk menjaga identitas dan keberlanjutan kehidupan masyarakat hari ini. (Ilyas Syatori)

Tinggalkan Komentar