SLEMAN – Aktivitas keseharian seniman Gita Gilang terbilang padat.Di samping menggarap sejumlah pertunjukan kesenian pemilik Sanggar Seni Gita Gilang ini juga didapuk sebagai juri rintisan kalurahan budaya.
“Baru-baru ini jadi juri rintisan kalurahan budaya 55 kalurahan di Gunungkidul dan 31 rintisan kalurahan budaya di Kulonprogo,” terang Gita Gilang ditemui di sanggarnya di Blunyahgede, Sinduadi, Mlati, Sleman, Rabu 9 Oktober 2024.
Ia menilai, semua kalurahan umumnya sudah memperhatikan berbagai potensi bukan hanya seni budaya tapi bidang lainnya seperti UMKM, kuliner. Sejumlah seni unggulan berusaha digali untuk kemudian ditampilkan.
Gita Gilang menuturkan, kalurahan-kalurahan tersebut rata-rata harus menyadarkan diri untuk mencari dan menggali ilmu sebagai kalurahan berstatus rintisan budaya untuk nantinya meningkat statusnya menjadi kalurahan budaya.
“Banyak hal yang harus dipenuhi. Secara garis besar ada lima aspek. Adat dan tradisi, UMKM, seni pertunjukan dan dolanan anak, bahasa sastra dan aksara, serta artefak peninggalan,” jelasnya.
Di lapangan, sebagai juri Gita Gilang mencatat sejumlah poin penting sebagai bahan evaluasi bagi rintisan kalurahan budaya.
“Saat sesi wawancara mestinya menggunakan bahasa Jawa yang benar,” ujarnya sambil mencontohkan kala bertemu panitia di satu kalurahan penjaga UMKM makanan tiwul, selain berusia tua ada juga penjaga muda usia. Yang tua umumnya bisa beebahasa Jawa sedangkan yang muda seringkali belum memenuhi.
“Saat ditanya: anggenipun ndamel tiwul kala wingi napa wau? Jawabnya kelihatannya wau, Pak. Nah, bahasa Jawanya masih campur. Temuan-temuan seperti ini akan dibenahi,” tuturnya.
Ia juga menyebut, jangankan warga biasa, di kalangan panewu, lurah seringkali dijumpai kekeliruan. Dalam berbusana adat amsalnya. “Sering dijumpai, busana adat Jogja tapi jariknya khas Solo atau jarik Jogja diwiru Solo. Banyak ibu-ibu karena maunya praktis pakai wiru yang jahitan. Ada pula pemakaian keris terbalik letaknya,”imbuhnya seraya menyebut contoh kekeliruan lain pada penampilan panggih manten adat Jogja busana keliru pakai kebaya Solo.
Dalam pertunjukan rata-rata berpotensi bagus tetapi masih perlu diimbangi ilmu yang benar. Misalnya mengambil cerita panji yang berciri khas irah-irahan pakai tekes pelaksanaannya pakai gelung. “Hal seperti itu yang kami arahkan atau dievaluasi untuk kelengkapan kostum tradisional di pertunjukan,” katanya.
Pada gelar potensi rintisan kalurahan budaya pada kareografi khususnya pertunjukan kesenian rakyat banyak yang kurang memperhatikan kareografi pertunjukan di atas panggung. Contoh lantai monoton, saat adegan pemain membelakangi penonton. Demikian juga pada penggunaan alat musik. Penyajian harus bisa membedakan kesenian untuk paket wisata beda dengan penyajian untuk budaya. Yang paket budaya tak ada pemakaian alat macam drum, keyboard. “Praktiknya ada yang pakai,” tukasnya.
Selain menjadi juri Gita Gilang juga ditunjuk untuk mengisi sebagai narasumber pada program seniman masuk sekolah yang digelar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogya. Ia mengajar kesenian di SMPN 6 Yogyakarta dari pembelajaran hingga pementasan.
“Dengan pendekatan yang tepat, program bisa jalan.Anak-anak di sekolah semangat belajar kesenian,” ujar Gita Gilang yang baru-baru ini tampil di Denpasar pada pertunjukan Tari Nenek Ganjen dan dagelan, menghibur penonton pada launching sebuah resto. Dalam waktu dekat juga diminta mengisi workshop di Gunungkidul pembekalan lomba reog dan jathilan antarkapanewon. (Sukron)








