Toleransi Beragama di Kaliurang, Umat Islam Sholat Id, Umat Kristen Jaga Parkir

Gunarto, saat mengikuti Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika di Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Senin (23/6/2025. (Foto: Ilyasi)

TOLERANSI beragama di Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, layak diacungi jempol. Umat beragama di wilayah ini saling menghargai, tolong menolong, bergotong royong, dan menjaga kerukunan untuk kepentingan bersama.

Saat pelaksanaan Sholat Idul Adha 1446 Hijriyah, atau pada Jumat 6 Juni 2025, petugas keamanan dan penjaga parkir Umat Non Muslim. Petugas parkir ada yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan lainnya.

Salah satu warga Kaliurang, Gunarto, mengungkapkan kerjasama antarumat untuk pengamanan kegiatan ibadah, tidak hanya pada Sholat Idul Adha tahun 2025, tetapi juga pada pelaksanaan Sholat Idul Fitri dan Sholat Idul Adha tahun-tahun sebelumnya.

Umat Islam di Kaliurang sangat percaya jika yang menjaga Umat Non Islam pasti aman. Meski petugas jaga dan keamanan, personelnya kurang atau tidak sesuai dengan jumlah yang diajukan, tetapi Umat Muslim yakin aman. “Nek wis ono grejo aman,” tegas Gunarto, saat mengikuti Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika di Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Senin 23 Juni 2025.

Untuk toleransi beragama di Kaliurang tidak masalah. Para warga hidup harmonis dengan keberagaman. “Kami sendiri di keluarga yang beragam agamanya hidup damai saling menghargai. Orangtua dengan 10 anak, 6 anak beragama Kristen dan 4 anak beragama Islam,” papar Gunarto.

Baca Juga:  Malam Tirakatan Menyambut HUT ke-80 RI di Kalurahan Condongcatur Berlangsung Semarak

Gunarto sendiri beragama Kristen dan 4 saudaranya beragama Islam dan semua yang beragama Islam sudah menjalankan ibadah haji. Hubungan antarsaudara harmonis, saling menghargai, rukun, dan saling tolong menolong.

Ketika mengikuti acara Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY, Gunarto memimpin para peserta untuk menyatakan sikap peserta sebagai warga DIY. “Kami siap mewujudkan harmonisasi keberagaman dan menjaga toleransi beragama di Daerah Istimewa Yogyakarta,” tegas Gunarto.

Kemudian disambut teriakan oleh para peserta, bak kesatria istimewa “Nyawiji, greget, sengguh, ora mingkuh…merdeka”, sambil mengepalkan tangan ke atas. Untuk mewujudkan harmonisasi keberagaman dan menjaga toleransi beragama, warga DIY fokus konsentrasi, semangat, percaya diri dan pantang menyerah. (Ono)

Tinggalkan Komentar