TUGAS meliput kejadian bencana alam bagi seorang wartawan tidaklah mudah. Tak jarang seorang wartawan akan dihadapkan dengan situasi sulit.
Kesulitan akses menuju lokasi, resistensi warga terdampak musibah bencana, kerepotan mengurus keperluan pribadi macam makan, minum, mandi, putusnya jaringan listrik dan telekomunikasi sehingga menyulitkan pengiriman berita, juga persoalan bekal logistik yang menipis. Pada situasi seperti itu, terkadang seorang wartawan masih dihadapkan pada minimnya uang saku di kantong buat keperluan liputan.
Berbagai kondisi yang kurang mengenakkan meliput di lokasi bencana alam diungkapkan Beawiharta, mantan jurnalis foto Reuters. Dalam talkshow bertajuk ‘Siaga Memotret Bencana’ mengenang 17 tahun gempa Yogya 5,9 SR, Bea mengisahkan pengalaman saat diturunkan di berbagai lokasi bencana. Mulai dari bencana gempa Liwa, di Lampung Barat, Tsunami Aceh, meletusnya Gunung Sinabung, gempa Palu, dan gempa Lombok.
Bea menuturkan, sepanjang karier jurnalistik, dirinya memang tak pernah luput dari liputan bencana dan perang atau konflik. Di tsunami Aceh 2004, ia bertolak ke Banda Aceh, pada hari kedua bencana. Termasuk rombongan wartawan media internasional pertama yang mendarat di bumi Serambi Mekah.
“Memotret situasi bencana itu tugas berat,” ucap Bea sembari menarik nafas dalam mengawali cerita pengalamannya di lapangan di hadapan sejumlah pewarta foto yang tergabung dalam Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jogjakarta, Rabu 31 Mei 2023 malam.
Kisah Bea memotret bencana dimulai dari gempa bumi di Kota Liwa Lampung Barat 26 tahun silam tepatnya pada 16 Februari 1994. Kala itu, ia masih bekerja Majalah Sinar (Lampung).
“Pertama liputan gempa Liwa, tanpa bujet. Dan harus bantingan sama seorang reporter. Ini uangku, berapa uangmu. Biaya liputan pakai dana pribadi. Kendaraan pakai mobil Kijang milik kantor disopiri sendiri,” tutur Bea pada talkshow yang berlangsung di Mie Ayam Bakso Dhongso Jongkang, Sariharjo, Sleman.
Mobil yang ditumpangi, sambungnya, tak bisa tembus hingga lokasi gempa akibat jalur terputus. Mobil ditinggal di hutan, kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki dan menumpang motor warga. Dari kejadian itu, dia menyimpulkan, bahwa seorang wartawan harus mengabarkan kejadian yang sulit dilakukan orang lain. “Jadi wartawan harus bisa menjangkau tempatnya dulu,” kata Bea yang kemudian masuk Reuters dan fokus pada tugas liputan konflik dan bencana. Dengan penugasan pada dua bidang tersebut, ia merasa punya adrenalin tersendiri. Di tempatnya bekerja, Bea mulai belajar ketelitian memotret detail. Diajarkan pula saat meliput bencana bagaimana kondisinya agar tak sampai merepotkan orang lain.
Di tengah situasi bencana, pewarta tak begitu perlu menyampaikan kalau dirinya itu wartawan. Sebab pada suasana putus asa di tengah masyarakat, persepsi mereka terhadap orang yang datang, memotret bisa saja justru keliru. Ada juga yang memang terang-terangan menolak jika mengaku wartawan,” urainya.
Dia mencontohkan pada bencana gempa di Nias, seorang jurnalis bule nyaris menjadi sasaran amuk warga. Pemicunya, kawasan bencana sudah dibarikade warga yang meminta uang. Si wartawan bule dikejar dan nyaris ditusuk, setelah dia mengaku wartawan dan minta diberi akses masuk barikade.
“Itu gempa Nias banyak korban meninggal. Ketika bencana itu terjadi mental warga terpuruk. Putus asa. Banyak yang meninggal, rumah habis. Jadi sebagai jurnalis harus paham lebih dulu. Ada sebagian dari mereka beranggapan, jurnalis datang, dapat foto, setelah itu dapat uang,” imbuhnya sambil menjelaskan ia kemudian berinisiatif menengahi warga dengan rekan jurnalis bule. Setelah minta maaf dan berbagi uang lebih, situasi memanas kemudian mereda dan terkendali.
Sebagai jurnalis foto bencana, Bea harus memastikan semua peralatan siap sedia manakala sewaktu-waktu terjadi bencana macam gempa, gunung meletus, banjir, tsunami atau tanah longsor. Peralatan kamera, batere kamera, cek fungsi charger, aki buat pengganti kala listri mati, perlengkapan kerja pribadi, perlengkapan P3K. Ia juga dibekali satelit telepon. Kemudian pakaian, makanan, minuman, matras. Ia harus mempersiapkan sumber daya lokal terpercaya, bisa warga, wartawan lokal. Berbagai perlengkapan dan peralatan disiapkan dalam grab bag. Setidaknya ada dua grab bag yang dimiliki. Satu disimpan di rumah, satu di kantor.
Tsunami Aceh
Di kantor, Bea kerap diingatkan atasan, perihal kemungkinan terjadinya bencana. Seperti halnya bencana tsunami Aceh. Seminggu sebelum terjadi, ia sudah diingatkan agar waspada perihal bencana alam. Pada Natal 2004, ia piket di kantor. Sehari setelahnya, 26 Desember 2004, tiba di kantor sekitar 08.00. Kabar terjadi gempa besar di Aceh sampai ke telinga. Namun istilah tsunami kala itu masih asing baginya.
Berdua dengan pewarta tulis, sedianya ia bakal langsung diberangkatkan pagi itu juga. Namun, tiket penerbangan dari Jakarta hanya tersisa satu kursi. Itu pun setelah dirinya kontak langsung dengan temannya yang bekerja di salah satu maskapai plat merah.
“Terpaksa harus pingsut. Teman pewarta tulis menang dan hari itu berangkat. Saya mengalah terbang sehari berikutnya,” kenangnya.
Terbang ke Aceh, tak bisa langsung sampai tujuan. Pesawat harus mendarat di Medan dan menunggu lampu hijau untuk berangkat ke Banda Aceh. Di waktu-waktu genting itu, Bea beroleh penjelasaan singkat dari jurnalis asal Jepang satu rombongan. Dijelaskan, apa yang terjadi di Aceh disebut tsunami. Masuk kategori bencana besar.
Mendapat penjelasan dan gambaran tentang tsunami; sebuah gelombang besar air laut menyapu daratan akibat gempa besar, feeling Bea bermain. Ia berpikir, bekal logistik yang ia bawa hanya cukup tiga hari. Tanpa banyak berpikir, dibelilah semua coklat, makanan kecil di bandara. Tas ransel ia penuhi dengan timbunan snack coklat. “Sampai-sampai tas kamera pun diisi coklat,” timpalnya.
Tiba di Banda Aceh, Bea termasuk rombongan 11 wartawan pertama dari luar Aceh. Di bandara, sempat terjadi kebingungan bagaimana mau mengakses perjalanan menuju lokasi bencana. Sebab di situ hanya tersedia dua kendaraan, satu truk tentara dan satu mobil ambulance.
Bersama rekan, pemegang kunci ambulance coba dilobi agar mau mengantarkan rombongan wartawan. Keberuntungan berpihak kepadanya. Sopir ambulance bernama Nunu mau mengantarkan ke lokasi mana pun asalkan para wartawan mampu mengirim berita dan foto ke luar Aceh karena seluruh peralatan telekomunikasi setempat lumpuh total. Bea pun mengatakan bila dirinya membawa satelit telepon yang mampu mengirimkan gambar. Setelah melihat alat dimaksud barulah Nunu bersedia mengantar rombongan wartawan menggunakan ambulance.
Tiba di Lambaro
Lambaro di Aceh Besar titik pertama yang dikunjungi. Bea yang sebelumnya tak punya bayangan apa-apa mengalami syok luar biasa ketika menjumpai fakta di lapangan. Tak terhitung jumlah mayat yang bergeletakan.
Di salah satu perempatan, tumpukan mayat merata di empat sisi. Sebagian sudah masuk kantong jenazah berwarna kuning, lainnya banyak belum terurus. Tim pencari dan evakuasi belum efektif bekerja lantaran ribuan mayat yang mesti diurusi.
“Tiba di Lambaro saya seperti tersihir ketika mau memotret. Tangan tak kuasa bila harus memotret. Kemudian untuk beberapa lama hanya mampu duduk tertegun di trotoar,” terangnya.
Melihat mayat bergelimpangan, orang-orang berjalan seperti linglung, kosong. Seketika keinginan memotret menjadi padam. Tumpukan mayat makin banyak ketika mendekati kawasan Masjid Agung Baiturrahman. Setelah mendengar penjelasan orang-orang di sekitarnya, Bea mulai menjalankan apa yang menjadi tugasnya. Dua jam memotret, dia bilang minta diantar kembali ke Lambaro.
“Foto-foto tanggal 26 Desember 2004 menjadi foto-foto paling mengerikan. Bahkan hingga sekarang,” ujar Bea dengan mata berkaca-kaca.
Usai mengambil foto, ia bersegera menuju tanah lapang. Mengirim gambar ke redaksi dengan alat satelit telepon. Proses pengiriman berjalan lamban. Satu foto butuh waktu pengiriman sekitar dua puluh menit. Dalam satu jam hanya berhasil mengirim tiga foto. Upaya meresize foto sudah dilakukan dari 250 KB menjadi 200 KB.
Sambil mengirim foto, ia menanyakan kepada Nunu, mengapa ia baik hati mau mengantar dirinya ke mana-mana. Kepadanya, Nunu yang bekerja menjaga depo obat salah satu apotek mengaku tak bakal mampu menolong warga sekitar tanpa bantuan pihak lain dari luar. Obat-obatan yang masih ada di gudang telah dikeluarkan semua bagi orang yang membutuhkan namun kebutuhan tak terpenuhi. Nunu sudah berinisiatif menghubungi wartawan setempat untuk menyampaikan kabar ke luar, ternyata hal itu pun terhambat lantaran terputusnya koneksi komunikasi dampak dari bencana.
“Di situ saya sadar, apa yang sering terngiang di telinga, anggapan wartawan bekerja di atas penderitaan orang yang terkena musibah tidaklah tepat. Datang, dapat foto, pulang dapat uang. Justru kehadiran wartawan di lokasi bencana menjadi sangat penting untuk bisa mengabarkan situasi dan kondisi warga terdampak bencana seperti di Aceh,” katanya. (Sukron/bersambung)







