SLEMAN-Para penggowes sepeda federal dari berbagai kota di wilayah Sumatera hingga Jawa Timur larut dalam kegembiraan saat mengikuti Bike Camp Federalis di Candi Banyunibo, Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Rangkaian kegiatan selama dua hari Sabtu-Minggu (17-18 Januari 2026) tak hanya gowes bareng (gobar), mereka juga melepasliarkan 300 burung perkutut, 17 merpati, dan menanam 17 pohon buah.
Malam hari, peserta bike camp menyambut milad ke-17 Federal Jogja (Fedjo) mendirikan tenda, menggelar sarasehan juga dihibur pentas karawitan Banyumurti Banyunibo. Gowes bareng pada Minggu siang diikuti komunitas sepeda di DIY menempuh jarak sekitar 17 kilometer dari Balai Kalurahan Condongcatur dan finish di Kawasan Wisata Candi Banyunibo.
Penasihat sekaligus pembina Fedjo Reno Candra Sangaji menyampaikan, kegiatan bike camp mengusung tema; Tanda Cinta dari Putaran Roda (Tandur). Hujan yang turun tak menyurutkan semangat para goweser, rintik hujan justru menyalakan api persaudaraan. “Kita datang membawa segenggam tanah dan sebotol air dari tanah kelahiran masing-masing. Ini bukan sekadar ritual melainkan jadi simbol bahwa Indonesia hadir di sini. Tanah dan air yang dibawa akan menjadi tempat tumbuh bagi pohon-pohon yang kita tanam bersama. Sebagai saksi bahwa keringat kita adalah nafas bagi kelestarian alam,” kata Reno dalam sambutannya.
Reno menyebut usia 17 tahun bagi Fedjo merupakan tanda kedewasaan. Kedewasaan untuk saling menguatkan saat ada yang lelah serta merekatkan kembali bagian yang renggang. Dia mengingatkan bahwa mereka bukan sekadar komunitas sepeda besi tua. Namun, kecintaan kepada sepeda federal justru mencerminkan sikap kesederhanaan, ketangguhan, dan persatuan. “Semangat para federalist tak akan pernah karatan dimakan zaman, tak luntur diguyur hujan. Siapkan fisik, rawat sepeda, jaga hati agar tetap rendah hati di jalanan,” sambungnya.
Kesuksesan Bike Camp Federalis, lanjut Reno, tak lepas dari peran berbagai pihak yang turut mendukung. Fedjo brayat kulon, wetan, lor dan kidul terbilang solid. Persiapan acara telah dimatangkan selama empat bulan. Diawali pemilihan tempat, kesiapan mengurus logistik peserta, hingga konsep acara dan penentuan tema. Selain silaturahmi dan gowes bareng, peserta diajak untuk peduli terhadap lingkungan dan peduli sesama dengan agenda penggalangan dana kemanusian bagi korban bencana. Sementara dalam sarasehan peserta diajak untuk mengingat kembali bagaimana Fedjo terbentuk hingga tumbuh besar dengan banyak anggota komunitas MTB Federal Indonesia.
“Idenya dulu dari salah satu anggota Fedjo melalui grup media sosial Facebook. Anggota makin banyak kemudian diformalkan melalui pembentukan chapter atau kelompok,” jelas Reno.
Reno berharap agar anggota Fedjo maupun peserta bike camp senantiasa menjaga itikad baik untuk berkembang sehingga anggota bertambah banyak, selalu menjalin persaudaraan termasuk dengan komunitas sepeda lain, baik di Yogya maupun di luar Yogya.

Dengan jumlah peserta bike camp mencapai 850 orang, untuk keperluan konsumsi peserta, Reno menuturkan, pihaknya menerjunkan tim relawan Destana dan Kampung Siaga Bencana Kalurahan Condongcatur yang bekerja menyiapkan menu makan malam serta menu sarapan.
“Tim relawan dipersiapkan mampu menyediakan menu bagi 2000 orang. Sebelumnya, mereka telah menyiapkan peralatan masak juga bahan makanan. Untuk menu makan malam disiapkan nasi dengan rica-rica ayam sebanyak 1100 porsi sedangkan sarapan pagi nasi goreng ditambah 1100 mangkuk bakso. (Skr)







