Padukan Unsur Teater, Musik, dan Storytelling, Pendongeng Rona dan Roy Sampaikan Cerita Rakyat Tentang Alam, Manusia, dan Cinta

Rona Mentari dan Roy Galor saat tampil di Tembi Historical Home Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026) sore. (Foto: RDM)

Memadukan unsur teater, musik, dan storytelling, pendongeng Indonesia Rona Mentari dan pendongeng Inggris Roy Galor menuturkan cerita rakyat yang terkait dengan alam, manusia, dan cinta. Pertunjukan selama sekitar dua jam ini mampu memikat para penikmat dongeng dari berbagai kota di Indonesia.

Cerita rakyat yang dituturkan, seperti Suwidak Loro Jawa Tengah, Malin Kundang Sumatera Barat, Bulan dan Sagu di Ibuanari Papua, dari Indonesia, serta Tidy Mun – Lincolnshire Fens, The King of The Moles – Somerset, dan Eric Smith and the Sussex Underwater Movement dari Inggris ternyata sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Nilai-nilai yang penuh makna itu, tidak hanya terkait dengan hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan antara manusia dan alam, serta relevan dengan tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan global. Dengan sangat memikat, pendongeng Rona Mentari dan Roy Galor, menyampaikan cerita rakyat bertajuk “Storytellers for The Earth: Folktales for The Living Planet” di Amphiteater Tembi Historical Home, Yogyakarta, Sabtu 4 Juli 2026.

Pertunjukan dongeng yang dikemas dengan memadukan unsur teater, musik, dan storytelling, mampu memikat ratusan peminat dongeng di Rumah Budaya Tembi. Para penonton tidak beranjak dari tempat duduk selama dua jam, mulai pukul 15.30 sampai 17.30. Mereka terpukau dengan penampilan Rona dan Roy dan banyak di antara mereka yang tersentuh hatinya dan meneteskan air mata.

Penampilan Rona dan Roy menjadi “bernyawa” dan mengaduk-aduk emosi penonton, karena didukung oleh suara alam dan musik dari Say Me Music juga teaterikal tiga personel Wayang Suket Indonesia. Suara alam, seperti deburan ombak, hembusan angin, dan lengkingan ocehan burung, menghidupkan suasana sore di pinggir sawah, tempat pementasan dongeng digelar.

Pementasan yang didukung oleh Connections Through Culture Grant 2025 – British Council, dibuka dengan suara hembusan angin dari grup musik Say Me Music dan disambut dengan suara dari Rona “Dengar”. Lalu Roy menyambutnya “Listen”. Rona dan Roy berjalan menuju panggung melewati tempat duduk penonton.

Saat suasana hening, Roy bertanya pada Rona, “Rona what is your most favorite in the world?”. Pertanyaan ini mengingatkan Rona pada pertanyaan yang sama saat dirinya belajar storytelling di International School of Storytelling Inggris beberapa tahun lalu. “Rona, what is your favorite sound?”.

Baca Juga:  Cara Membuat Kerupuk Kulit yang Gurih dan Renyah

Dengan tatapan tajam dan wajah mengenang masa kecilnya, Rona teringat suara ibunya saat mau menidurkannya di malam hari. Lalu Rona menyanyikan tembang menjelang tidur yang biasa dilantunkan ibunya. “Tak lelo lelo lelo ledung, cup menengo anakku Cah Ayu. Anakku sing ayu rupane, yen nangis ndak ilang ayune. Tak gadang biso urip mulyo, dadio wanito utomo”.

Lantunan tembang menjelang tidur yang dibawakan Rona dengan penuh penghayatan, membuat penonton terpikat. Apalagi pendiri Rumah Dongeng Mentari ini juga mengiringinya dengan gitar sendiri. Tembang itu ternyata berisi pujian dan harapan seorang ibu agar anaknya kelak menjadi perempuan yang hidup penuh kemulyaan.

Penampilan Roy Galor menghibur para peminat dongeng di Yogyakarta. (Foto: RDM)

Terkait suara yang paling indah di dunia, Roy Galor menceritakan tentang Finn MacCool and the Most Beautiful Sound. Ini adalah kisah tentang pahlawan legendaris Irlandia, Finn MacCool, pemimpin Fianna, sekelompok pejuang pemberani yang bertugas melindungi rakyat dan tanah air mereka.

Suatu hari, Finn mengajukan pertanyaan kepada para sahabatnya: “Suara apakah yang paling indah di dunia?”. Pertanyaan sederhana ini memicu berbagai jawaban dan perenungan, membawa mereka pada pemahaman yang lebih dalam tentang alam, kehidupan, dan hal-hal yang sering kali luput dari perhatian manusia.

Selanjutnya Rona Mentari berkisah tentang cerita “Suwidak Loro”. Di sebuah desa kecil di Jawa, hiduplah seorang gadis bernama Suwidak Loro. Dalam bahasa Jawa, suwidak loro berarti enam puluh dua, merujuk pada enam puluh helai rambut dan dua gigi yang dimilikinya.

Meski berbeda dari gadis-gadis lain, Suwidak Loro tumbuh dalam kasih sayang ibunya yang selalu meyakinkannya bahwa ia adalah gadis tercantik di dunia. Ketika nyanyian sang ibu sampai ke telinga raja, Suwidak Loro memulai perjalanan tak terduga.

Dalam perjalanan itu, ia belajar bahwa kecantikan sejati tidak terletak pada penampilan, melainkan pada kebaikan hati, kemurahan hati, dan cinta yang tulus.

Selain itu Rona juga berkisah tentang “Malin Kundang”. Malin Kundang adalah cerita rakyat dari Sumatra Barat tentang seorang pemuda yang melupakan ibunya setelah meraih kesuksesan di perantauan.

Melalui kisah penyesalan, kehilangan, dan pengampunan, cerita ini mengajak kita merefleksikan hubungan manusia dengan asal-usulnya, termasuk dengan Ibu Bumi yang selama ini menopang kehidupan.

Baca Juga:  Mal Pelayanan Publik, Satu Pintu Beragam Layanan
Teaterikal Wayang Suket Indonesia mendukung penampilan Rona Mentari saat menyampaikan cerita dari Papua “Bulan dan Sagu di Ibuanari”. (Foto: RDM)

Rona juga menyampaikan cerita rakyat dari Papua “Bulan dan Sagu di Ibuanari”. Ibuanari adalah sebuah desa yang terkenal karena keserakahan penduduknya. Ketika sang kepala suku berambisi memiliki bulan untuk dijadikan pelengkap santapan sagu, seluruh warga membangun menara raksasa dengan menebangi hutan tanpa henti.

Didorong oleh keinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan milik mereka, mereka mengabaikan batas alam dan kebijaksanaan.

Kisah ini menjadi refleksi tentang keserakahan manusia, hubungan yang rapuh antara manusia dan alam, serta akibat yang muncul ketika ambisi mengalahkan hubungan baik terhadap alam.

Roy Galor yang menjadi mentor Rona saat belajar storytelling di Inggris, bercerita tentang “Tidy Mun – Lincolnshire Fens”. Tiddy Mun adalah cerita rakyat tradisional Inggris tentang sosok makhluk rawa misterius yang melindungi lahan basah di wilayah Lincolnshire Fens.

Ketika rawa-rawa tersebut dikeringkan pada abad ke-17 untuk dijadikan lahan pertanian, kerusakan yang ditimbulkan segera membawa berbagai bencana: wabah penyakit, kematian ternak, dan kesulitan hidup bagi masyarakat setempat.

Menyadari bahwa mereka telah mengganggu keseimbangan alam, para penduduk berkumpul saat bulan baru untuk mengembalikan air ke parit-parit yang telah dikeringkan dan memohon maaf kepada Tiddy Mun.

Ritual tersebut berhasil, kutukan pun terangkat, dan kemakmuran kembali hadir. Kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya menghormati alam serta hidup selaras dengan lingkungan.

Cerita ini juga menyuarakan keprihatinan atas menghilangnya burung Peeweet (Northern Lapwing), yang kini masuk dalam daftar merah spesies terancam punah di Inggris.

Roy juga menyampaikan cerita “The King of The Moles (Raja Tikus Tanah)”. The King of the Moles, sebuah cerita rakyat dari Somerset, Inggris, mengisahkan seorang tuan tanah kaya yang tidak memahami bagaimana segala sesuatu di alam saling terhubung. Ia merasa kesal karena para tikus tanah merusak taman dan lahan yang dirawatnya dengan cermat.

Untuk mengatasi masalah itu, ia meminta bantuan tukang kebunnya yang setia. Namun, upaya tersebut justru membawanya pada pertemuan dengan Raja Tikus Tanah, sosok magis yang menjadi pelindung makhluk-makhluk yang hidup di bawah tanah.

Baca Juga:  Pendaftar PPDB di SMPN 3 Purbalingga Membeludak

Melalui kisah ini, sang tukang kebun berusaha mengajarkan bahwa setiap makhluk memiliki perannya masing-masing dalam keseimbangan alam.

Cerita ini mengangkat tema penghormatan terhadap alam serta konsekuensi yang muncul ketika manusia berusaha menguasai alam, alih-alih hidup berdampingan dengannya.

Rona dan Roy foto bersama relawan RDM dan para peminat dongeng di DIY dan Jateng. (Foto: RDM)

Pendongeng yang dulu menjadi tenaga medis di Rwanda, juga berkisah tentang “Eric Smith and the Sussex Underwater Movement”. Ini adalah kisah nyata yang menginspirasi tentang seorang penyelam yang mengabdikan hidupnya untuk laut di Sussex, Inggris.

Selama bertahun-tahun, Eric menyaksikan hutan kelp bawah laut yang dahulu subur perlahan rusak akibat praktik penangkapan ikan yang merusak dasar laut.

Namun, ia tidak menyerah. Dengan tekun, Eric mengampanyekan perlindungan ekosistem laut dan mendorong kesadaran publik akan pentingnya menjaga kehidupan bawah air.

Upayanya turut menginspirasi lahirnya Sussex Underwater, sebuah komunitas penyelam dan pegiat konservasi yang mendokumentasikan pemulihan laut serta mengajak masyarakat untuk menghargai dan melindungi dunia tersembunyi di bawah ombak.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa tekad satu orang dapat memicu perubahan lingkungan yang berdampak besar dan berkelanjutan.

Pendongeng yang suka memasak ini juga bercerita tentang “Starfish Story”. Cerita ini mengisahkan seorang anak yang berjalan di sepanjang pantai setelah badai, ketika ribuan bintang laut terdampar di atas pasir.

Dengan tenang, anak tersebut mulai menolong bintang laut satu per satu dan mengembalikannya ke laut. Tindakannya mengundang pertanyaan dari seorang pejalan yang lebih tua: apakah usaha sekecil itu benar-benar berarti di tengah masalah yang begitu besar?

Melalui percakapan mereka, kisah ini mengajak kita merenungkan makna kepedulian, harapan, dan pentingnya bertindak, serta menunjukkan bahwa tindakan kecil sekalipun dapat membawa perubahan yang berarti.

Pementasan “Storytellers for The Earth: Folktales for The Living Planet” diakhiri dengan nyanyian lagu “The River Is Flowing”. Lagu ini merupakan nyanyian tradisional masyarakat adat yang telah diadaptasi serta direkam ulang oleh berbagai musisi dan komunitas di seluruh dunia. “The river is flowing, flowing and growing, the river is flowing back to the sea. Mother Earth carry me, a child I will always be, Mother Earth carry me, back to the sea”. (Ono)

Tinggalkan Komentar