BANTUL – Kerupuk kulit yang gurih dan renyah jadi salah satu makanan ringan favorit di Indonesia. Kerupuk ini biasanya masih diolah secara tradisional.
Kerupuk kulit merupakan makanan ringan yang terbuat dari kulit hewan, seperti sapi, kerbau atau ayam.
Ada dua metode untuk pengolahan kerupuk kulit, bisa menggunakan teknologi mesin khusus atau cara tradisional seperti di desa Bawuran, Pleret, Bantul.
“Kerupuk kulit ini melalui proses pengolahan yang panjang mas, sudah puluhan tahun saya mengolah secara manual,” terang Harto seorang produsen kerupuk kulit sapi di desa Bawuran kepada wiradesa.co Sabtu 17 Juni 2023.
Harto yang sudah jadi produsen kerupuk kulit puluhan tahun menyambut hangat dan berbagi cara untuk mengolah kerupuk kulit kepada wirdesa.co.
Kulit sapi yang digunakan harus bersih dari kotoran dan lemak yang berlebihan. Kulit kemudian direbus untuk melunakkan dan membersihkannya.
Setelah direbus, kulit dicuci dan dikelupas dengan pisau untuk menghilangkan lapisan lemak dan sisa daging yang masih menempel pada kulit. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kulit yang bersih dan siap untuk diproses lebih lanjut.
Lembaran kulit sapi yang telah benar-benar bersih direbus lagi dengan bumbu dan rempah hingga meresap.
Kulit yang telah direbus dengan rempah dan bumbu dipotong menjadi ukuran kecil atau sesuai dengan selera. Potongan kulit dijemur di bawah sinar matahari sampai benar- benar kering dan berubah warna menjadi coklat.
Potongan kulit sapi yang sudah kering dimasukan ke dalam panci berisi minyak sayur yang kemudian di rebus selama 7 jam. Barulah kulit sapi siap digoreng menjadi kerupuk yang gurih dan renyah.
“Kulit yang sudah kering kita rebus dengan minyak sawit, setelah mendidih dimatikan kalo sudah dingin kita hidupkan lagi. Proses diulang sampai 7 jam,” jelas Harto.
Untuk bisa menghasilkan kerupuk kulit yang gurih dan renyah ternyata harus melalui proses yang panjang.
Terlebih bagi pengolahan kerupuk kulit tradisional yang masih mengandalkan panas matahari untuk proses pengeringan sangat tegatung dengan cuaca.
“Kalo cuaca panas sehari dua hari sudah kering, tapi kalo pas ga ada panas apa lagi musim hujan bisa 4 hari sampai 5 hari baru kering,” keluh produsen kerupuk kulit ini. (Aboe Bakar)








