Berbagai Jenis Jamur dan Olahan Masakan Jamur Ala jeJamuran

 Berbagai Jenis Jamur dan Olahan Masakan Jamur Ala jeJamuran

Berbagai jenis jamur didisplai di depan rumah makan. (Foto: Wiradesa)

SLEMAN – Rumah Makan jeJamuran di Pendowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terkenal dengan menu berbagai olahan jamur. Sedikitnya ada tujuh jenis jamur dan 24 menu olahan makanan berbahan baku jamur disajikan di tempat ini.

Tujuh jenis jamur bahan baku masakan jeJamuran yang dipajang di depan rumah makan, yakni Jamur Lingzhi, Jamur Merang, Jamur Tiram, Jamur Portabello, Jamur Kancing, Jamur Shitake, dan Jamur Kuping. Display jamur itu istagramebel dan sering dimanfaatkan pengunjung untuk foto-foto.

“Jamur Lingzhi ini sering disebut Jamur Seribu Selir,” ujar Ratidjo Hardjo Suwarno, pemilik jeJamuran, sambil tersenyum, Sabtu 4 Juni 2022. Kenapa disebut Jamur Seribu Selir, karena khasiatnya bisa meningkatkan gairah dan vitalitas kaum laki-laki. Begitu juga dengan kaum perempuan.

Ketujuh jenis jamur tersebut oleh juru masak jeJamuran diolah menjadi sekitar 24 menu makanan dan minuman dari bahan jamur. Olahan makanan jamur itu, antara lain Sate Jamur, Pepes Jamur, Botok Jamur, Tongseng Jamur, Semur Edan Jamur, Rendang Jamur, Jamur Bakar Pedas, dan Jamur Goreng Penyet.

Selain itu juga masakan Karedok Jamur, Tumis Taoge Jamur, Tumis Kangkung Jamur, Tom Yam Jamur, Sop Jamur, Foe Yong Jamur, Goreng Tepung Tiram, Goreng Tepung Portabello, Goreng Tepung Shitake, Goreng Tepung Merang, Asam Manis/Pedas Tiram, Asam Manis/Pedas Portabello, Asam Manis/Pedas Shitake, Martabak Jamur, dan Tumis Brokoli Shitake, serta Wedang Jejamuran.

“Minuman khas di sini, Wedang Jejamuran,” tegas Pak Ratidjo yang sudah mencoba bisnis kuliner jamur selama 25 tahun. Dulu petani jamur ini selama tiga tahun menawarkan makanan olahan jamur dari rumah ke rumah. Kemudian membuka angkringan jamur dan sekarang sukses dengan jeJamuran.

Pak Ratidjo Hardjo Suwarno bersama konsumen jeJamuran. (Foto: Wiradesa)

Berbagai menu sajian khas jeJamuran itu diolah oleh juru masak yang direkrut dan dididik langsung oleh Pak Ratidjo. Cara mencari tukang masak, cukup unik dan khas jeJamuran. Juru masaknya bukan dari shef terkenal, tetapi ibu-ibu yang kebanyakan janda. “Sengaja, kami memilih ibu-ibu yang teraniaya,” ungkap Pak Ratidjo.

Baca Juga:  Lima Tuntutan Perajin Tahu Tempe

Tukang masaknya, kebanyakan janda punya anak, merasa teraniaya, bukan berpendidikan tinggi, tak punya keinginan macam-macam, loyal, ora ngeyel, dan bekerja dengan hati. Kriteria seperti itu, juga menjadi panduan bagi Pak Ratidjo untuk menyeleksi calon karyawan. Namun manajemen jeJamuran juga mengupayakan BPJS, bonus, dan pensiun bagi karyawan. Sehingga 250 orang yang bekerja di jeJamuran merasa nyaman.

Kuliner jeJamuran saat ini bukan hanya rumah makan saja, tetapi juga pusat pendidikan budidaya jamur. Kebun jamur yang berada di lahan sekitar 1,5 hektar, selain menjadi tempat menanam jamur, juga untuk tempat belajar para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat yang ingin belajar tentang budidaya jamur. (Ono Jogja)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: