Berkunjung ke Vietnam, Setiap Jamuan Makan Malam Tak Ada Nasi, Padahal Pengekspor Beras Terbesar di Dunia

Sajian makan malam, tanpa nasi, di Vietnam. (Foto: Wiradesa)

Wartawan Wiradesa.co belum lama ini berkunjung ke Vietnam atas undangan Hoi Nha Bau Viet Nam atau Vietnam Journalists Association (VJA). Setiap jamuan makan malam, tak ada nasi, padahal Vietnam merupakan negara pengekspor beras terbesar di dunia.

Berdasarkan asosiasi eksportir beras Vietnam, ekspor beras negara Vietnam selama bulan Januari sampai Juni 2025 mencapai 4,72 juta ton. Jumlah ini naik sebesar 3,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jumlah ekspor beras dari Vietnam ini jauh melebihi negara-negara Asean, seperti Thailand, Cambodia, dan Burma. Tiga negara di wilayah Asean itu masuk dalam 10 besar pengekspor beras terbesar di dunia. Eksportir beras tertinggi di dunia masih diduduki India.

Negara Indonesia tidak tercatat dalam negara-negara pengekspor beras terbesar di dunia. Jangankan masuk 5 besar, untuk 10 besar saja tidak masuk. Padahal negara Indonesia, terkenal subur dan luas wilayahnya terbesar, jika dibandingkan dengan negara-negara di Asean.

Baca Juga:  Amandemen UUD 1945: Dewan Guru Besar UGM Nyatakan Pentingnya Pokok-pokok Haluan Negara dan Keterlibatan DPD RI

Meski luas wilayah negara Vietnam tidak sebesar Indonesia, namun produksi berasnya melimpah. Sehingga nilai ekspor berasnya juga tinggi. Namun yang mengherankan penduduknya tidak menjadikan beras sebagai makanan pokoknya.

Jamuan makan malam di Lao Cai, Vietnam. (Foto: Wiradesa)

Ketika wartawan Wiradesa.co dijamu oleh para wartawan Vietnam pada awal April 2024, makanan yang disajikan didominasi daging, ikan, dan sayuran. Jenis sayurannya, hampir semua ada di Indonesia. Namun sayangnya warga Indonesia, kebanyakan tidak suka ikan dan sayuran. Warga Indonesia merasa belum makan, jika tidak memakan nasi.

Penduduk Indonesia mencapai 286,6 juta dan sebagian besar makanan pokoknya nasi alias mengkonsumsi beras. Sehingga Indonesia menjadi pasar potensial untuk penjualan beras. Sungguh ironis, negara yang wilayahnya subur dan luas, menjadi importir beras. Para petani di Indonesia hanya bisa mengelus dada. (*)

Tinggalkan Komentar