KEBUMEN – Ciri-ciri domba betina yang biasanya beranak dua itu, antara lain bentuk badannya besar di bagian belakang. Pakar Ternak Potong Fakultas Peternakan UGM, Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., mengistilahkan awake koyo nongko setugel (badannya seperti Nangka setengah).
Penjelasan Pakar Ternak Potong Prof. Panjono itu menjawab pertanyaan seorang peternak domba di Jatimulyo, terkait dengan kinerja pembiakan domba. Pembiakan domba yang bagus itu interval kelahirannya 8 bulan, dan litter size 2 ekor. Artinya satu domba betina melahirkan 2 anak dalam satu kelahiran.
Sedangkan tingkat reproduksinya minimal 3 ekor per tahun, bobot sapih minimal 13 kilogram per ekor, dan produktivitas induk minimal 39 kg per tahun. Jika kinerja pembiakannya tidak seperti itu, maka peternak perlu mengambil tindakan. Jangan terus bertahan yang hasilnya pasti tidak optimal.
Peneliti di Laboratorium Ternak Potong, Kerja, dan Kesayangan, Fakultas Peternakan UGM Prof. Panjono mengingatkan kepada para peternak domba di Desa Jatimulyo, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah agar terus berusaha mendapatkan keuntungan dari pemeliharaan domba.
“Ngopeni mendo, niku piye carane iso untung (memelihara domba itu, bagaimana caranya bisa untung),” ujar Prof. Panjono di hadapan 40 peternak yang mengikuti kegiatan Pengembangan Peternakan Domba di Jatimulyo, Minggu 24 Agustus 2025.

Kegiatan yang diinisiasi Wiradesa.co dengan dukungan Perum Peruri, Fakultas Peternakan UGM, dan Pemkal Jatimulyo tersebut diikuti 40 peternak domba yang mewakili 7 kelompok peternak domba di wilayah Kalurahan Jatimulyo.
Menurut Kades Jatimulyo Sabit Banani, di wilayah Jatimulyo ada 195 peternak domba. Sebagian besar tergabung dalam kelompok peternak domba yang ada di 7 padukuhan dan sebagian warga memelihara domba di rumah masing-masing.
Selain Prof. Panjono, Tim Wiradesa juga menghadirkan narasumber Susmono, peternak domba dari Prambanan dan Sihono HT, Founder Wiradesa Group. Wiradesa yang memiliki tagline Mandirikan Desa Sejahterakan Rakyat, berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan petani, nelayan, dan peternak di Indonesia.

Pendiri Andini Farm, Susmono mengungkapkan dirinya mulai memelihara hewan ternak domba sejak lima tahun lalu. Awalnya hanya memiliki seekor domba, sekarang sudah memelihara 150 ekor domba dan kambing. Untuk memenuhi pakan ratusan ekor domba dan kambing, tidak mungkin dengan cara ngarit. Maka Pak Mono membuat pakan alternatif untuk memenuhi pakan ternaknya. Bahan bakunya dengan daun-daun kering di sekitar tempat tinggalnya di Watukangsi, Wukirharjo, Prambanan.
Saat bertemu di kelas, Pak Sus memperlihatkan video “Cara Membuat Pakan Ternak Dari Daun Kering”. Kemudian cara ini dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan pakan alternatif di tempat kandang komunal Kelompok Peternak Domba Padukuhan Jatisari.
Perwakilan dari Perum Peruri, Mas Aris Wibowo, menegaskan Peruri mendukung pelaksanaan Pengembangan Peternakan Domba di Jatimulyo Kebumen karena konsepnya bagus dan diperkirakan akan meningkatkan ekonomi desa. Kolaborasi antara Media (Wiradesa Group), perguruan tinggi (Fakultas Peternakan UGM), dan praktisi (Andini Farm) menjadi inspirasi bagi para peternak domba di Jatimulyo.
“Para peternak mendapatkan ilmu pemeliharaan ternak domba dari UGM, belajar dari pengalaman praktisi ternak yang sukses, dan mendapat dukungan media. Sekarang tinggal implementasi dari ilmu ternak dan bagaimana pemasarannya,” papar Mas Aris Wibowo. Pihak Peruri akan membantu pemasaran, jika kelak produksi domba dari Jatimulyo benar-benar berkualitas.

Pendiri Wiradesa Group Sihono HT bersama Kades Jatimulyo Sabit Banani dan tokoh masyarakat Jatimulyo merancang kelak Jatimulyo menjadi sentra ternak domba di Kebumen. Jadi jika besok ada yang ingin membeli domba berkualitas maka akan datang ke Jatimulyo. Jika mau belajar bagaimana mengembangkan peternakan domba datang dan belajar ke Jatimulyo. (Ilyasi)








