Festival Lereng Telomoyo 20 Juni – 11 Juli 2026 Digelar dengan Empat Babak

Panitia Festival Lereng Telomoyo 2026. (Foto: Tim Omah Cikal)

Festival Lereng Telomoyo akan kembali digelar. Puluhan kelompok kesenian kerakyatan sudah merapatkan barisan. Pada hari Minggu 7 Juni 2026 bertempat di Pendopo Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, mereka berkumpul, saling berkonsolidasi dan saling terhubung antar desa-desa se Wilayah Telomoyo. Meliputi Desa Ngrawan, Nogosaren, Tolokan, Sepakung, Seloprojo, Pagergunung dan Pandean.

Pelaksanaan Festival akan berlangsung empat babak, berada di empat desa yang mengitari Gunung Telomoyo. Mulai 20 Juni sampai 11 Juli 2026, setiap akhir pekan akan bergilir saling mengunjungi dan menyajikan pertunjukan kesenian, di antaranya: Tari Soreng, Topeng Ireng, Jaranan, Gedruk, Warok, Ndolalak, Topeng Gecul, Lembu, Teater, Monolog, dan musik kontemporer. Juga akan menampilkan pameran arsip, seni rupa, pemutaran dan screening film serta sarasehan budaya bersama tokoh masyarakat, arkeolog dan sejarawan.

Dalam pertemuan di hari Minggu (7/6/2026) turut hadir Supadi, mantan Presiden Lima Gunung, yang telah menjabat selama 12 tahun. Beliau menitipkan pesan, “Festival dan berkesenian memang membutuhkan dana, tapi jangan sampai dana membuat kemunduran dalam berkarya. Bangun rasa solidaritas dan perlu didasari dengan kekeluargaan agar festival dapat berjalan panjang”.

Baca Juga:  Peserta Pesantren Digital Inklusi Difapedia Study Visit ke Institut Teknologi Telkom Purwokerto

Perwakilan dari akademisi, Lesa Paranti, Dosen Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Semarang, dalam pengalamannya nyantrik di kelompok-kelompok kesenian kerakyatan, dirinya membaca, bahwa ekosistem kesenian kerakyatan bukan sekedar ruang hiburan, namun menjadi sekolah kehidupan, pembentukan karakter masyarakat.

Lesa juga melihat tantangan kesenian kerakyatan di masa kini. Tantangan itu, antara lain tentang regenerasi pelaku, dominasi seni populer digital yang mengubah selera generasi muda, komodifikasi budaya yang menghilangkan pakem demi mengejar viral dan popularitas.

Sebelumnya Festival Lereng Telomoyo pernah terjadi pada tahun 2017 dan 2019, namun sejak pandemi covid pegelaran ini belum terlaksana lagi. Tongkat estafet ini kembali dilanjutkan oleh Sanggar Omah Cikal, lewat program Pendayagunaan Ruang Publik, Danaindonesiana, Kementerian Kebudayaan, Festival akan kembali diselenggarakan.

Diskusi menjelang Festival Lereng Telomoyo, Minggu (7/6/2026). (Foto: Tim Omah Cikal)

Festival Lereng Telomoyo 2026 mengangkat tema “Mandala: Ruang Hidup yang Terhubung”.

Bila ditarik imajiner, keempat titik penyelenggara festival itu membentuk lingkaran yang mengelilingi gunung. Dalam konsep kosmologi Jawa, pola ini disebut mandala atau lingkaran konsentris yang membentuk keterhubungan dan keseimbangan semesta. Konsep itu juga mengacu kesatuan terpadu dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi oleh desa-desa di Jawa, disusun berdasarkan empat arah mata angin utama, yaitu Timur, Utara, Barat, dan Selatan.

Baca Juga:  Seniman Kaligrafi Internasional Ajarkan Seni Menulis Kaligrafi

Dalam kerangka itu, kegiatan Festival Lereng Telomoyo dimaknai sebagai upaya kolektif yang menuntut tanggung jawab bersama atas masalah-masalah sosial ekologis di kawasan Gunung Telomoyo. “Semoga festival ini menjadi pembuka pintu-pintu baik, menghubungkan antar manusia, manusia dengan alam, leluhur dan sang pencipta,” pinta Dwi Purwoko, tim penggerak Sanggar Omah Cikal. (*)

Tinggalkan Komentar