GIAT 12 Unnes Dorong Desa Ngrawan Menjadi Desa Tangguh Bencana Lewat Diskusi Partisipatif

Tim GIAT 12 Unnes di Desa Ngrawan. (Foto: Dwi Purwoko)

NGRAWAN – Di tengah meningkatnya ketidakpastian cuaca serta bertambahnya risiko bencana alam di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, penting bagi desa-desa untuk mulai menyusun langkah konkret dalam menghadapi potensi bencana. Menyadari hal tersebut, Tim GIAT 12 Universitas Negeri Semarang (Unnes) melaksanakan kegiatan sosialisasi dengan tema “Desa Tangguh Bencana (DESTANA)” di Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Senin, 14 Juli 2025 pukul 20.00 WIB.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pengabdian kepada masyarakat yang diusung oleh Unnes. Fokus utama kegiatan adalah penyusunan Rancangan Penanggulangan Bencana Desa (RPBD) serta penerapan Sistem Peringatan Dini. Kedua hal ini dipandang sebagai langkah awal yang penting untuk memperkuat kapasitas masyarakat desa dalam menghadapi kemungkinan bencana alam seperti tanah longsor dan gempa bumi.

Ketua Tim GIAT 12 Unnes, Bagas Dwi Pangestu, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan informasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif serta membangun kesiapsiagaan warga. “Diharapkan kegiatan ini dapat bermanfaat dan membuat masyarakat sadar akan pentingnya perencanaan penanggulangan bencana desa serta sistem peringatan dini yang disesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing,” ujarnya.

Baca Juga:  Sambut Lebaran, 48 Loket Perbankan di DIY Layani Penukaran Uang Kecil

Dalam kegiatan tersebut, Tim GIAT 12 Unnes memberikan pemaparan materi terkait pentingnya mitigasi bencana berbasis komunitas, pemetaan risiko lokal, serta contoh-contoh praktik baik dari desa tangguh bencana di wilayah lain. Materi ini dirancang agar mudah dipahami oleh masyarakat umum, dengan pendekatan visual dan naratif yang sesuai dengan konteks desa.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan pembetukan Forum Group Discussion (FGD). Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok diberikan sebuah studi kasus bencana alam yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah Ngrawan. Mereka juga menerima lembar kerja yang berisi serangkaian pertanyaan pemicu diskusi seperti: bagaimana reaksi awal warga saat bencana terjadi, siapa saja yang harus dihubungi, bagaimana mekanisme evakuasi, serta bagaimana langkah pemulihan pasca bencana.

Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga aktif terlibat dalam berpikir kritis, menyumbang ide, dan menyusun strategi penanganan bencana secara partisipatif. Proses ini bertujuan agar masyarakat dapat menyusun dokumen RPBD yang aplikatif, realistis, dan sesuai dengan kondisi geografis, sosial, dan ekonomi desa.

Baca Juga:  Lomba Mancing Regulan di Embung Potorono

Output dari kegiatan ini diharapkan tidak hanya berupa dokumen tertulis rancangan penanggulangan bencana, tetapi juga peningkatan kapasitas dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana secara mandiri. Tim GIAT 12 Unnes berharap bahwa Desa Ngrawan dapat menjadi contoh bagi desa-desa di sekitarnya dalam hal kesiapsiagaan bencana. Dengan pendekatan edukatif dan partisipatif seperti ini, cita-cita membangun masyarakat Tangguh Bencana bukan hanya slogan, tetapi menjadi gerakan nyata yang bermula dari desa. (Dwi Purwoko)

Tinggalkan Komentar