Greget Warga Banguntapan: Merajut Harmonisasi Keberagaman di Daerah Istimewa Yogyakarta

Peserta Sinau Pancasila di Pendapa Kapanewon Banguntapan, Jumat (4/7/2025), menyatakan sikap untuk merajut harmonisasi keberagaman, melaksanakan toleransi beragama, dan menjaga pilar kebangsaan. (Foto: Wiradesa)

BANTUL – Warga Banguntapan bersemangat untuk merajut harmonisasi keberagaman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka menegaskan tekadnya itu saat mengikuti kegiatan Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Pendapa Kapanewon Banguntapan, Bantul, Jumat 4 Juli 2025.

Para peserta Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang diinisiasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY menyatakan sikapnya, sebagai warga Banguntapan bersemangat untuk: Pertama, merajut harmonisasi keberagaman di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kedua, melaksanakan toleransi beragama dengan greget, sengguh, ora mingkuh. Ketiga, menjaga pilar kebangsaan, meliputi Undang-undang Dasar 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika untuk terus tegak di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Para narasumber, Radjut Sukasworo (Komisi A DPRD DIY), Ahmad Zuhri (Akademisi UIN Sunan Kalijaga), Kompol Leonisya Sagita S.I.K (Kepala Subdirektorat Pembinaan Ketertiban Sosial Polda DIY), dan Sihono HT (Direktur Pers Pancasila PWI Pusat), yang dipandu I Nyoman Gunarsa (Panewu Banguntapan), mengapresiasi sikap dan semangat warga Banguntapan.

Para narasumber foto bersama peserta Sinau Pancasila. (Foto: Wiradesa)

Anggota DPRD DIY dari Fraksi PDIP, Radjut Sukasworo, menyatakan sikap dan semangat warga Banguntapan untuk merajut harmonisasi keberagaman, melaksanakan toleransi beragama, dan menjaga pilar kebangsaan itu merupakan implementasi dari nilai-nilai Pancasila.

Baca Juga:  Tiru Purbalingga, Jombang Bakal Kerjasama Dengan Bukalapak Kembangkan UMKM

Menurut Mas Radjut, sikap itu tidak hanya dinyatakan, tetapi juga sudah dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti rukun dengan tetangga, saling membantu, gotong royong, ikut ronda, dan rembug kampung itu implementasi dari nilai-nilai Pancasila.

Sedangkan Kompol Leonisya Sagita mengingatkan kepada masyarakat DIY, khususnya peserta Sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan untuk berhati-hati menggunakan media sosial. Gunakan media sosial secara bijak. Jika ada informasi yang mengarah ke intoleransi maka cek dulu kebenarannya. “Kalau mau cek informasi, manfaatkan aplikasi Cek Aja Dulu dari Polda DIY,” ujar Kompol Leonisya.

Pengajar UIN Sunan Kalijaga yang alumni Lemhannas, Ahmad Zuhri, mengemukakan warga Banguntapan itu umumnya berkarakter Pancasilais. Karena dari sejarahnya, wilayah ini dibangun dengan laku spiritual berbasis nilai-nilai ketuhanan, perikemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan. Warga masyarakat sudah sejak dulu hidup harmonis di tengah keberagaman.

Maka jangan heran jika keluarga-keluarga di Banguntapan sejak awal menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak dan anggota keluarga lainnya untuk bersikap tepo seliro, unggah ungguh, sopan santun, rukun, rembukan atau musyawarah, dan suka bersedekah. Itu semua sebenarnya implementasi dari nilai-nilai Pancasila.

Baca Juga:  Membuat Wayang dengan Karton Bekas

Panewu Banguntapan I Nyoman Gunarsa menjelaskan wilayah Kapanewon Banguntapan seperti Indonesia mini. Warganya dari berbagai suku, agama, ras, dan golongan. Mereka hidup rukun, harmonis, saling membantu, gotong royong, dan bermusyawarah jika ada masalah yang perlu dipecahkan atau dicari solusi.

Bahkan di Banguntapan, ada sebuah padukuhan yang warganya hidup harmonis dalam keberagaman, toleran, dan saling menghormati antar umat beragama. Di kampung itu terbangun beberapa tempat ibadah, ada masjid, gereja, dan pura. “Padukuhan Plumbon Banguntapan layak dijadikan percontohan Kampung Pancasila,” tegas I Nyoman Gunarsa.

Sebagai narasumber terakhir, Sihono HT, mengajak peserta Sinau Pancasila untuk berkarya yang bernilai Pancasila. Sinau Pancasila jangan hanya berhenti pada belajar saja, tetapi perlu dilanjutkan dengan berkarya dan berbagi. Banyak kejadian dan fakta bernilai Pancasila di sekitar tempat tinggal yang bisa dijadikan materi karya jurnalistik bernilai Pancasila.

Pendiri media siber Tunggal.co (Berbeda Tetap Satu) ini menjelaskan, apa yang diungkapkan beberapa peserta Sinau Pancasila, layak untuk dijadikan materi pembuatan karya jurnalistik. Seperti saat peringatan Paskah di Gereja Pringgolayan yang menjaga parkir itu umat Islam dan saat Idul Adha penyembelihan hewan kurban, dagingnya dibagikan juga kepada umat non Muslim.

Baca Juga:  Berolah Raga dan Berolah Rasa bersama Selintang

“Fakta yang bernilai Pancasila itu sangat layak menjadi materi untuk pembuatan berita, foto, maupun video,” jelas Sihono HT. Hasilnya diupload atau dibagikan ke masyarakat luas melalui berbagai platform media, bisa melalui media pers atau media sosial, seperti Whatsapp, Instagram, YouTube, TikTok, maupun lainnya. (Ilyasi)

Tinggalkan Komentar